Kalau rupiah benar-benar tembus Rp20.000 per dolar, ada satu kelompok yang bisa sangat tertekan.
Bukan orang miskin.
Bukan juga orang kaya.
Tapi kelas menengah.
Kelompok yang "terlalu kaya" untuk dibantu tapi "belum cukup kaya" untuk terlindungi.
Mereka terlihat baik-baik saja dari luar.
Padahal sedang menopang semua bebannya sendiri.
Cicilan rumah, sekolah anak, orangtua yang mulai menua, dan standar hidup yang harus terus dipertahankan.
Masalahnya, selama bertahun-tahun banyak yang mengira mereka sedang membangun kekayaan.
Padahal yang dibangun baru kehidupan yang lebih mahal.
Penghasilan naik, tapi cicilan ikut naik.
Penghasilan naik, tapi kebutuhan ikut naik.
Penghasilan naik tapi rasa aman tidak ikut naik
Itulah mengapa banyak keluarga merasa:
“Gaji saya jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu, tapi kenapa hidup terasa lebih berat?”
Kalau dolar benar-benar menuju Rp. 20.000, yang perlu dikhawatirkan bukan cuma kursnya, tapi kenyataan bahwa banyak keluarga akan baru sadar:
selama ini mereka hidup nyaman bukan karena keuangannya yg kuat, melainkan karena kondisi ekonomi masih cukup baik untuk menopangnya.
dan ketika kondisi itu berubah…
yang bertahan bukan siapa yang bergaji besar tapi siapa yang punya bantalan finansial.
3 minggu yg lalu service motor, niatnya 1 doang tp kata ngkohnya bawa semua motor lu ini barang gw harga lama semua, yang baru naiknya bisa 30-50%
niatnya ingin sebulan 1 tp karena begini mau gamau semuanya diservice
setiap aku ngerasa ketinggalan aku selalu sadar bahwa aku ini berangkatnya dari minus, mencapai titik nol udah jadi sebuah pencapaian besar dalam hidupku
“kemiskinan itu terukir di setiap sel tubuhmu” ternyata real banget 😭
karena miskin tuh bukan cuma soal ga punya uang.
tapi kebawa ke cara mikir dan kebiasaan hidup.
contohnya:
— susah beli barang buat diri sendiri karena ngerasa “sayang uangnya”
— panik tiap saldo mulai tipis walaupun masih cukup
— ga enakan nolak kerjaan atau ngerasa bersalah kalau istirahat karena takut kehilangan pemasukan
— lebih milih bertahan di hal yg nyakitin daripada mulai dari nol lagi
dan lucunya, pas hidup udah lumayan membaik pun rasa takutnya masih ada.
jadi kalo liat orang terlalu hati-hati soal uang, kerja terus, atau susah menikmati hidup, kadang bukan dia pelit...
dia cuma pernah hidup di fase yang bikin semuanya terasa ga aman🥲
"Listrik padam di sebagian wilayah Sumatera 3 hari lebih"
Media: 🤐🤐🤐🤐🤐
"prabowo pake APBN 100M untuk beli sapi qurban"
Media: PRABOWO MEMBELI SAPI QURBAN SEJUMLAH 1000 EKOR UNTUK DISEBAR KE SELURUH INDONESIA
alias
MEDIA K*NTOL!!! 🖕🏻🖕🏻🖕🏻
Apesnya Kelahiran 1998 di Indonesia
1998 : Baru lahir, negara lagi chaos.
2010 : SMP, kurikulum ganti. “Adaptasi ya nak.”
2013 : SMA, kurikulum ganti lagi. “Sabar ya nak.”
2016 : Lulus SMA, saingan kuliah kayak rebutan sembako.
2019 : Timeline panas, politik dimana-mana.
2020 : Mau lulus / kerja. boom, pandemi. “Di rumah aja.”
2022 : Dunia buka lagi, harga-harga ikut naik duluan.
2024 : Umur 26, belum mapan tapi udah ditanya nikah.
2025 : Quarter life crisis tanpa notifikasi.
2026 : Dunia ribut lagi, Iran vs Israel & AS. Minyak naik, hidup makin mikir.
Kesimpulan:
Kita nggak pernah hidup di zaman “normal”.
Baru mau stabil, selalu ada plot twist.
Generasi 98 bukan lemah.
Cuma capek adaptasi terus 😅
Kalau @TheEconomist udah seaktif ini, sepertinya udah jadi alarm yg sangat keras.
The economist nih bukan media biasa yg gampang dibeli ya capt. Ini media kredibel dari UK yg fokus pembahasannya emang terkait urusan global, politik, bisnis, keuangan, sains, dan teknologi, serta terkenal dengan pandangan redaksinya yang sangat menjunjung tinggi perdagangan bebas dan globalisasi.
Berdasarkan penilaian lembaga pemantau media independen seperti Media Bias/Fact Check dan Ad Fontes Media, publikasi dari media tsb konsisten mendapatkan peringkat "High Factual Reporting" (Pelaporan Fakta Tinggi) dengan rekam jejak pemeriksaan fakta yang bersih.
Mereka juga punya tim riset khusus yang bertugas memverifikasi setiap angka, grafik, dan klaim sebelum artikel diterbitkan.
Jadi, awas aja kalau bilang ini antek² asing suruhan soros 🙃
setuju, perusahaanku beli barang cuma beda berapa bulan dan bedanya udah ke ratusan juta, dan kita akan naikin harga yang kena impact?, pengusaha karena penjualan akan turun sementara karena perubahan harga, pembeli tidak mampu membeli dengan kenaikan yang signifikan.
Apakah yg kena dampak rupiah melemah terhadap dollar hanya yang jalan2 ke luar negeri?
Kayanya ini kudu diluruskan dulu yo.
Karena pengusaha2 juga kena dampak.
Otomatis kalo pengusaha kena dampak, mreka akan naikin harga jual di lapangan secara perlahan.
Yang kena? Yg beli.