Semalam aku mendengar satu podcast yang sangat ngena.
Hidup sebaiknya berpaksikan waktu sholat.
• Bekerja setelah Subuh
• Makan siang sebelum Zuhur
• Makan malam sebelum Magrib
• Tidur setelah Isya
• Punya waktu untuk diri sendiri sebelum Subuh dengan qiyamul lail
• Menikmati ketenangan pagi saat matahari terbit
Ketika hidup berpaksikan sholat, bukan hanya waktu yang menjadi lebih teratur, tetapi hati juga terasa lebih tenang.
"Jangan selipkan sholat di sela-sela kesibukanmu. Selipkan kesibukanmu di antara waktu-waktu sholat."
Izin. Bukannya mau nakut-nakutin. Tapi lebih baik mencegah daripada mengobati.
Gue ngikutin berita-berita geopolitik dah 5 tahunan, timeline gue pun juga bahasannya banyak tentang persiapan kalo-kalo 'something bad' happens. Semoga nggak terjadi.
Kayak apa tuh? Izin gue sharing ya...
Seorang ahli saraf ngabisin waktu 20 tahun buat ngebuktiin kalau nulis pakai tangan ternyata bisa ngubah cara kerja otak dengan cara yang nggak bakal bisa ditiru sama ngetik.
Tapi lucunya, hampir nggak ada yang pernah baca hasil penelitiannya.
Ini yang dia temuin:
i did the same thing too! 🙋🏻♀️ aku rekap semuanya di sheets dulu 📝, baru nanti aku masukkan ke mendeley untuk disitasi & dafpus di word :3
dengan rapiin kayak gini di sheets, aku kalau sewaktu waktu butuh recall isi jurnalnya atau kalimat asli yang aku kutip, tinggal cari di sini. ini juga sekaligus bentuk integritasku di era yang apa-apa AI, aku tetap membaca jurnal yang aku kutip.
walaupun most of them skimming bacanya untuk memperkuat pernyataan di latar belakangku, tapi kalau untuk di bab 2 tinjauan pustaka tentu aku baca bener-bener! salah satunya adalah buku tentang PLS-SEM, yang mana metode TAku ada menggunakan SEM! 😼
Buat kalian yang punya dagangan tapi foto produk masih keliatan “biasa aja”… Sekarang ada cheat code-nya.
Cuma pakai 1 prompt 👇
Kalian bisa dapetin:
- foto produk keliatan lebih profesional
- lighting jadi clean & mahal
- background auto blur (fokus ke produk)
- vibes kayak brand besar / katalog premium
Pakai prompt ini di ChatGPT:
“Gunakan gambar ini, tingkatkan menjadi foto produk profesional dengan lighting natural yang lembut, warna lebih hidup tapi tetap realistis, depth of field dangkal (background blur), fokus tajam ke objek utama, komposisi rapi, clean background, gaya fotografi komersial. Tambahkan sedikit elemen desain minimal seperti poster (teks elegan, layout clean), aesthetic premium.”
Cocok buat:
- jualan makanan
- fashion
- skincare
- aksesoris
Jangan lupa di-save 🔖
RELATE BGT.
Suamiku super hands on ke anak. (I'm lucky I have him) tp ternyata tidak menjamin ga ada pikiran2 aneh di kepalaku.
Bahkan krn suamiku jg hands on, aku jg check on him. Dia baby blues ga ����
Namanya bayi ya. Nempel 24 jam non stop ke ibu bapaknya. Itu GILA BGT RASANYA.
Ada di momen2 tertentu aku pingin masukin kepala di dalam bak air. Biar ga denger suara apa2 lagi.
Kaya pingin tenggelemin kepala aja. Tapi gak aku lakuin. Karena setiap saat suamiku selalu nanya, 'You okay? You need what? You want to be alone?' Padahal at the same time dia yg ngurus anak.
Dia yg mandiin. Dia yg nidurin. Bahkan dia kadang ngasi ASI via sendok kecil krn payudaraku kesakitan setiap saat harus mengASIhi anak.
Ada momen kita berdua sama2 mau gila, kita minta ibu aku untuk gendong anak kami sebentar. Kita cuma baring aja di kamar berdua sambil napas dan dengerin musik. Dapet santai 15 menit abis itu pegang anak lagi.
Pokoknya gila deh.
Buat aku, sosok Ibu dan Bapak yg hands on sama anak itu luar biasa. Terutama Ibu ya. Berbaik hatilah sama Ibu. Mungkin itu kenapa ada istilah surga di telapak kaki ibu, karena dia bukan cuma korban nyawa buat ngelahirin anaknya. Tapi dia ngorbanin jati diri dia seutuhnya.
Badan seisi2nya berubah. Isi kepala seisi2nya berubah.
Mau dipermak pake operasi plastik dan olahraga pun, kalo uda jadi IBU, semua BERUBAH. Can't explain
Tahukah Anda, tempe goreng tepung seperti ini akan lebih awet renyahnya jika
- kamu pakai tepung singkong/tapioka dan tepung beras sebagai tambahan pada tepung terigu yang kamu pakai.
- kamu pakai air es buat bikin adonan krispinya
- kamu tambahkan baking powder
- kamu tambahkan sedikit margarin pada adonan
- kamu goreng pakai teknik deep frying
- kamu tiriskan tempe yang sudah digoreng DENGAN TIDAK DITUMPUK
Jujur, menjadi bapak-bapak usia 40-an yang harus bersikap "tega" ke anak sendiri itu menguras mental. Apalagi kalau berhadapan dengan anak perempuan umur 6 tahun yang lagi jago-jagonya negosiasi.
Kadang rasanya pengen menyerah saja. Mengiyakan apa yang dia mau supaya rumah tenang, dan saya bisa duduk sebentar nyeruput kopi hitam tanpa dengar suara rengekan.
Istri saya adalah seorang perawat NICU. Setiap hari dia merawat bayi-bayi prematur yang butuh presisi dan kedisiplinan tingkat tinggi. Jadi buat dia, urusan rutinitas anak di rumah—jadwal tidur, jam belajar, dan batas waktu main gadget—adalah hal mutlak. Kalau istri lagi dapat shift jaga malam, otomatis sayalah sang "Panglima Tempur" yang harus menegakkan semua aturan itu sendirian.
Tiap jam 8 malam, dramanya sering mengalahkan sinetron.
"Yah, 5 menit lagi ya YouTube-nya!"
"Yah, aku belum ngantuk, mau main block sebentar lagi!"
Mendengar dia menangis karena iPad-nya saya tarik, batin ini rasanya perang. Saya sempat mikir, "Apa saya terlalu keras ya sama anak sendiri?"
Tapi kemudian saya menemukan grafik dari Family Studies di bawah ini. Rasanya seperti ditampar, sekaligus dipeluk.
Di grafik itu ada satu temuan yang sangat valid, Stricter parenting is harder. Menetapkan aturan yang ketat itu memang bikin orang tua lebih pusing, capek, dan stress (lihat bar warna krem). Jauh lebih gampang ngasih anak HP supaya mereka diam.
TAPI, coba perhatikan bar warna biru dan abu-abunya.
Ternyata, aturan yang bikin kita capek itu—seperti menetapkan jam tidur yang ketat (strict bedtime) dan membatasi gadget (screen time limits)—justru meningkatkan kualitas hubungan orang tua dan anak secara drastis. Dan hebatnya lagi, ini bukan cuma klaim dari kacamata kita sebagai orang tua, tapi anak-anak juga merasakannya!
Pantas saja. Walaupun semalam dia menangis tersedu-sedu karena saya suruh berhenti nonton dan masuk kamar, pagi ini dia bangun dengan sangat segar.
Tiba-tiba dia lari, memeluk kaki saya dari belakang pas saya lagi menyeduh kopi di dapur, sambil menyengir lebar, "Ayah, ayo temenin adek main Lego!"
Tidak ada dendam. Yang ada hanya anak yang merasa aman, karena dia tahu kapan batasnya, kapan dia harus berhenti, dan kapan dia harus istirahat.
Ternyata anak-anak kita butuh ketegasan untuk merasa diperhatikan. Capeknya berdebat tiap malam dan menahan rasa "nggak tegaan" itu adalah investasi jangka panjang untuk kedekatan kita dengan mereka di masa depan.
Bismillah. Mari kuat-kuatkan mental jadi orang tua yang tega demi kebaikan mereka sendiri. 💪
Bagaimana dengan Bapak/Ibu di sini? Ada yang sering perang batin juga setiap menyuruh anak tidur atau menarik gadget dari tangan mereka? Apa trik kalian supaya tetap waras menghadapi fasenya?
@barengwarga Min, update aksi di Lumajang, ketua dprd nya udah keluar, untuk berdialog dengan pendemo, mungkin bisa diartikan sebagai kemenangan kecil untuk kita, juga sebagai bahan bakar agar pendemo di kota lain agar makin semangat!
"Aku juga mau hamil….”
ungkap seorang perempuan yang terlahir tanpa rahim.
Untuk pertama kalinya, operasi transplantasi rahim berhasil dilakukan di Korea Selatan.
Saat ini, dilaporkan bahwa pasien tersebut mengalami siklus menstruasi secara teratur, dan mulai bersiap untuk program hamil yang jadi tujuan utama operasi ini.