Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika Adam masih menjadi residen dan Lilian masih menjadi pegawai kantoran di sebuah media terkemuka. Mereka sudah cukup usia namun masih ada kilatan jenaka penuh penasaran di bola mata.
Menurut Biantara, pukul sebelas malam selayaknya sudah dihabiskan di atas kasur dan bersiap tidur.
Lain lagi menurut kawan-kawannya.
Dalam rangka merayakan album yang akhirnya rilis setelah enam bulan digarap, seorang musisi muda asal Jakarta memutuskan untuk mengajak >
Turun dari mobil perempuan itu, Adam mengerjap, kepalanya ia gelengkan kuat-kuat untuk memaksa matanya tidak terpejam.
"Masuk dulu bentar?"
Rasanya, kalimat yang ia lontarkan juga terdengar asal-asalan. Ia hanya mampu berharap Lilian akan mengerti.
@hazingbeat
Gumamnya sebelum kembali menyesap teh buatan Lilian.
Sesampainya mereka di tempat Adam, matanya terasa begitu berat dan perih. Namun begitu, ia tahan mati-matian sebab masih ingin bercengkrama dengan Lilian.
"Indeed the best cure for headache. Pusing bener tadi keluarga pasiennya agak rewel. Udah dijelasin sedemikian rupa tentang kondisi pasien, masih gak mau kalau lahirannya caesar."
Adam kembali menyesap teh di tangan, dan lagi-lagi tersenyum lebar.
"Lea dan Haidar pernah kan, ikut sedih kalau habis nonton film?"
Kedua anaknya terlihat melunak, bahkan Haidar sudah beringsut mendekati lelaki teman Ibunya tersebut untuk meminta salaman. "Emang tadi Om cerita apa?"
@dasyambrat