Hal itu lah yang melatar belakangi saya memuat cerita senja tadi di twet ini. Sembari mengandaikan serta merumuskan menjadi sagau pertanyaan, Bagaimana jika mBak-R..... merasakan???
Hypotesa saya -apapun rasanya penting keneng nggo ngancani beras sekwes semego-
---
EKSPERIMENTAL COOKING: Olah mBak-Yem
Lazimnya seorang lelaki lugu, saya terpantik membuka kulkas ibu. Walhasil terdapat beberapa bahan masak salah satunya ikatan daun bayam (bayem saunting). Dan diatas kulkas terdapat tepung beras sisa olahan sblmnya.
Rasa yang ada pada mBak-Yem ini dapat di narasikan; manis-gurih-renyah-lembut-sedikit pedas memanja lidah. Sontak saya hanya bilang pada ibu "radoyan po buk?". Seketika berkenan mengambil dan kemhdia saya tanyakan "piyee...?" "Atos!!!" sembari menyambung "wong tepung beras kok"
Judul terbuat kemudian dituliskan dengan hemat,cermat dan bersahaja. Hingga pada akhirnya mengahtarkan pada redaksi yang dapat menjadi cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Islah mode nglaras orang desa diera gempuran kosmopolitan?
Tabik
NGLARAS: Desa Sebagai Ruang Refleksi Kosmo-Estetis.
Senja di Jum'at wage menjelang Sabtu Kliwon, menjadi penanda waktu di bulan Rabiul Akhir 1449H. Pasalnya, Seorang lelaki (Bapak) dua anak satu istri tsb segera memerankan sebagai buruh tani pasca jam kerja "padat karya".
Setelah usai, kami segera bergegas pulang. Samlaj rumah, bapak mengambil pusaka estetisnya. Dj bawah pohon belimbaing beliau ninthing, dan menikmati anggungan kelangenan. Dengan sadar saya merecord sembari memberikan judul dukumentasi ini.
@chocolime___ Izin respon, "Pegangan" yg dimaksud perlu di highlight sebagai bagian dari kronik hidup. Mengingat simbah adalah bagian yang lebih dulu hidup dimasa lampau. Hal itu berkaitan dengan berbagai konteks historisnya. Mhn maaf sebelumnya dan semoga saha salah 🙏.
@amithuhu Oleh karenanya, menjadi birokrat tidak semata menjadi oranv yang kakubterhadao sistem namun juga tidak lentur oleh tekananan dan gidaan di dalamnya. Pada ahirnya itu hanya ulasan bavkgrund wayang yang mencoba dikelupas; "Pak... anak lanagmu iki mung wayang..."
"LITERASI, WUKIRSARI, & IMOGIRI"
Basa-basi kami terlau dini untuk di senjakan sembari menikmati es degan gula jawa. Diselipkan pula redaksi Kutowijoyo bertajuk "Pasar". Menghirup udara dan mendengar ranting dan daun yang terterpa angin Imogiri.
@amithuhu Hal itu menghatarkan pada sebuah kutipan "para birokrat yang baik, mustinya mencintai sastra" (Kuntowijiyo, 2000). Hal ini meyiratkan seyogyanya menjadi manusia yang ada dalam sistem hendak melebur dan sadar bahwa ia juga manusia dan musti memanisiakan manusia.