Nih liat terutama orang² yang masih tone deaf sambil bilang "ahelah kann yang naik Pertamax, bukan Pertalite" sama "harga BBM kita masih jauh lebih murah dibanding negara lain"
Melek matamu 🤌🏼
Kalian sadar gk ?
banyak daerah yg udah mulai demo tapi gk disiarkan media
Daerah yg sudah mulai Demo:
- Jakarta (Cikini Raya & Badan Gizi Nasional)
- Bandung (DPRD Jabar)
- Medan (Lapangan Merdeka)
- Kendari (Bundaran Tank)
- Semarang
Katanya mulai merembet ke Sulawesi & Sumatera juga 💀
Sounds fun if a group of masked teenagers and a cat suddenly appeared on a giant billboard in Jakarta and said:
"Hello, Prabowo Subianto. It's time for you to stop MBG, or we'll expose the secrets you've been hiding all this time. We will change your heart tonight!"
🎭
Kita masih upacara
Kita masih menyanyikan lagu kebangsaan
Kita masih pakai lambang-lambang negara
Gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini
Tetapi di negara lain, mereka sudah bikin kajian-kajian di mana
REPUBLIK INDONESIA SUDAH DINYATAKAN TIDAK ADA LAGI TAHUN 2030.
BUNG!
Mereka ramalkan KITA INI BUBAR.
Elite kita ini menganggap bahwa 80% tanah seluruh negara dikuasai 1% rakyat kita, nggak apa-apa.
Bahwa hampir seluruh aset dikuasai 1%, nggak apa-apa.
Bahwa sebagian besar kekayaan kita diambil ke luar negeri, tidak tinggal di Indonesia, tidak apa-apa.
Ini yang merusak bangsa kita, Saudara-saudara sekalian.
- Prabowo Subianto, 2018
Gue heran deh kok masih aja ada orang yang bilang “Pertamax naik ga masalah, kan yang pake juga orang2 mampu”
Entah mereka buzzer atau emang tolol alami.
Yang jadi masalah itu EFEK DOMINO-nya, bukan cuma perkara harga naik 3ribu.
Ini efek domino yang akan terjadi dari kenaikan per hari ini:
1. Migrasi massal ke BBM lebih murah. Harga Pertamax naik → orang yang biasa pakai yang “premium” (kelas menengah atas) langsung switch ke Pertalite yang lebih murah. Hasilnya: permintaan Pertalite meledak. Padahal Pertalite kan kuotanya terbatas (subsidi), jadi stok di SPBU cepet habis.
2. Pertalite langka + antrean panjang. Antre Pertalite di SPBU jadi tambah rame. Yang gak mau antri berjam-jam atau gak kebagian akhirnya terpaksa isi Pertamax (yang lebih mahal).
3. Biaya logistik & transportasi naik Truk, angkot, ojek online, pengiriman barang semua naik ongkosnya (meski mereka pakai solar/ Pertalite, tapi efek rantai supply-nya ikut naik karena driver dan perusahaan logistik juga kena imbas). Akhirnya harga barang di pasar naik semua.
4. Inflasi & harga sembako naik Efek dari nomor 3: dari meja makan sampai warung kecil. Harga beras, sayur, mie instan, bahkan jasa ojek naik. UMKM yang paling kena getahnya. Modal produksi naik, daya beli masyarakat turun, penjualan melambat.
5. Black market & penyelundupan Pertalite yang langka sering muncul di pedagang eceran dengan harga lebih mahal (kadang sama mahalnya Pertamax). Subsidi yang seharusnya buat rakyat kecil malah bocor.
6. Beban subsidi pemerintah membengkak. Demand Pertalite naik drastis → pemerintah/Pertamina harus nambah pasokan subsidi. Kalau gak diatur, APBN makin tekor, bisa-bisa akhirnya Pertalite juga naik atau dibatasi lebih ketat (misalnya pakai MyPertamina, plat nomor ganjil-genap, dll).
7. Efek jangka panjang ke ekonomi & masyarakat
- Driver ojol & angkot kurangi shift → pendapatan turun.
- Petani & nelayan (yang pakai solar/Pertalite) ongkos produksi naik → harga pangan naik lagi.
- Inflasi umum naik → Bank Indonesia mungkin naikin suku bunga → pinjaman mahal → investasi melambat.
Intinya, yang tadinya “cuma naik buat orang berduit” malah bikin semua orang kena getahnya lewat rantai yang panjang.
Nih Dadan, gara-gara anggaran pendidikan diambil MBG, masih menyisakan 3,78 juta anak-anak tidak sekolah. Ini bukan angka semata, ini anak-anak yang hilang hak bersekolahnya. Anggaran pendidikan harusnya bisa menyekolahkan mereka.