Tau nggak sih lambang Liverpool yang ada di dada pemain itu?
Banyak orang menyebutnya Liver Bird.
Tapi yang menarik, di kota Liverpool sebenarnya ada dua Liver Bird yang sangat terkenal.
Mereka berdiri di atas Royal Liver Building sejak tahun 1911 dan namanya adalah:
Bella (Perempuan)
Bertie (Laki-laki)
Menurut legenda yang paling populer,
Bella menghadap ke Sungai Mersey dan Laut Irlandia.
Tugasnya menjaga para pelaut yang pergi berlayar dan memastikan mereka bisa pulang dengan selamat.
Sedangkan Bertie menghadap ke kota Liverpool.
Tugasnya menjaga keluarga yang menunggu para pelaut pulang ke rumah.
Tapi seperti semua legenda yang bagus, ceritanya ga berhenti di situ.
Ada cerita yang jauh lebih terkenal di Liverpool. Konon Bella dan Bertie sengaja dibuat saling membelakangi.
Karena jika suatu hari mereka saling berhadapan mereka akan jatuh cinta dan terbang bersama, yang menyebabkan Sungai Mersey meluap dan membanjiri seluruh kota. Itulah sebabnya patung-patung tersebut didesain saling membelakangi.
Yaha namanya, standar legenda mereka memang segitunya.
Makanya sampai hari ini kedua Liver Bird itu tetap berdiri di tempatnya.
Satu melihat ke laut.
Satu melihat ke kota.
Seolah menjaga Liverpool dari dua arah sekaligus.
Dan mungkin itu alasan kenapa banyak warga Liverpool sangat mencintai simbol ini.
Karena Liver Bird bukan sekadar logo klub.
Dia adalah simbol sebuah kota pelabuhan.
Kota yang selalu hidup di antara dua hal:
orang-orang yang pergi mengejar mimpi...
dan orang-orang yang menunggu mereka pulang. ❤
DETIK-DETIK BERTOBATNYA CASSIUS,
PRAJURIT YANG MENIKAM LAMBUNG YESUS
Sementara kekacauan dan kepanikan terjadi di Yerusalem, keheningan meraja sekeliling Kalvari. Khalayak ramai sekarang sudah tidak ada lagi; semuanya dicekam kepanikan.
Bunda Maria, Yohanes, Magdalena, Maria Kleopas dan Salome masih tinggal di situ. Sebagian berdiri dan yang lain duduk di hadapan Salib, berkerudung rapat dan menangis diam-diam.
Beberapa prajurit beristirahat di serambi yang mengelilingi bukit karang; Cassius menunggangi kudanya turun naik bukit.
Langit tampak gelap, segenap alam raya berselubung duka.
Enam prajurit pembantu segera muncul dengan membawa tangga, sekop, tali-temali dan alat pemukul dari besi yang besar untuk mematahkan kaki-kaki para penjahat guna mempercepat kematian mereka.
Ketika mereka menuju Salib Tuhan kita, para sahabat Yesus mundur beberapa langkah. Santa Perawan dicekam ketakutan kalau-kalau mereka masih hendak melampiaskan kekejian mereka pada Putranya dengan menista tubuh-Nya yang telah tak bernyawa.
Ketakutan Bunda Maria bukannya tanpa alasan, sebab ketika pertama-tama mereka menyandarkan tangga pada Salib, mereka mengatakan bahwa Yesus hanya berpura-pura mati. Namun, beberapa saat kemudian, ketika mendapati tubuh-Nya telah dingin dan kaku, mereka membiarkan-Nya dan memindahkan tangga-tangga mereka ke salib di mana kedua penyamun masih tergantung hidup.
Mereka mengambil alat pemukul besi dan mematahkan lengan kedua penyamun, di atas dan di bawah siku; sementara pada saat yang sama, seorang prajurit pembantu lainnya mematahkan kaki-kaki mereka, di atas dan di bawah lutut.
Gesmas meneriakkan seruan-seruan yang mengerikan, sebab itu algojo menghabisi nyawanya dengan tiga pukulan gada yang mematikan di dadanya. Dismas, si penjahat yang bertobat, mengerang dalam-dalam dan wafat: ia menjadi yang pertama di antara makhluk fana yang menikmati kebahagiaan bersatu dengan Penebus-nya.
Tali-temali kemudian dilepaskan, kedua mayat jatuh bergelimpangan ke atas tanah, para algojo menyeretnya ke sebuah rawa yang dalam, yang terletak antara Kalvari dan tembok kota, serta menguburkannya di sana.
Para prajurit pembantu masih tampak ragu apakah Yesus sungguh sudah mati. Kebrutalan yang mereka perlihatkan dalam mematahkan kaki-kaki para penyamun membuat para perempuan kudus menggigil ketakutan membayangkan kekejian yang akan mereka lampiaskan kepada tubuh Tuhan kita.
Tetapi Cassius, wakil kepala pasukan, seorang pemuda berusia sekitar duapuluh lima tahun, yang kedua mata julingnya dan sikapnya yang gugup seringkali menjadi bahan olok-olok rekan-rekannya, tiba-tiba diterangi rahmat Allah, ia diliputi rasa belas kasihan melihat kekejian sikap para prajurit dan dukacita pilu para perempuan kudus, karenanya ia memutuskan untuk melenyapkan rasa cemas para perempuan malang itu dengan membuktikan tanpa berdebat bahwa Yesus sungguh telah wafat.
Kebaikan hatinya mendorong Cassius bertindak demikian, tetapi tanpa disadari oleh dirinya, ia menggenapi suatu nubuat.
Cassius menyambar tombaknya dan bergegas menunggangi kudanya naik ke bukit karang di mana Salib dipancangkan, berhenti tepat di antara salib penyamun yang baik dan Salib Tuhan kita, mengayunkan tombak dengan kedua belah tangannya, menikamkan tombak dalam-dalam ke lambung kanan Yesus hingga ujung tombak menembusi hati Yesus dan muncul di sisi kiri.
Ketika Cassius mencabut tombaknya, dari lambung Yesus yang menganga memancarlah darah dan air, yang membasahi sekujur tubuh dan wajahnya. Pembasuhan ini mendatangkan buah-buah yang sama dengan buah-buah dari air Sakramen Baptis, yaitu: rahmat dan keselamatan yang saat itu juga masuk ke dalam jiwanya.
Ia meloncat dari kudanya, jatuh berlutut, menebah dadanya, dan memaklumkan dengan suara nyaring di hadapan semua yang hadir, sungguh Yesus adalah Allah.
Tujuh Sabda Terakhir Yesus
Tujuh Sabda Terakhir merupakan ucapan-ucapan Yesus yang dicatat secara terpisah oleh keempat penulis Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) selama kurang lebih enam jam Ia tergantung di kayu salib.
Dalam tradisi kristiani, rangkaian ucapan ini dianggap sebagai "Wasiat Terakhir" Sang Mesias yang merangkum seluruh misi kedatangan-Nya ke dunia.
1. "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34)
Di tengah siksaan fisik yang hebat, Yesus tidak mengeluarkan kutuk dari mulut-Nya, tetapi Ia menyatakan permohonan ampun bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya dan Ia menunjukkan kasih yang melampaui logika manusia.
2. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Lukas 23:43)
Sabda ini ditujukan kepada salah satu penjahat yang disalibkan di samping-Nya yang menunjukkan penyesalan. Yesus memberikan harapan bahwa keselamatan tersedia bagi siapa saja yang percaya, bahkan di detik terakhir hidupnya.
3. "Ibu, inilah anakmu!" dan "Inilah ibumu!" (Yohanes 19:26-27)
Meski dalam kondisi sekarat, Yesus memastikan Ibunya (Maria) akan dijaga oleh murid yang dikasihi-Nya (Yohanes). Yesus menunjukkan tanggung jawab kemanusiaan dan kasih seorang anak.
4. "Eli, Eli, lama sabakhtani?" (Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?) (Matius 27:46)
Yesus dalam keadaan amat tersiksa secara fisik harus merasakan perpisahan dari Bapa secara batin karena Ia memikul seluruh dosa umat manusia.
5. "Aku haus!" (Yohanes 19:28)
Ucapan ini menegaskan sisi kemanusiaan Yesus yang nyata. Ia merasakan haus fisik yang luar biasa, sekaligus menggenapi nubuat yang tertulis dalam Kitab Suci.
6. "Sudah selesai." (Yohanes 19:30)
Ia tidak menyatakan seruan kekalahan, melainkan deklarasi kemenangan. Yesus memandang bahwa misi penebusan dosa umat manusia dan seluruh tugas yang diberikan Bapa kepada-Nya telah tuntas dikerjakan.
7. "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." (Lukas 23:46)
Frasa terakhir ini hendak menunjukkan ketaatan mutlak dan kepercayaan penuh kepada Allah Bapa. Yesus mati bukan karena nyawa-Nya direbut paksa. Ia menyerahkannya dengan sukarela.
Iman Katolik itu berat. Tapi bukan di bagian yang kebanyakan orang pikir.
Bagian paling beratnya adalah — kita diminta mengasihi orang yang sudah menyakiti kita. Yang berulang kali dan yang bahkan tidak merasa perlu minta maaf. Bukan ajaran yang lahir di tempat yang nyaman, tuntutan ini datang di momen paling ekstrem, seperti:
1. Yesus bicara soal mengasihi musuh di tengah rakyat yang dijajah dan diperas Roma setiap hari. "Kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44).
2. Petrus menyangkal Yesus tiga kali di malam yang paling krusial. Dan setelah kebangkitan, Yesus tidak membuka luka itu — Ia justru bertanya tiga kali: "Simon, apakah engkau mengasihi Aku?" (Yohanes 21:17). Bukan konfrontasi. Tapi pemulihan.
3. Stefanus, orang pertama yang mati karena imannya, dilempari batu sampai mati. Kata-kata terakhirnya bukan kutukan. "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka." (Kisah Para Rasul 7:60). Ia mendoakan orang yang membunuhnya.
Konteksnya beda-beda. Tapi tuntutannya sama persis: kita diminta mengampuni bukan setelah lukanya sembuh. Tapi di tengah-tengahnya. Banyak orang ninggalin iman bukan karena gak percaya Tuhan. Tapi justru karena percaya — dan gak sanggup dengan konsekuensinya. Dan itu sangat manusiawi.
Menyimpan kebencian itu diam-diam menghancurkan kita lebih dalam dari orang yang kita benci. Iman yang gak menuntut apa-apa bukan iman. Itu cuma kenyamanan yang dikasih label rohani. Yang diminta bukan mudah — tetap berbuat baik, tetap berbelas kasih, tetap percaya meski lukanya belum sembuh. Tapi mungkin justru di sana letak iman yang sesungguhnya. Setiap hari — kita memilih lagi. Dan itu cukup.
19 Maret, Katolik merayakan St Yosef, suami Maria. Injil tdk memuat kata-katanya. Dalam sunyi, dia berbuat, bertindak, bertanggungjawab, setia dan taat.
Umat Hindu rayakan Nyepi hari ini. Hening, pengendalian diri. Selamat teman-teman Hindu.
Indah sekali memaknai hening ini.
Ini persidangan yg paling lucu.
Awalnya dituduh memperkaya diri 809 M, ternyata cuma fitnah.
Sekarang dituduh lagi memperkaya diri 6 T, dan hasilnya sama aja cuma fitnah.😂👻🤣
Mirisnya lihatnya, penegak hukum kita ga bisa baca SPT.😭
BREAKING: Paus Leo KECAM HABIS-HABISAN pertemuan evangelikal pro-perang Trump di Oval Office! – “Perang bukanlah suci; hanya perdamaian yang suci!”
Paus Leo XIV, paus Amerika pertama, mengeluarkan kecaman keras dari Vatikan hari ini. Beliau langsung membantah para pemimpin Zionis Kristen yang berkumpul di Oval Office buat meletakkan tangan di Donald Trump dan “memberkati” perang ilegal melawan Iran.
Dalam seruan yang kuat, paus asal Chicago ini bilang: “Perang bukanlah suci; hanya perdamaian yang suci karena itu dikehendaki oleh Tuhan.”
Dia ulang kalimat itu berkali-kali biar makin ngena, dan nyebut konflik ini sebagai serangan yang “tidak bermoral”. Sudah ada korban jiwa tentara Amerika, warga sipil Iran (termasuk anak sekolah perempuan), dan ini berisiko bikin kawasan — bahkan dunia — masuk kekacauan lebih besar.
“Kalau dunia nggak peduli sama seruan ini, kami yakin Tuhan akan mendengar doa kami dan ratapan penderitaan yang begitu banyak orang,” kata Paus.
Beliau ajak pemimpin agama seluruh dunia ikut menyuarakan tuntutan perdamaian, kasih suara buat orang miskin yang nggak bisa bicara, para pengungsi, dan bumi yang hancur karena perang.
“Kita harus berani memilih perdamaian,” tegasnya. “Sudah cukup perang dengan tumpukan kematian yang menyedihkan, kehancuran, dan pengungsian massal.”
Paus bilang ini adalah krisis moral: pemerintah harus dengerin tangisan orang-orang yang menderita, bukan para fanatik yang nyucikan kekerasan pakai dalil agama.
Ini muncul pas tokoh-tokoh evangelikal (yang banyak terkait jaringan pendukung retorika “akhir zaman” Trump) berdoa di Oval Office sambil bilang serangan ke Iran itu kehendak Tuhan dan ramalan Alkitab. Kata-kata Paus langsung ngebantah narasi itu: nggak ada perang yang suci, apa pun bungkusnya.
Latar belakang Paus sebagai orang Amerika plus oposisinya yang konsisten ke kebijakan Trump bikin kritik ini makin berbobot. Sementara Trump cuek soal korban tentara (“begitulah adanya”) dan pejabat energinya ngaku ini perebutan minyak jangka panjang, Paus malah serukan de-eskalasi dan tantang dunia pilih perdamaian daripada pertumpahan darah.
Kalau bahkan Paus sudah bilang perang ini nggak bermoral dan pemberkatan itu salah arah, maka kekosongan moral dari sikap perang MAGA jadi kelihatan banget.
Abis denger podcastnya Ustadz Felix sama Ghofar Hilman, ada satu kalimat yang lumayan ngena. Intinya kira-kira gini:
Siksaan terberat dari Allah itu justru ketika Allah sudah nggak menegur seseorang lagi. Allah biarin aja orang itu, bahkan dibukain banyak kemudahan dan kenikmatan dunia. Akhirnya dia ngerasa hidupnya baik-baik aja, padahal terus berbuat dosa. Dosa pun makin numpuk tanpa dia sadar, sampai suatu saat Allah membalas semuanya sekaligus.
INI DIA TAMPANG PEMUDA YANG TABRAK MEMBABI BUTA KETIKA DI KEJAR OLEH KEPOLISIAN, IA MENABRAK SEJUMLAH KENDARAAN MOBIL DAN MOTOR OJOL DI JAKARTA PUSAT .
Pengendara mobil Low Cost Green Car (LCGC) berkendara secara ugal-ugalan dengan melawan arus dan menabrak sejumlah kendaraan di sekitarnya. Meski sudah ada petugas kepolisian, sopir tersebut tetap nekat membahayakan pengguna jalan di kawasan Pasar Baru Timur, Sawah Besar, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, pada Rabu (25/2).
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold Hutagalung menjelaskan, awalnya pengemudi bernama Hafiz Mahendra melawan arus karena hendak menghindari kemacetan. “Pengemudi melaju dari arah Ancol menuju Senen sekitar pukul 17.15 WIB. Karena macet, yang bersangkutan mengambil jalur berlawanan arah sehingga memicu kemarahan pengendara lain,” ujar Reynold.
Saat ini, pengemudi tersebut bersama kendaraannya telah diamankan oleh Unit Laka Lantas Polres Metro Jakarta Pusat untuk pemeriksaan lebih lanjut. Polisi juga melakukan tes urine guna memastikan kondisi pengemudi saat kejadian dan masih mendalami penyebab pasti insiden tersebut.
DARI PETANI ALPUKAT JADI BURONAN SATU DUNIA
Siapa itu El Mencho?
nih gue ceritain kaya anak SD yak
Meksiko baru saja menewaskan pria dengan bounty $15 juta di kepalanya — dan dalam hitungan jam, kartelnya langsung bikin 5 negara bagian kacau balau dan terbakar.
- Dia adalah El Mencho
- Nama aslinya Nemesio Oseguera Cervantes
- Lahir 17 Juli 1966 di Aguililla, Michoacán, Meksiko
- Tumbuh dalam kemiskinan
- Waktu remaja nyebrang ilegal ke AS
Pernah tinggal di San Francisco
-Umur 19 ditangkap karena barang curian dan bawa pistol isi peluru
- Dideportasi ke Meksiko, Balik lagi ke AS
- Tahun 1992 ditangkap lagi kasus narkoba
- Mengaku bersalah
- 3 tahun dipenjara di penjara federal AS
- Dideportasi lagi ke Meksiko
Balik ke Meksiko:
-Sempat gabung polisi lokal
- Sambil jadi petani alpukat
- Lalu masuk Kartel Milenio
- Kerja di bawah bos narkoba Nacho Coronel
- Coronel tewas tahun 2010
- El Mencho lihat ini sebagai peluang
Sekitar 2007–2009:
- Ikut mendirikan Kartel Jalisco New Generation (CJNG)
- Awalnya kerja sama dengan Kartel Sinaloa
- Lalu pecah dan perang lawan mereka
- Bangun CJNG jadi kartel dengan pertumbuhan paling cepat di Meksiko
- DEA bilang kekuatannya setara Kartel Sinaloa
- Jaringannya ada di 50 negara bagian AS
- Perdagangan fentanyl, sabu, kokain, heroin cuan miliaran dolar
Mereka juga:
- Pelopor pakai drone buat jatuhin bom
- Tanam ranjau darat
- Pernah nembak jatuh helikopter militer
- Tahun 2020 coba bunuh Kepala Polisi Mexico City pakai granat dan senapan di siang bolong
- Ada bounty $15 juta dari AS buat kepalanya.
- Bertahun-tahun gak ada foto terbaru dirinya.
- Bangun aura misterius.
- Nyaris gak bisa dilacak.
- Saudaranya “Tony Montana” ditangkap 2022
- Menantunya pura-pura mati buat sembunyi di California
- El Mencho bantu nutupin
- Februari 2026, pemerintahan Trump menetapkan CJNG sebagai organisasi teroris asing
Dia mulai dari anak miskin di Michoacán, jadi polisi, jadi petani alpukat, lalu jadi pemimpin salah satu kartel paling berbahaya di dunia.
Dan akhirnya mati di belakang helikopter militer
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah KASIH - 1 Kor 13:13
Kemuliaan kepada Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Puasa Katholik pada dasarnya:
1. Bagian dari pertobatan untuk memohon pengampunan atas dosa
2. Berlatih menahan diri agar dikuatkan dan tidak berdosa lagi
3. Empati terhadap sesama dan lebih banyak membantu, baik secara materi maupun dukungan moril & doa
4. Lebih menghayati iman dengan menolak kenikmatan dunia
Ada yang mau menambahkan?