@dasyambrat "Makasih ya," lirihnya sambil menggenggam tangan Biantara, seolah mencari pegangan di tengah limbung.
Senyumnya pasrah dan hampa, "Aku minta doanya aja buat anak-anak."
@dasyambrat
@dasyambrat Satu jam yang lalu, hidup Lilian masih berjalan dengan sewajarnya. Berbagai rintangan masih dapat dilalui dalam satu dua malam. Mendadak kedatangan Biantara membawa ombak begitu tinggi dan hampir menenggelamkan dirinya. Mendadak hidupnya adalah opera sabun kejar tayang.
Bukan, bukan. Ini latarnya bukan cerita horror.
Betulan ada dua anak kecil yang sedang berkeliaran di ruang tamu mereka.
"Titip Ai sama Eya ya, Yan. Maaf ngerepotin." Lilian yang tadi mengantarkan anak-anaknya, raut wajahnya sendu dan Biantara tak sampai hati >
@glorygoIdie sebelum anak-anak itu muncul lagi dengan pertanyaan-pertanyaan sulit yang tidak bisa ia jawab.
"Jadi dokter, kayak Papa!" Haidar yang menjawab, suaranya sarat rasa bangga.
(@glorygoIdie)
"Eh, kamu beneran nggak capek? Matamu merah banget, lho," tanya perempuan itu kembali sambil mendekati sang pemilik rumah.
Satu tangannya ditempelkan pada dahi lalu leher lelaki tersebut, "Nggak panas sih. Kamu gimana rasanya?"
@Anstrume
Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika Adam masih menjadi residen dan Lilian masih menjadi pegawai kantoran di sebuah media terkemuka. Mereka sudah cukup usia namun masih ada kilatan jenaka penuh penasaran di bola mata.
Pujinya sambil meletakan bawaannya. Lilian suka rumah Adam yang sungguh seperti perpanjangan Adam, nyaman dan hangat. Kehadirannya yang kikuk masih terlihat agak janggal di rumah ini, tapi mungkin kalau lebih sering berkunjung jadi semakin terlihat wajar.
"Om, aku ngerjain PR dulu yah," Lea merengut sambil melambaikan tangan. "Aku juga Om, tapi besok harus main lagi. Tapi jangan pas aku bikin PR ya Om," nada Haidar mengancam namun tetap saja menyodorkan jari kelingking.
@dasyambrat
"Tapi Mama lebih sedih lagi kalau Ai sama Eya nggak selesai ngerjain PRnya," tambahnya yang membuat anak-anak itu mengerang. "Ayo pamit dulu sama Om Bian terus lanjutin lagi buat PRnya." Biarlah mereka sedikit ngambek, sebaiknya memang tidak mendengarkan pembicaraan orang dewasa.
Layaknya perempuan seusianya, kegelisahannya berputar di masalah yang sangat klise. Dia masih bingung, banyak yang ingin dia kejar tetapi dia tidak ingin main-main dengan urusan asmara.
"Eh kamu kalau capek dan pengen diem aja nggak apa-apa kok Dam,"