Kami: mengecualikan lawan bicara. Pembicara dan kelompoknya tidak menyertakan orang yang sedang diajak bicara.
Kita: mencakup lawan bicara. Pembicara dan kelompoknya menyertakan orang yang sedang diajak bicara di dalam kelompok tersebut.
Kalau rugi, salah kita semua.
Kalau untung, itu berkat program kami.
Saya baca ulang perdebatan ini. Nampaknya Ferry kesulitan membedakan entitas "Pemerintah Hindia-Belanda" dengan "Perusahaan Swasta yang menanamkan modalnya di tanah Koloni". Keduanya jelas entitas yang berbeda, dan punya kepentingan ekonomi-politik yg beda meski hidup dalam suasana kolonial. Perkebunan swasta kolonial bahkan sering kali dilabeli seperti "negara dalam negara" karena mereka punya otonomi wilayah dan sistem sosial yang mengikat tersendiri.
Esaipendek sudah menunjukkan (bahkan dengan cukup sabar) cara kerja ilmu sejarah; betapa narasi sejarah itu tidak bisa disimplifikasi. Satu argumen harus didukung dengan konteks jelas (dan jg sumber yg ketat).
Btw kalau teman-teman tertarik dengan pembahasan tentang perkebunan swasta kolonial, boleh baca beberapa artikel kolaborasi saya dan kolega yg kebetulan pernah riset beberapa perkebunan swasta peninggalan periode kolonial.
https://t.co/aqDkMAyM50
Atau kalau ada yg tertarik dengan topik Perkebunan Swasta di Priangan, bisa kepoin google scholarnya Bu Lia Nuralia 😊😊
https://t.co/S4lTn1PzuT
The final stage of healing is becoming a fucking weirdo again. Where you’re so powerful and so free inside yourself you just don’t give a shit. It’s all art. It’s all life. It’s all beautiful. That’s the fucking point.