Tiyo Ardianto, eks Ketua BEM UGM, kritik MBG, lalu terima ancaman penculikan, dikuntit orang tak dikenal, keluarganya diancam.
Sekarang dilaporkan ke polisi atas tuduhan hina presiden.
Yang melaporkan: Firdaus Oiwobo (gelarnya ga usah ditulis, pusing)
Orang yang sama yang:
a.naik ke atas meja di persidangan PN Jakarta Utara
b. dibekukan status advokatnya oleh Mahkamah Agung
c. dipecat dari Kongres Advokat Indonesia
Dengan lambang organisasi menampilkan granat, pisau, dan senapan.
Nama organisasinya: PEMBASMI.
Mahasiswa yang kritik kebijakan publik, dilaporkan hina presiden , oleh pengacara yang pernah dibekukan MA karena naik ke meja hakim.
Siapa sebetulnya yang perlu ditertibkan di sini?
- Ga bisa menangani bencana Sumatra? Dibelain.
- Keluar negeri terus? Dibelain.
- Kurban pakai APBN? Dibelain.
- Rupiah melemah? Dibelain.
- BBM naik? Dibelain.
- Harga kebutuhan pokok naik? Dibelain.
- PHK massal terjadi? Dibelain.
- Daya beli masyarakat turun? Dibelain.
- Utang negara bertambah? Dibelain.
- Pajak dinaikkan? Dibelain.
- Defisit melebar? Dibelain.
- IHSG anjlok? Dibelain.
- Lapangan kerja seret? Dibelain.
- Investasi mandek? Dibelain.
- Harga beras naik? Dibelain.
- Harga listrik naik? Dibelain.
- Program kontroversial jalan terus? Dibelain.
- Pejabat bikin pernyataan blunder? Dibelain.
- Kritik publik diabaikan? Dibelain.
- Demonstrasi mahasiswa diremehkan? Dibelain.
- Janji kampanye belum terealisasi? Dibelain.
- Menteri bermasalah dipertahankan? Dibelain.
- Kabinet gemuk? Dibelain.
- Anggaran membengkak? Dibelain.
- Kepercayaan pasar turun? Dibelain.
- Rating pemerintah turun? Dibelain.
- Apa pun yang terjadi: Dibelain.
Siapa pun yang mengkritik:
Disalahin.
Sesuci itu kah sosok yg pernah ada ISU HAM ini di mata kalian?
Jujur bingung banget
Negara mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Rupiah menguat, pasar merespons positif, koruptor mulai ditangkap, reshuffle disiapkan. Tapi masih ada yang ngotot demo 12 Juni.
Jadi sebenarnya yang dicari solusi atau memang ingin bikin gaduh?
Nah ini contoh twit buzzer ya ges, biasanya harganya 1 twit begini 3000-5000 rupiah.
Kalau ditawarin begini, jangan mau ya. Masa bayarannya kalah sama pertamax 1 liter
Post, tonton, komen, like, share, banjirin media sosial dari akun lo sendiri
jangan biarkan yang di jalan sendirian
lo bisa bantu perjuangkan
dari jari dan hp di tangan
Jangan nyinyir sama pendemo.
THR, upah minimum, hak lembur, sampai Reformasi 1998 yang membuka jalan demokrasi hari ini. Semuanya lahir dari orang-orang yang berani bersuara dan turun ke jalan.
Indonesia was once seen as a darling of investors. But fears of corruption and policy missteps are raising concerns about the country’s economic future
https://t.co/Himk6JYfLr
Mereka ini sedang bersandiwara, seolah hanya ikut menikmati candaan publik.
Padahal mereka tahu kok lagu itu dibikin pakai Suno, lalu sengaja diamplifikasi oleh buzzer.
Ini terlihat dari masifnya akun-akun pro-pemerintah yang ikut mengembuskan narasi tersebut.
Kenapa?
Karena ada unsur MBG di dalamnya, sehingga ini semacam propaganda lunak yang memakai lagu AI sebagai kendaraan emosi publik.
Apakah Bahlil marah?
Tentu tidak.
Justru ini kesempatan untuk menaikkan citra sebagai orang yang woles dan humble karena bisa menerima candaan publik.
Ini malah keuntungan buat dia.
Fenomena ini menjadi contoh bagaimana satire politik bisa bergeser menjadi komoditas digital dan kapital visibilitas, yang kerap terjadi pada rezim sebelumnya.
Kalau pola seperti ini terus dibiarkan, maka kita akan kembali terseret ke zona nyaman politik yang dangkal (semacam Gemoy 2.0) dan kita akan kembali mendapatkaan kualitas pemimpin yang sama seperti hari ini.
PRABOWO TIDAK PEDULI TENTANG ACEH, JIKA DIA PEDULI KONDISI SEPERTI INI TIDAK AKAN BERLARUT-LARUT
sudah setengah tahun 🥹, lumpur tebal masih harus dibersihkan . Lebaran ini, mereka masih harus berjuang membersihkan lumpur sisa banjir sendirian .
Bahkan, jika hujan, air kembali meluap karena sungai masih belum sepenuhnya normal . ada kenangan dan harapan yang terkubur bersama masa depan anak-anak disana, yang ingin merasakan "Rumah". . pertanyaannya, mau sampai kapan? .
Apakah kita perlu kaget juga ketika yang akhirnya dikriminalisasi adalah seorang Papua? Filmnya siapa, yang dikriminalisasi siapa. Begitulah kolonialisme di zaman kita.