@gyuvcentric@mbah_Sap@nurimamtaufik@PNS_Ababil Gini lho, aturan birokrasi itu jangan pernah disepelekan kalau ga bisa dirubah dari undang2nya dulu. BPK itu kalau lagi audit saklek banget banget banget.
Mau lu fafifu urgensi percepatan lalalili kalau undang2nya ngga dirubah dari hulunya ya kena audit semua.
prabowo nih ditanyain soal IHSG anjlok bilangnya "rakyat desa ga main saham", sekarang pas rupiah lagi lemah ngomongnya "rakyat desa nggak pakai dollar".
rakyat desa rakyat desa mulu ajg, lu itu presiden bgst, bukan lurah.
My girl best friend told her boyfriend something that lowkey changed how I see relationships.
She said, “I don’t want obedience. I want consideration. I shouldn’t have to beg you to think about how your actions affect me.”
She told him, “You’re allowed to have friends. You’re allowed to go out. You’re allowed to live your life. But if you constantly put yourself in situations that you know would hurt me, that’s not freedom. That’s you choosing yourself over us.”
Then she said something that hit:
“If I have to keep explaining why something disrespects me, it’s not confusion. It’s comfort. You’re comfortable knowing I’ll stay.”
And whew.
She wasn’t yelling. She wasn’t threatening to leave. She was calm. Grounded. Clear.
She told him, “I won’t control you. But I will control what I tolerate. And if I start feeling small in a relationship that’s supposed to feel safe, I’ll remove myself. Not to punish you. To protect me.”
That’s what emotional maturity sounds like.
Not “do what I say.”
But “I see the red flag. I told you it’s red. If you keep walking past it, I’m not dragging you back.”
Panjang umur semua orang yang enak diajak ngobrol, yang keep things simple, yang considerate dengan pilihan kata dan nada bicara, yang bikin obrolan sesulit apapun terasa mudah.
May God bless you always.
Kalau diskusinya masih sebatas “laki-laki provide rumah, mobil, lalu perempuan provide apa,” berarti pemahamannya masih di level transaksi, bukan pernikahan.
Karena hari gini, banyak perempuan bisa provide rumah, mobil, dan kehidupannya sendiri. Itu bukan lagi sesuatu yang eksklusif milik laki-laki.
Yang jauh lebih langka dan jauh lebih mahal adalah kemampuan membangun dan mengelola kehidupan bersama.
Pernikahan bukan semata biaya rumah dan mobil. Itu bagian obrolan level permukaan banget 😅
Biaya terbesar dalam pernikahan adalah hal yang tidak bisa dibeli pake uang: kematangan emosional, kapasitas intelektual, stabilitas karakter, dan kemampuan mengelola rumah tangga sebagai sebuah sistem.
Apalagi kalau you memutuskan punya anak.
Biaya membesarkan anak bukan hanya makan dan sekolah. Tapi kemampuan orang tua menjadi figur yang stabil, hadir, dan layak dicontoh. Kemampuan mengelola emosi. Kemampuan membuat keputusan jangka panjang. Kemampuan menjaga struktur keluarga tetap utuh. Semua itu ngga bisa digantikan oleh uang.
Jadi kalau diskusinya masih berhenti di “siapa provide rumah dan mobil,” honestly bukan perempuannya yang perlu dipertanyakan.
Tapi kesiapan berpikir laki-lakinya.
Karena pernikahan bukan tentang siapa membawa apa. Tapi tentang apakah dua orang punya kapasitas untuk membangun sesuatu yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri?
Kalau masih melihatnya sebagai transaksi, mungkin memang belum siap untuk menikah.
APA MAKSUDNYA NIH NGEUPLOAD VIDEO GINIAN JAM SEGINI. GA SEDIKIT DARI KITA LAGI PUASA HEI HALO. DAN SETIDAKNYA BILANG NONTONNYA JGN DI TEMPAT UMUM, INI SAYA LAGI DI KANTOR DIKIRA REKAN KERJA SAYA KENAPA2 ABIS LIAT HP 🫵🏻😭
No 3 gue banggain ya. Tahun 2025 kemaren gue kerja ke babi dipecut ya. Gak semua ASN yg kalian tau tuh males²an. Gue juga maunya begitu. Tapi baru juga pantat duduk di kursi, udah ada aja yg nyeret ngajak rapat. Dilempari kerjaan org lain dr esmelon, alesannya yg lain lemot 😤