Berbagi kebahagiaan itu boleh banget. Mau pamer juga hak. Tapi, perlu diingat, enggak semua orang senang dengan pencapaian kita; enggak semua orang mendoakan yang baik-baik
Kita sibuk beramai-ramai di medsos, memantau orang-orang berbuat salah. Sampai ketika mematikan hape, baru tersadar bahwa hidup sendiri juga masih banyak yang harus diperbaiki
Ada dua cara untuk menyamakan level. Kita yang naik, atau menyeret orang lain turun. Naik level memang sulit, itulah kenapa kebanyakan orang lebih memilih julit
Berterima kasih sama diri sendiri, yang udah babak belur dihajar kehidupan, tapi masih tetap berjuang. Tampil kuat dan ceria, meskipun sesekali nangis sendirian
Libur, tapi otak masih kerja keras. Healing, tapi hati belum juga sembuh. Haha-hehe di keramaian, tapi diam-diam merasa kesepian. Benci dibohongi, tapi sering menipu diri sendiri. Kita bukan pemain film, tapi jago sekali akting, ya
Kadang yang bikin merasa kesepian dan merasa kosong itu ketika lagi punya banyak cerita yang pengen dibagi, tapi nggak ada satupun yang bisa diajak berbagi.
Kenangan memang senjata yang kuat. Tapi kita mesti logis; mesti bisa membedakan antara kembali untuk memperbaiki kesalahan dengan kembali untuk mengulangi kesalahan
Kita sering menyepelekan ucapan “semangat” atau “jangan menyerah”. Padahal, bagi seseorang yang sedang di titik nadir, ucapan sederhana bisa sangat bermakna
.
Semangat, ya. Janji, besok harus masih ada