Ia sengaja duduk sedekat mungkin. Sisi tubuhnya bahkan hampir menempel dengan Kaia, bahu mereka bersisian dalam jarak yang nyaris tak menyisakan celah. Damar menyandarkan punggungnya dengan santai, kedekatan itu sama sekali bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
Yang ia tahu, jika Damar memiliki nyali besar untuk menjawabnya, maka Damar juga memiliki sesuatu yang 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 untuk ia berikan pada Kaia. Karena—hey? Tidak mungkin Damar akan sepercaya diri itu memandangi Kaia seolah-olah ia sedang menyetubuhi Kaia tanpa ampun dalam peluknya.
@WRANGLERIC Oh, gitu… paham-paham.
Ambigu banget soalnya mau beliin sesuatu yang bikin muka saya merah. Nggak salah dong, kalau jadi mikir yang aneh-aneh?