nasihat ustaz maulana buat yang punya masalah:
- apapun masalahnya, solusinya tahajud, minimal dua rakaat, sebagai laporan ke allah
- selalu jaga wudu karena orang yang berwudu didampingi malaikat
- amalkan tujuh hal: muhasabah, doa, ibadah, puasa, sedekah, silaturahmi, dan ingat mati
- ingat mati itu nasihat terbaik, siapa yang ingat mati akan hati-hati dalam hidupnya
Gila keren banget ga sih ternyata pada masanya Hindia Belanda (Batavia) menjadi pelopor trem di Asia, bahkan dalam beberapa aspek lebih maju daripada negeri Belanda sendiri, dimana Batavia memiliki trem 6 tahun lebih awal daripada Amsterdam.
Batavia
Trem kuda: 1869
Trem listrik: 10 April 1899
Amsterdam
Trem kuda: 1875
Trem listrik: 14 Agustus 1900
Dan kalian tau yang di bawah foto area mana?
Yap daerah Harmoni (Harmonieplein). Coy!
ternyata dari dulu harmoni juga sudah menjadi Trunsit Hub khusunya moda transportasi Tram.
ada 5 jalur yang melayani rute menuju :
🏛 Batavia/Kota (Stadhuis, Glodok, Pelabuhan)
🚉 Senen
🌳 Menteng
🚆 Meester Cornelis (Jatinegara)
🌴 Kampung Melayu
🏘 Tanah Abang
🚢 Koridor menuju Tanjung Priok
sc: commons.wikimedia & lostjakarta
🚨 Peter Drury Breaks Silence: Questionable Calls, Cancelled Goals & FIFA Favouritism – Has Football Become a Scripted Show?
🗣Peter Drury
“After years spent analyzing football matches and commentating on the game at the highest level, I can honestly say that what we witnessed today between Argentina and Egypt was unlike anything I’ve seen in my entire career.
How that was awarded as a penalty remains a complete mystery. The contact, if any, looked minimal at best, yet the decision stood. It’s becoming harder and harder to watch the sport without feeling that the beautiful game is slowly turning into something of a joke for millions of fans around the world. The officiating has been strangely “clean” almost suspiciously so yet it leaves serious questions about consistency and impartiality.
Then there was Egypt’s goal, ruled out for reasons that still aren’t entirely clear. Why was it disallowed? In the same match, when Argentina scored their decisive goal, there appeared to be a clear foul in the build-up that neither the referee nor VAR chose to review properly. These are the moments that make supporters feel the outcome is no longer decided purely on the pitch.
There’s a growing narrative out there and it’s hard to ignore that Lionel Messi is being protected as FIFA’s golden boy. With Cristiano Ronaldo no longer part of the international scene, some believe the powers that be are determined to keep Messi’s story alive for as long as possible because his presence still drives massive global interest and viewing figures. Whether that’s true or not, the pattern of decisions in key moments only fuels that conversation.
passion, and the unpredictable nature of who wins on any given day. But when decisions repeatedly go one way, when valid goals are chalked off and questionable ones are given, and when VAR seems to miss obvious incidents, it starts to feel like something else is at play. The game deserves better. Fans deserve transparency, consistency, and the simple belief that the result is earned not influenced.
These are the moments that test our love for the sport. And right now, that love is being stretched thin.“
@ainurohman Setuju. Gol kedua Mesir yang dicetak Zico harusnya ga dianulir.
Soft kontak & jarak ke gawang Argentina sangat jauh, mereka punya banyak kesempatan buat hadang bola.
Wajar Mesir merasa dirugikan.
https://t.co/eULpCr0io5
Menganulir Gol Mesir ke Gawang Argentina adalah Keputusan yang Salah
Sebuah analisis dari pakar perwasitan dan mantan wasit Premier League, Graham Scott via The Athletic.
✅Keputusan menganulir gol Mesir adl keputusan yang salah. Benturan Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez dlm proses terjadinya gol Ziko pada menit ke-67 merupakan kontak fisik yang wajar dan seharusnya dinilai seperti itu, alih-alih dianggap sbg sebuah pelanggaran.
✅Insiden itu juga terjadi hampir 100 yard (sekitar 91 meter) dari gawang, dan Argentina punya setiap kesempatan untuk merapatkan barisan dan bertahan, tidak heran jika Mesir merasa dirugikan karena gol tersebut akhirnya dianulir setelah peninjauan VAR.
✅Jika kita melihat insiden tersebut, memang ada sedikit kontak, baik kaki-ke-kaki maupun tarikan baju sekilas, tetapi tidak ada pelanggaran yang cukup berat di sini hingga layak membuat VAR mengintervensi untuk membatalkan gol. (GAMBAR 1)
✅Bagi Scott, ini adalah intervensi yg sangat mencengangkan dan bentuk penyalahgunaan wewenang yang masif dari tugas VAR. Seharusnya, VAR hanya mengoreksi kesalahan yang jelas dan nyata (clear and obvious errors).
✅VAR secara rutin memeriksa fase serangan sebelum terjadinya setiap gol dan dalam kasus ini, peninjauan akan ditarik mundur hingga momen perebutan bola (turnover of possession).
��Agar sebuah gol dapat dibatalkan, harus ada pelanggaran yang jelas, dan hal itu tidak ada di sini. Sebagai aturan umum yang praktis, semakin lama waktu dan semakin jauh jarak antara sebuah benturan dengan terjadinya gol, maka dugaan pelanggaran tersebut harus semakin serius.
Namun, tidak ada pelanggaran yang berarti di sini, dan tidak ada hal yang mendekati ambang batas bagi VAR untuk ikut campur.
✅Dengan logika yang sama, klaim penalti Mesir atas dugaan pelanggaran terhadap Mohamed Salah sesaat sebelum gol kemenangan Argentina, sudah tepat untuk diabaikan. Ada sedikit kontak kecil pada sepatunya, tetapi tidak cukup kuat untuk membuat Salah terjatuh. Itu bukan sebuah pelanggaran.
Kedisiplinan Portugal selama 90 menit diruntuhkan Mikel Merino 90+1', saat hampir semua pemain meyakini akan melewati extratime.
Take freekick quickly
Identifikasi space
Clinical Finishing
Selebrasi putari corner flag 🌪
Penalty save Bono tadi ga orthodox sih dan cukup jarang terjadi. Dia nebak bener bukan hanya arah tendangan tp tembakannya akan ke atas gawang di saat kiper2 lain biasanya menjatuhkan badan low down untuk berupaya menggapai pojok gawang. Great goalkeeping dan riset penendang.
Lo masih inget video 100 anak sekolah lawan 3 pemain Timnas Jepang yang sempat viral beberapa tahun lalu?
Jelas video itu cuma konten hiburan. Tapi Michael Cox, seorang analis taktik yang nulis buat The Athletic, justru menjadikan video itu sebagai pembuka artikelnya jelang Jepang vs Brasil malam ini.
Alasannya? Karena menurut dia, video itu menggambarkan dengan sangat sederhana bagaimana Jepang menyerang sampai hari ini.
Yang dia bahas adalah kenapa secara taktik, Jepang mungkin merupakan salah satu lawan yang paling tidak diinginkan Brasil.
Di video itu, 100 anak tersebut melakukan satu kesalahan yang sama: semuanya mengejar bola. Begitu semua pemain berkumpul di satu sisi, tiga pemain Jepang tinggal memindahkan bola ke sisi seberangnya. Selalu ada ruang kosong. Selalu ada pemain yang bebas menerima umpan.
Menurut Michael Cox, prinsip itu masih jadi identitas Jepang sampai hari ini.
Mereka gak menyerang dengan cara memaksa menembus tengah atau asal mengirim crossing. Mereka lebih suka bikin pertahanan lawan bergeser terus, lalu dalam satu momen memindahkan permainan ke sisi sebaliknya.
Di situlah biasanya ada pemain Jepang yang datang tanpa kawalan.
Lalu kenapa Cox menghubungkannya dengan Brasil?
Karena menurut dia, titik lemah Brasil justru ada di posisi full-back. Marquinhos dan Gabriel tetap merupakan duet bek tengah yang sulit ditembus. Jadi kalau Jepang memaksa menyerang lewat tengah atau duel udara, kemungkinan besar mereka malah bermain sesuai keinginan Brasil.
Sebaliknya, Jepang justru akan berusaha menjauhkan bola dari Marquinhos dan Gabriel. Mereka akan terus menggeser pertahanan Brasil ke satu sisi, lalu mencari pemain bebas di sisi seberangnya. Dan menurut Michael Cox, itulah skenario yang paling berbahaya buat Brasil.
Pertanyaan yang dia tinggalkan juga menarik.
Kalau Jepang terus berhasil menciptakan pemain bebas di sisi jauh, siapa yang bakal menutup ruang itu? Apakah Casemiro harus turun membantu lini belakang? Apakah winger Brasil harus ikut menjaga? Atau Carlo Ancelotti sudah punya solusi lain?
Yang gue suka dari analisa Cox adalah dia gak sedang meramal hasil pertandingan. Dia cuma mengajak kita melihat laga ini dari sudut yang mungkin selama ini luput dari perhatian.
Dan kalau analisisnya tepat, Jepang mungkin bukan lawan yang paling bertabur bintang untuk Brasil. Tapi bisa jadi salah satu lawan yang paling merepotkan secara taktik.
Lo pribadi menjagokan siapa nanti malam?
#FeelEveryGoal | @toshibatv_id
Mereka Mengira Dia Sudah Habis. 🇳🇱
Beberapa tahun lalu, Brian Brobbey bukan hanya berjuang menghadapi lawan di lapangan, tetapi juga menghadapi masalah di luar lapangan.
Saat kariernya sedang menanjak bersama Ajax, namanya dikaitkan dengan kasus pemerasan yang berujung pada serangkaian aksi intimidasi. Ledakan, pembakaran kendaraan, hingga penembakan terhadap orang terdekatnya menjadi bagian dari masa-masa sulit yang harus ia lalui.
Di saat yang hampir bersamaan, performanya di lapangan mulai menurun. Setelah mencetak 18 gol liga dalam satu musim, Brobbey hanya mampu mencetak 4 gol pada musim berikutnya.
Dari luar, orang hanya melihat angka.
18 gol.
Lalu turun menjadi 4 gol.
Banyak yang menganggap ia hanya sedang mengalami musim yang buruk. Namun hanya sedikit yang mengetahui bahwa ada banyak hal yang terjadi di luar sepak bola pada periode tersebut.
Kariernya pun mulai dipertanyakan. Ajax tak lagi terasa sebagai tempat yang tepat untuk memulai kembali. Maka pada musim panas 2025, Brobbey mengambil keputusan besar: meninggalkan Belanda dan menerima tantangan baru bersama Sunderland.
Tak sedikit yang meragukan langkah itu. Ada yang menganggap Premier League akan menjadi tantangan yang terlalu berat baginya.
Namun Brobbey memilih menjawab semuanya di atas lapangan.
Sedikit demi sedikit, kepercayaan dirinya kembali. Gol demi gol mulai datang. Ia menjadi pemain penting Sunderland dan kembali menunjukkan kualitas yang pernah membuatnya dianggap sebagai salah satu striker paling menjanjikan di Belanda.
Performa itu membuat Ronald Koeman kembali meliriknya. Pintu timnas Belanda yang sempat tertutup akhirnya terbuka lagi.
Lalu tibalah Piala Dunia 2026.
Di panggung terbesar sepak bola dunia, Brian Brobbey kembali mengenakan seragam Oranje. Bukan sebagai pemain yang dibebani masa lalu, melainkan sebagai pemain yang berhasil melewatinya.
Dan ketika namanya muncul dua kali di papan skor, itu bukan sekadar gol.
Itu adalah simbol dari perjalanan panjang seorang pemain yang pernah diragukan, pernah terjatuh, tetapi memilih untuk bangkit.
Perjalanan Brobbey menuju malam itu tidaklah mudah. Ia pernah diragukan, performanya pernah menurun, dan kariernya sempat dipertanyakan.
Namun ia terus melangkah, hingga akhirnya kembali membuktikan dirinya di panggung terbesar.🧡🇳🇱⚽
Kerennya penampilan timnas Jepang di Piala Dunia kali ini sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan.
Ini adalah hasil dari filosofi besar JFA (PSSI-nya Jepang) yang diberi nama “Japan’s Way.”
€100 juta adalah jumlah uang yang banyak untuk transfer pemain, dan ini tidak cukup buat mendatangkan Yan Diomande.
Mahal? Iya. Apalagi untuk pemain yang cuma punya pengalaman main pro 1.5 musim.
Tapi menurut gw, dia tetap layak dikejar.
Kenapa begitu? Sebuah🧵
@strootsys Salah satu momen yang gue inget banget adalah ketika Portugal juara EURO 2016 itu Ronaldo cuma main sebentar di Final karena cedera. Selebihnya jd mentor aja teriak2 kasih instruksi dari pinggir lapangan. Hasilnya, mereka malah bisa unggul 1-0 berkat gol Eder di babak Extra Time
Ada yang sadar ngga match Iran vs Selandia Baru ini vibesnya sangat meriah untuk Iran?
Tiap mereka pegang bola, entah kenapa penonton terdengar meriah. Mereka seperti bermain di home bukan di USA. Puncaknya pas gol tadi, penonton terdengar sangat berisik.
Tadi sempat mikir mungkin karena momen bersejarah. Tepat setelah Iran perang melawan AS, timnas mereka tampil di AS di panggung tertinggi Piala Dunia.
Bendera besar mereka dikibarkan dan lagu kebangsaannya dinyanyikan di negara yang beberapa waktu lalu masih berperang dengan mereka.
Jadi mungkin banyak yang excited dengan match Iran, termasuk para diasporanya. Bahkan fans umum mungkin excited juga.
Menurut kalian gimana?
Finish ke-3 gapapa banget sih menurut GGB!
Sejatinya goals utama yg harus dikejar adalah lolos ke Piala Asia U-20 dan bisa lolos dari fase grup. Di level itulah kualitas generasi ini bakal benar-benar diuji.
Dari AFF kali ini, setidaknya udah mulai keliatan gameplay yang mau dibangun Coach Nova. Ada identitas permainan yang mulai terbentuk dan itu hal yang positif.
Catatan gue cuma satu, saat ketemu tim yang levelnya di atas atau minimal setara, Timnas masih perlu punya strategi alternatif. Jangan bergantung sama long ball dan lemparan ke dalam aja. Entah lewat build up lebih rapi, kombinasi half-space, atau variasi lain yg bikin lawan sulit nebak.
Rooster pemain jg ud lumayan oke. AFF ini cuma salah satu checkpoint. Ujian sesungguhnya ada di Kualifikasi Piala Asia U-20 nanti!
AYO BISA 🇮🇩
2 tembok pertahanan terakhir kita, sama-sama cleansheet bulan ini! 💪
🇮🇩 Emil Audero vs Oman
🇮🇩 Maarten Paes vs Mozambique
Yang penasaran berapa harga jersey kiper original KELME timnas 👇
Varian 1: https://t.co/5ygyiMLwfG
Varian 2: https://t.co/Nws7vAdb3m
Varian 3: https://t.co/2rW2QHo0ax
Varian 4: https://t.co/KRUhLMhRaj