"cari aja di google" "tanya aja ke chatgpt" AAARRGHHHHH GW KAN NGOBROLNYA SAMA ELU. gw mau mendengar OPINI LU. raw human thoughts.... jawaban lu gak PERLU 100% benar... yg penting interactionnya <\\\3
lagian kan gw gak lagi nulis JURNAL??? gw cuma nanya menurut lu nicholas saputra zodiacnya apa.... GITU DOANG bjir itu pertanyaan udah jelas-jelas dimulai pake MENURUT LU.... in YOUR opinion... apakah ELU itu google? chatgpt? BUKAN KAN.
benci bgt dikit-dikit suruh google, suruh nanya AI. HDJSHSJDHAJDH emang kenapa kalo asbun menebak-nebak zodiak nicholas saputra? emang kalo salah DOSA? emang kalo salah nicholas saputra zodiaknya berubah jadi itu? KAN NGGAK.
gpp jirs kata gw sotoy-sotoy dikit BRING BACK BEING SOTOY in casual conversations
DYSPAREUNIA (PAINFUL SEX)
LETS TALK ABOUT PAINFUL SEX WITHOUT SHAME BECAUSE SEX IS NOT MEANT TO HURT
IT IS MORE COMMON THAN YOU THINK.
READ. SHARE. REPOST
When Pleasure Hurts: A Woman’s Body Is Speaking, and We Must Listen
There is a story many women carry quietly, and it begins in a bedroom and ends in silence. It is the story of pain where pleasure is expected, and of endurance where joy should live. Dyspareunia is the name medicine gives to painful sex, and yet the experience itself has existed long before we learned to label it. As a gynaecologist, I say this without apology and without whispering: sex is not meant to hurt, and when it does, the body is not being dramatic, it is being honest. According to the guidance of the Royal College of Obstetricians and Gynaecologists(RCOG), painful sex should never be dismissed, because pain is often a message, and messages deserve interpreters, and interpreters deserve time.
Sometimes the pain waits at the doorway of the vagina, like a guard refusing entry, and sometimes it hides deep inside the pelvis, like a secret with sharp edges. Superficial pain may come from dryness, from infections, from conditions of the vulva, and from the quiet hormonal changes of menopause or breastfeeding, when oestrogen slips away like a lover who forgot to say goodbye. Deep pain, however, may whisper the names of heavier things: endometriosis, pelvic infections, fibroids, ovarian cysts, or adhesions, and these are not small matters, even when they are spoken of in small voices.
But the body does not live alone, it shares space with memory and fear and culture. And so pain is not always only physical. Anxiety tightens muscles. Past trauma writes itself into tissue. Relationship stress creeps into nerves. Cultural shame sits heavily on the pelvis. The muscles clench not because they are stubborn, but because they are afraid. This is why silence is dangerous, and why secrecy delays healing. Many women think, This is normal, and so they endure. And endurance becomes habit. And habit becomes harm. Painful sex erodes self-esteem, strains love, dulls desire, and leaves emotional bruises that cannot be seen on a scan, yet they are real, and they are heavy.
It is also important to name things properly, because language shapes understanding. Dyspareunia means intercourse is possible, but painful, often because something medical can be found and treated. Vaginismus, on the other hand, is when the vaginal muscles tighten without permission, when the body says no even if the mind says yes. Dyspareunia says, 'Something hurts.' Vaginismus says, 'I am protecting you.' And sometimes, they walk together, hand in hand, pain and fear, feeding each other.
Care, when it is done well, begins with listening, and continues with gentle examination, and then with tests when needed, and imaging when the pain lives deep.
Treatment may look like lubricants or vaginal oestrogen for dryness, antibiotics for infections, hormonal therapy for endometriosis, physiotherapy for tense pelvic muscles, and counselling when fear or trauma is part of the story. This is not indulgence; it is medicine. This is not weakness; it is wisdom.
So let us say it clearly, and say it loudly, and say it without embarrassment: painful sex is common, and medical, and treatable. You are not broken. You are not abnormal. You are not overreacting. Your body is speaking, and it is speaking in the language of pain, and pain is a language we must learn to understand. Because pleasure should not require suffering, and love should not demand endurance, and silence should never be the price a woman pays for intimacy.
Silent struggle itu nyata.
Kalau ada teman tiba-tiba menjauh, jangan buru-buru dibilang sombong. Bisa jadi mereka lagi berjuang diam-diam. Cukup sesekali sapa atau kirim candaan kecil, biar mereka tahu mereka nggak sendirian.
INILAH CARA BAGAIMANA MASYARAKAT KOREA MEMB*N*H WARGANYA SENDIRI
Kalian tahu beberapa terakhir ini saat perang Korea dan Negara Asia Tenggara khususnya dengan Indonesia ? Mereka menghina secara rasis negara negara Asean. Dari kasus rasial tersebut akhirnya banyak sekali wanita wanita ASEAN yang mengupload dirinya sendiri dengan percaya diri penuh,tidak terkontaminasi stigma standar kecantikan dan bangga dengan apa yang dimiliki mereka.
Uploadan para wanita Asia ini ternyata membuat pola pikir seorang wanita Korea berubah. Seorang wanita Korea (ada digambar) akhirnya sadar bahwa kecantikan itu tidak selalu tentang fisik,kecantikan itu adalah bagaimana dia mensyukuri apa yang dia punya.
Wanita ini mengaku adalah korban bullying dari teman temannya sendiri,masyarakatnya sendiri karena bentuk giginya. Dan itu dia terima sejak kecil.
Tidak seperti orang Korea yang membully foto foto wanita ASIA yang sebetulnya cantik, orang orang Asia tenggara malah memuji keberanian wanita ini untuk mematahkan stigma 'Lookisme' yang sangat menjijikan di Korea. Dukungan banyak dari para wanita Asia Tenggara untuk wanita Korea Selatan ini.
Tapi kamu tahu gak ? Kemarin dia akhirnya menghapus postingan itu. Karena apa ? Karena banyaknya cercaan,hinaan dari orang Korea Selatan itu sendiri ? Bisa dilihat digambar,seseorang menyuruhnya ke rumah sakit jiwa karena dia berani memperlihatkan muka yang tidak memiliki standart Korea nya ke publik bahkan ke dunia. Mereka tidak segan mengatakan ada yang rusak dengan otak wanita ini.
LIhatlah bagaimana perasaan insecure itu dipaksa terus dipelihara oleh masyarakat Korea sendiri,rasa tidak percaya diri itu tetap dipelihara oleh mereka.
Aib negara jika menumbar wajah yang tidak memiliki standart kecantikan disana. Itulah sebabnya selama beberapai hari war dengan orang negeri Ginseng ini para warga Asia Tenggara tidak pernah sekalipun membully wanita wanita Korea yang menampilkan foto profil di akun X nya. Karena apa ? Karena setidak percaya diri itu wanita Korea menampilkan mukanya.Maka jika ada akun X yang tidak menampilkan fotonya,itu sudah pasti mereka tidak memiliki standart kecantikan itu sendiri.
Oke,balik ke cerita wanita tadi. Kejadian yang dialami wanita tadi itu bukan kasuistik itu adalah kejadian umum yang sering terjadi di Korea,tekanan yang tinggi,tuntutan yang tinggi,membayangkan biaya oplas yang mahal,terpinggirkan sebagai wanita yang tidak memiliki standart kecantikan yang semestinya dan dikucilkan karena penampilan.Akhirnya mental yang kena,psikologis yang kena dan itu lah rata rata orang korea melakukan BD. Bukan ! Itu;ah bagaimana Warga Negara memb*n*h warganya sendiri.
Kalian tahu Adolf Hitler ? Masyarakat Korea mirip Hitler. Hitler memisahkan kaum unggulan dan kaum rendahan.Memishkan kaum unggulan ras Arya dengan kaum rendahan ras Yahudi,Slavia dll.
#SEAblings