Tips bertahan hidup di Indonesia 2026 :
(edisi Juni, karena bulan depan mungkin nambah lagi)
1. Segera charge HP gak usah nunggu mau habis. Kita sering nggak tau kapan dapat giliran pemadaman 4-6 jam.
2. Segera isi bensin gak usah nunggu 1/4 tanki. Berita "antrian SPBU" / "kelangkaan BBM" mulai terdengar di mana2.
3. Stop pemborosan berkedok healing! Kayak : jajan di cafe2, beli kopi2 "kekinian" dsb. Utk saat ini pakai prinsip "yang penting bisa makan dulu!"
4. Kurangi pemakaian AC di rumah.
5. Sebisa mungkin jangan flexing harta di mana pun, khususnya medsos, biar nggak diincer petugas pajak.
6. Jalani side hustle secara konsisten agar bisa dapet pemasukan tambahan, kalo bisa side hustle-nya jangan yang gampang diincer pajak
7. Minimalkan beli sesuatu atau ikut event tertentu hanya karena FOMO. Fokus pada kebutuhan ketimbang keinginan/gengsi.
8. Nggak usah iri dan ngikutin standar hidup orang lain yang keliatan wah di medsos.
Pencapaian hidup itu beda-beda
"SIAP-SIAP BUKAN LAGI PEMADAMAN LISTRIK BERGILIR"
"JADI MENYALA BERGILIR"
Hal vital kalo PLN makin sering padam,
- Baterai HP menipis
- Sinyal ikut bermasalah
- Rumah jadi gerah
- Kehabisan cash tapi ATM mati
Ini beneran mode survival activated ya?
Dear, media.
Kurban itu perorangan. Jika Presiden menggunakan APBN untuk bagi-bagi sapi, maka itu bukan kurban. Itu program politik. Jadi jangan ditulis "kurban Prabowo" karena dananya dari pajak rakyat. Trims...
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
💚 pls buat kalian yg suka jastip mknn pls jgn cancel semau kalian, mbah kung ku nangis hariini dicancel org tbtb, pdhl itu uang terakhir kita mau cari tambahan buat beli obat asam urat mbah ti, tp tbtb dicancel skrg udh gapunya modal lg, bingung krn kita ga makan ini🥲
@txtdariiqrok فَوَرَبِّ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ إِنَّهُۥ لَحَقٌّۭ مِّثْلَ مَآ أَنَّكُمْ تَنطِقُونَ
Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.
(Az-Zariyat 51 : 23)
Berkata baik atau diam
@asawavy kalo wanita perempuan lg ngomel marah marah , laki cuma :
satu " diem"
kedua "Aku minta maaf"
ketiga "jajan yu" keluar yu
keempat baikan bila perlu jari kelingking saling bertemu
Pernah ketemu perempuan ini?
Yang kalau dilihat sekilas dia tuh kuat banget. Ga banyak minta, jarang ngeluh, selalu keliatan bisa ngurus semuanya sendiri.
Orang-orang tu sering bilang,
“Dia mah mandiri, aman kemana mana sendiri juga.”
Padahal gada yang benar-benar tau,
berapa banyak hal yang dia simpen sendirian. Dipendem takutnya, ditahan bingungnya, ditelen sendiri capeknya.
Bukan karena dia ga butuh siapa-siapa, tapi karena dia terlalu terbiasa jadi “kuat sendirian”.
Sampai kadang, dia sendiri gatau harus bersandar ke mana.
Jalan aja terus, walau kadang arah masih ga keliatan.
Berjuang terus, walaupun belum yakin dengan mimpinya.
Tapi tetap dipaksain, karna berenti rasanya lebih menakutkan.
Dan di balik semua itu, sebenarnya sederhana banget yang diharapkan...
Cuma pengen hidupnya nyaman dan ada satu momen kecil yang bikin mikir kalo,
“oh… ternyata gue juga boleh bahagia.”
Semoga,
Tuhan yang lebih tahu lelahnya dan pelan-pelan nuntun kalian ke arah yang tepat.
Ke tempat yang akhirnya terasa “pulang”.
Dan semoga suatu hari,
Kalian ga perlu kuat sendirian lgi🤍