@baseconvo girl dia dokter 😭. perspektif yg dia pake tentu psikologi modern dan sains medis. sama seperti lo ga bisa berharap ustaz felix buat dukung LGBT, itu di luar kerangka ajaran yg dia yakini
Progresif bukan berarti tidak normal. Allah menciptakan sesuatu di dunia itu berpasangan. Ada lapar ada kenyang. Ada malam ada siang. Ada terang ada gelap. Ada laki ada wanita. Ada Mr P ada Mrs V.
Tinggal ikuti yang normal saja sulit. Kalau gak bisa ikuti cara hidup normal. Just keep Silent. Tdk usah paksa orang normal untuk menghormati pilihan yg tidak normal. Pindah saja ke Israel. Surganya kaum kalian.
yg muslim, sebaiknya jgn ikutan trend upload foto berdua dgn pasangan non mahrom pake caption “kakak kakak, ini namanya pacaran ya” “kakak kakak, ini namanya tunangan ya” dsb yaah🫶
bukan apa apa, itu bisa jd dosa. selain itu terhitungnya zina khalwat (berduaan dgn non mahrom), juga khawatir jd dosa jariyah kalo ada org lain yg ikutan begitu karena postingan kita 😭
kalopun masih gabisa ninggalin pacaran, bisa utk keep sendiri. at least, kita tidak mengumbar aib maksiat kita
have a nice day ol!!⛅️
gak setuju sama tulisan seorang penulis gak papa, gak setuju sama belief penulis juga gak papa, you do you. tapi kalo sampe mengajak mendzolimi penulisnya ketika punya pilihan untuk memberi krisar atau beralih ke bacaan lain ... idk
semoga orang2 yg menghalalkan membajak buku krn opini subjektif dan membuka jalan org lain untuk ikutan bajak buku juga, disadarin sebelum ntar di akhirat tingkahnya dihitung sebagai ajakan mencuri dan mendzolimi orang2 yang gak literally berbuat salah padamu
chill. bentrok dikit dg belief kamu lgsg menghalalkan agar tulisan penulis ybs boleh dibaca lewat bajakan? susah bener menghadapi orang2 YMB (yang maha benar) ... tapi yah, konsekuensi sosmed jadi tempat orang menuangkan pikiran yg sebenernya gak harus semua disharing.
chill. bentrok dikit dg belief kamu lgsg menghalalkan agar tulisan penulis ybs boleh dibaca lewat bajakan? susah bener menghadapi orang2 YMB (yang maha benar) ... tapi yah, konsekuensi sosmed jadi tempat orang menuangkan pikiran yg sebenernya gak harus semua disharing.
Justru menyedihkan ketika karya tidak memiliki pembaca yang mengkritik. Soalnya pembaca yang memberi kritik itu menaruh perhatian buat menilai baik-buruknya karya.
Konotasi kritik sebagai melulu komentar negatif/bentuk serangan menurutku yang seharusnya dibunuh.
Orang2 yg suka ngancem murtad atau ngancem berbuat maksiat ini kok bisa ya sepede itu? I mean, Allah gak rugi apapun mau dia maksiat atau murtad, justru yg rugi dirinya sendiri, kok bisa menganggap dirinya begitu berimpact dan sepenting itu?