Saya hitung ulang biaya tanam padi 1 hektar.
Hasilnya? 40% uang kita habis cuma untuk 2 hal: pupuk dan pestisida. Dan yang bikin saya geleng kepala setelah 20 tahun di agrokimia.
Sebagian besar itu sebenarnya tidak perlu dibeli.
🧵👇
Dua hari lalu mengobrol panjang dengan seorang pengusaha, tionghoa asal Kalimantan. Salah satu bahan obrolan kami perihal sistem perpajakan. Obrolan yang menarik karena sebagai orang Padang, saya merasa relate sekali. Saya jadikan thread ya. Monggo disimak.
Pernahkan Bapak/Ibu memandu anak untuk mengerjakan soal matematika/fisika dengan metode *diketahui*, *ditanya*, *jawab*?
Jika ya, pertahankan! Karena dengan metode seperti itu, anak menggunakan dasar *berpikir komputasional* atau *computational thinking/CT*.
CT adalah cara berpikir (a way of thinking) yang biasa digunakan oleh ilmuwan komputer untuk memecahkan masalah.
Mari kita bedah coretan pada gambar terlampir berdasarkan 4 fondasi utama Computational Thinking:
1. Dekomposisi (Decomposition)
Siswa tidak mencoba memecahkan masalah besar (menghitung volume bangun gabungan yang kompleks) sekaligus. Ia memecah masalah tersebut menjadi beberapa sub-masalah yang lebih kecil dan mudah dikelola:
Sub-masalah 1: Mencari tinggi limas yang belum diketahui.
Sub-masalah 2: Menghitung volume bagian limas.
Sub-masalah 3: Menghitung volume bagian kubus.
Sub-masalah 4: Menjumlahkan semuanya.
2. Pengenalan Pola (Pattern Recognition)
Siswa mengenali pola-pola yang ada di dalam gambar tersebut:
Ia menyadari bahwa bangun tersebut memiliki bentuk simetris, yaitu limas di atas dan di bawah ukurannya sama. Oleh karena itu, ia menerapkan pengenalan pola dengan tidak menghitung limas satu per satu, melainkan langsung menggunakan pengali dua V 2 limas = 2 x (...).
Ia juga mengenali pola segitiga siku-siku di dalam potongan limas, sehingga memicunya untuk menggunakan Teorema Pythagoras untuk mencari tinggi
3. Abstraksi (Abstraction)
Siswa menyaring informasi yang tidak penting dan hanya mengambil data yang esensial. Ia menerjemahkan gambar visual 3D tersebut ke dalam bentuk variabel-variabel inti yang dibutuhkan untuk perhitungan, yaitu tinggi segitiga, alas limas, dan rusuk kubus. Ia mengabaikan detail lain dari gambar dan hanya fokus pada model geometrisnya.
4. Berpikir Algoritmik (Algorithmic Thinking)
Siswa menyusun langkah-langkah penyelesaian (algoritma) yang sangat terstruktur, jelas, dan berurutan dari atas ke bawah.
Inisialisasi variabel: Menuliskan diketahui dan ditanya.
Proses 1: Cari dulu tinggi limas (proses ini seperti memanggil fungsi pembantu/ helper function sebelum masuk ke fungsi utama).
Proses 2: Menghitung Volume limas.
Proses 3: Menghitung Volume kubus.
Output: Menjumlahkan hasil proses 2 dan 3 ke dalam Volume Gabungan.
*Konsep Debugging*
Sebagai pendidik, gambar ini juga memberikan momen untuk mengajarkan konsep CT kelima, yaitu Debugging.
Jika diperhatikan pada bagian Volume kubus, kerangka algoritmanya sudah sangat benar, tetapi ada "logical error" atau bug pada rumus yang dimasukkan. Siswa menggunakan rumus Luas Permukaan Kubus, padahal yang dibutuhkan adalah rumus Volume.
Menganalisis jawaban ini di kelas bisa melatih anak-anak untuk tidak hanya peduli pada "hasil akhir", tetapi juga melacak bug baris-demi-baris pada sebuah sistem yang secara alur sudah logis, namun outputnya keliru.
TW; Darah, kekerasan | Dari banyak jepretan Stanmeyer di Indonesia, foto-foto ini mungkin yang paling mengacaukan perasaan.
Detik-detik pembunuhan Joaquim Bernardino Guterres, seorang pendukung kemerdekaan Timor Leste, oleh anggota Brimob di jalanan kota Dili, 26 Agustus 1999 🥀
Guru Honorer dan siswa yang sekolahnya ga dapat dana revitalisasi menangis lihat gaji pegawai MBG yang tugasnya hanya kasih makan..
Syukur kalau Bergizi, yang ada malah beracun, tidak layak, dan dikorupsi
Kalau @pejabrut rangkap jabatan jadi dewan komisaris BUMD boleh
Kalau Guru rangkap jabatan yang upahnya rendah lah
Tuh seperti Guru PAUD yang otomatis jadi kader posyandu
Kondisi guru PPPK Paruh Waktu (PW) akan menjadi bom waktu. Dari yang di rumahkan, mendapatkan gaji tidak manusiawi dan tidak ada kejelasan kesejahteraan lainnya.
Bagaimana daerah temen-temen? lampirkan berita daerah masing2 di kolom komentar. Jika tidak aman, DM saja.
Kalau pake definisi school meals (world bank), semestinya MBG itu mendukung proses belajar. lah ini libur, tapi MBG tetep jalan.
Kesimpulannya, memang bukan untuk pendidikan dan pembelajaran. Lalu untuk siapa?
Ketika MBG dikirimkan langsung ke rumah siswa masing-masing, maka MBG sebagai daya dukung pendidikan menjadi hilang. Sebab tidak ada fungsi pendidikan disana. MBG disini seperti bansos, yaitu menjalankan fungsi kesejahteraan sosial.
Jika ini dipaksakan, maka sekolah akan dipaksa terlibat. Apalagi setelah SE soal PJ MBG. Guru yang sudah liburan harus balik kanan untuk memuluskan pengantaran MBG.
Sangat tidak setimpal.
Jujur, beberapa kali pernah mau ke warung/kafe tertentu lalu mikir, “Duh, ga bawa cash sama sekali. Ga ada duit buat parkir. Ga jadi deh.”
Segitu ngaruhnya tukang parkir liar ke bisnis orang lain.
Salam beban negara,
Halo bu Sri Mulyani, saya mau tanya. Dalam Rincian Anggaran Pendidikan tahun 2025, Lampiran VI PP No.201/2024, Kementerian Keuangan mengambil 3,9 Triliun dari APBN Pendidikan.
Apakah ini membebani negara? Apakah dalam RAPBN 2026, Kemenkeu akan membebani anggaran pendidikan lagi?
Salam 🙏
Jika 3 juta rupiah diberikan pada sekitar 600 ribu guru penerima BSU dan insentif, itu hanya 7% dari anggaran MBG, yang 335 Triliun. Jika MBG bisa mengambil 44,2 % dari anggaran pendidikan, mengapa kesejahteraan guru yang 7% dari MBG tidak bisa diberikan?
Cekidot.
Ngusir tikus ini gk bisa sporadis, harus komprehensif.
1. Hilangkan habitatnya/sarang nya.
2. Basmi tikusnya.
3. Cegah koloni tikus baru datang.
Repot dan butuh waktu, tp Worthy every penny.
Yg minnov lakukan berdasarkan pengalaman di rumah.
A THREADS
Singapore Airlines harus diakui keren. Di bawah Goh Choon Phong mampu mencatat laba tahunan hingga 35 triliun.
Jadinya, karyawannya pun diganjar bonus hampir setara delapan kali gaji.
Serdawa, bukan sendawa
Seriawan, bukan sariawan
Saksama, bukan seksama
Mengubah, bukan merubah
Memengaruhi, bukan mempengaruhi
Kerja sama, bukan kerjasama
Silakan, bukan silahkan
Risiko, bukan resiko
Analisis, bukan analisa
Napas, bukan nafas
Embus, bukan hembus
Percayalah
Berapapun take home pay Guru
5%-15% bahkan bisa 50% diwaktu tertentu akan terpakai untuk pendidikan kompetensi
10%-20% kan terpakai untuk dana sosial
10%-30% akan terpakai untuk urusan kepegawaian