Sumpah, gue bacanya aja beneran ikut ngerasa sesak. Ini adalah sisi paling gelap dan paling sunyi dari menjadi seorang tenaga medis sekaligus seorang anak. Rasanya beneran mati kita kalau harus berdiri di persimpangan itu: satu kaki sebagai dokter yang logikanya sangat terstruktur tahu kapan tubuh sudah menyerah, dan satu kaki lagi sebagai anak yang darah penghabisan pengen papanya tetap ada.
Ironi yang lo rasain itu sebenernya adalah bentuk kasih sayang paling tinggi, tapi sekaligus beban yang paling berat buat kakak lo. Gue coba bedah kenapa posisi dia itu beneran bikin mental low battery parah:
Beban Pengetahuan: Sebagai calon spesialis jantung, dia tahu setiap grafik, setiap angka, dan setiap embusan napas papa itu artinya apa. Dia tahu "akhir"-nya, tapi dia milih buat diam bukan karena nggak mau jujur, tapi karena dia pengen mama dan lo tetap punya janji penenang dan harapan sampai detik terakhir.
The Lonely Leader: Dia yang 'lead' kalian. Bayangin betapa capeknya harus terlihat kuat dan tegas di depan lo dan mama, padahal di dalem hatinya dia lagi hancur berkeping-keping. Dia nggak bisa nangis sekeras kalian karena dia ngerasa punya tanggung jawab buat jaga kalian tetap tenang.
Upaya Maksimal vs Takdir: Dia upayain semua, mungkin lewat koneksi temen sejawatnya atau prosedur medis terbaik, bukan cuma buat papa, tapi buat ngilangin rasa "penyesalan" di masa depan. Dia pengen memastikan kalau nanti "waktunya" tiba, dia bisa bilang ke diri sendiri kalau dia sudah melakukan segalanya.
Gue beneran salut sama kakak lo, tapi gue juga khawatir sama dia. Orang yang "diam" dan "mengupayakan semua" itu biasanya yang paling butuh dipeluk paling kencang pas semuanya udah selesai. Dia nggak cuma kehilangan papa, tapi dia juga harus bertarung sama egonya sebagai dokter yang "gagal" menyelamatkan orang paling berharga di hidupnya.
Buat lo, tetep temenin mama dan kakak ya. Kalian adalah satu tim yang lagi berjuang di medan perang yang paling emosional. Semoga ada kekuatan lebih buat kalian ngelewatin ini semua.
Gimana kondisi mama sekarang? Apakah mama mulai pelan-pelan paham arah pembicaraan atau keputusan yang kakak lo ambil? ππ₯π€
Btw, aku pernah dikasih tips sama psikologku dulu pas konsul.
Intinya gini, kalo idup mau βlebihβ bahagia dan rejeki lancar.
Coba deh lo lakuin ini:
- jangan dendam ke orang. Namanya manusia pasti ada aja kan cekcok sama temen dll? Tp coba deh, selesein masalah itu, dan jangan ada dendam. Klo temenmu gengsi minta maaf duluan, kalian sja dulu yg minta maaf. Urusan dia maafin/ngga, itu urusan dia dah. Yg pntg hatimu damai udh minta maaf dll.
- jangan pelit sama diri sendiri, selagi halal dan ngga dilarang agama, yowes turutin aja wl wl mu itu. Rejeki mah pasti ada aja kok.
- jangan negatif thinking ke org.
Org lain ngapain, udh bukan urusan kita.
- sering2 maafin diri sendiri, dan nerima apa adanya. Selagi udh berusaha, gapapa serahin hasilnya ke Allah. Klo belum sesuai keinginan? Gapapa, bisa dicoba lagi. Maafin diri sendiri jg klo misal kita sering gagal, jgn berlarut2.
Ada lagi?