APA KABARMU, PAK OJOL?
Lo bangunin gue subuh. Lo anterin gue ke stasiun. Lo kirim makan siang ke kantor gue. Lo temenin gue pulang malem di tengah hujan. Lo anterin paket gue
Tapi lo kerja berapa jam?
Dapat berapa?
Kalau kecelakaan, siapa yang nanggung?
Kalau akun lo disuspend tiba2 , lo lapor ke mana?
Ini Utas buat kita bicara jujur soal kondisi lo , dengan data, bukan basa-basi.
@ardynshufi Ai kata aku mah, coach. Yg protes teh kebanyakan mahasiswa masa kini yang emang semuanya udah diakomodasi ku ojol. Dari makan, transportasi dll.
Mahasiswa jaman kami mah kan, mun lapar nya neangan warteg terdekat. Mau pergi agak jauh pake motor temen. Jeung sajabana.
Cara Bandung Mewariskan Persib
Persib resmi menjuarai liga untuk ketiga kali secara beruntun sekaligus menjadi gelar liga kelima dalam sejarah Persib. Sebuah pencapaian yang membuat Bandung kembali tenggelam dalam lautan biru.
Namun video yang saya unggah ini sebenarnya bukan hanya tentang pesta juara.
Video ini adalah tangkapan kecil tentang bagaimana, dalam satu hari, kota Bandung sedang bekerja mewariskan kebesaran Persib.
Bagi banyak kota, klub sepakbola hanyalah hiburan akhir pekan. Datang ke stadion, menonton pertandingan, lalu pulang. Namun di Bandung, Persib Bandung tidak pernah sesederhana itu. Persib hidup sebagai identitas, sebagai cerita keluarga, sebagai sesuatu yang diwariskan bahkan sebelum seorang anak benar-benar memahami apa arti sepak bola.
Dan malam ini, warisan itu kembali dirayakan.
Di setiap sudut jalan, terlihat orang tua yang membawa anak-anak mereka ikut merayakan. Ada yang digendong di pundak. Ada yang berdiri diapit ayah-ibunya di atas motor dengan jersey yang agak kebesaran. Ada yang tertidur di pelukan ibunya di tengah suara klakson, flare, petasan, kembang api, dan nyanyian bobotoh yang tidak berhenti sejak sore.
Ada juga orang tua yang sejak siang sudah mengajak anaknya nobar di pinggir jalan, di warung, di layar besar kota, atau datang langsung ke stadion. Membiarkan mereka menikmati atmosfer sejak matahari masih tepat di atas kepala hingga akhirnya tenggelam bersama pesta kemenangan Persib.
Bahkan banyak orang tua yang rela berdiri atau duduk berjam-jam di pinggir jalan bersama anak-anak mereka hanya untuk menikmati suasana. Menunggu rombongan konvoi lewat. Menikmati euforia kota. Membiarkan anak mereka melihat sendiri seperti apa rasanya Bandung ketika Persib juara.
Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar tidak masuk akal. Anak kecil berada di luar rumah hingga larut malam. Jalanan penuh asap dan keramaian. Banyak risiko. Membahayakan.
Namun bagi banyak keluarga di Bandung, ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar perayaan malam itu.
Ini tentang warisan. Tentang bagaimana kecintaan terhadap Persib tidak diajarkan lewat kata-kata, melainkan lewat pengalaman. Lewat suasana. Lewat memori.
Anak usia tiga atau empat tahun mungkin belum benar-benar mengerti apa arti juara. Mereka mungkin hanya bengong melihat lautan manusia berpakaian biru. Mereka mungkin hanya melamun saat ayah-ibunya berada dalam situasi tegang menunggu hasil akhir. Bahkan mungkin mereka tidak akan mengingat detail malam ini ketika dewasa nanti.
Namun memori tidak selalu bekerja lewat logika.
Ada hal-hal yang diam-diam tinggal di dalam diri seseorang. Bau asap flare. Suara ribuan orang bernyanyi bersama. Wajah ayahnya yang begitu bahagia di malam Persib mencetak sejarah. Jalanan Bandung yang terasa hidup sampai dini hari. Dan mungkin juga momen ketika dirinya duduk kecil di pinggir jalan bersama keluarganya, menunggu konvoi lewat selama berjam-jam.
Semua itu perlahan berubah menjadi core memory.
Dan tanpa disadari, di momen-momen seperti inilah Persib diwariskan.
Bukan lewat teori. Bukan lewat paksaan. Tapi lewat rasa memiliki yang tumbuh perlahan sejak kecil.
Lalu suatu hari nanti, anak kecil yang malam ini hanya duduk diam di atas motor saat konvoi three-peat Persib, akan tumbuh dewasa. Dan mungkin, ia akan melakukan hal yang sama kepada anaknya kelak.
Karena di Bandung, mendukung Persib bukan sekadar kebiasaan menonton sepakbola. Ia diwariskan.
Dari jalanan ke jalanan berikutnya. Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dan pada 23 Mei 2026, sekali lagi, Persib sedang mencetak generasi-generasi baru yang akan terus mencintainya tak lekang oleh waktu.
Ada konsep berbagi ruang dan waktu dalam kehidupan sosial manusia. Memang, dalam kondisi ideal ada cara2 perayaan yang lebih baik. Tapi yg mereka bisa saat ini ya hanya mengambil sedikit dari kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, kamu bisa gofood setiap hari, mereka belum tentu. Mari berbagi jatah kemenangan.
They say most Persib fans are just low-income, uneducated cuanki sellers. We embrace it because this club belongs to everyone
They say the biggest clubs should never have been relegated. We embrace it because the journey back to the top means so much more when you’ve started from the bottom
Three-peats, though? That’s something they’ll never be able to say