Untuk sembuh dari semuanya kita harus belajar berteman dengan rasa sakit. Kadang dia jahat mengingatkan, tak jarang dia baik untuk memberi tau bahwa kita pernah berjuang.
Ada sesak yang mulai lega dan sembuh yang belum ku temui, sebuah kontradiksi yang sukar di laraskan. Semoga di kemudian hari kita bertemu dengan posisi kau bahagia dan aku yang masih memeluk luka.
Amir Sjarifuddin pernah menjabat Menteri Pertahanan/Keamanan Rakyat di tiga pemerintahan: Sjahrir I, Sjahrir II, dan Sjahrir III.
Saat di posisi itu, dia punya konsep yg menarik, yaitu tentara Rakyat. Menarik, orang kiri pernah menyumbang gagasan terkait hankamnas.
#sejarah
Tapi percuma lampiaskan rasa. Kita hanya akan saling membenarkan diri masing-masing. Hanya sedikit tak pecaya ternyata kini harus ku lanjutkan perjalanan tanpa tempat pulang lagi. 🥲
Ditengah riuhnya manusia, bisingnya kota dan ramainya isi kepala. Aku tak tau sedang apa aku disini. Diam dan tak merasakan apa-apa. Semuanya kau ambil dan yang tersisa hanya duniaku dahulu yang sepi dan hening.
Nda pernah pudar ta pe rasa percaya. Mar kalo so lepas kasiang kita mo kamana? Ngana tau kita nda ada tampa pulang to? kyapa lepas dang? So nda butuh kang? Makaseh neh for samua. Kita masih sama deng dulu, mar ngana so nda sama. 🥲
Kita hanya perlu waktu untuk sekedar menerima disaat tak ada penjelasan dan bersyukur saat semua telah terjadi. Kita masih manusia yang egois dengan rasa masing-masing. Kau tak akan memgerti apa yang kurasakan begitu juga sebaliknya. Karena kita masih manusia yang egois. ☺️
Luka dan kepedihan serta cemooh dari beberapa orang sedikit banyak menyadarkanku tentang semua ini. Mereka tak akan tau apa yang terjadi karena mereka bukan pemilik kesedihan, kegetiran dan cambukan dilema yang saban hari mengingatkan dengan riuh dalam isi kepala.
Hampir semua orang terutama kamu menganggap apa yang terjadi adalah sepenuhnya salahku. Tak ada bantahan dan tak juga ku mengelak. Semua orang bebas mengutuk. Cobalah sekali saja mencoba ada di posisiku, dari sana kalian akan sedikit objektif menilai.
Kini aku mulai mengerti betapa sebuah kekacauan sebelumnya, kegetiran dibalik keputusan dan pedih setelah semua terjadi akan menjadi sampah bagi mereka yang merasa paling tersakiti.
Maaf untuk semua kenyataan ini. Tapi kuyakin kau tau pasti ada alasannya. Ku sudah bertarung hebat dengan pikiranku, tanganku bergetar ingin menghubungimu. Tapi ku sadar aku hanya orang yang tak pantas. Sekali lagi maaf. Bahagialah cantik jika kau tak bahagia akupun demikian.