Kalau benar ijazah SMA itu yang dipakai untuk mendaftar ke KPU Surakarta untuk Walikota
Ke KPU DKI Jakarta untuk Gubernur
Dan ke KPU Pusat untuk Presiden dia kali
Dengan beberapa detail fatal berikut:
Foto Ijazah rambut gondrong ❌
Di foto tidak ada cap tiga jari ❌
TTD Kepala Sekolah palsu ❌
Ada dua Mata Pelajaran di ijazah yang kosong nilainya ❌
Sekolah baru lahir 1985 sementara ybs lulus katanya 1980 ❌
-----
Saya sengaja tidak tampilkan foto ijazah yang salinannya kami dapatkan dari sumber sangat kredibel.
Agar jadi kejutan kalau JKW berani memaksa Kejaksaan untuk Gelar Sidang.
Pertanyaan:
UGM sebelah mana yang menerima mahasiswa dengan Ijazah SMA palsu?
Padahal sudah diumpetin dan di halangi untuk dapat FC ijazahnya..ternyata PDIP memberikan semuanya. Makin terbuka drama ijazah palsu. Pantas para termul2 gencar banget nyerang PDIP. Jiwa korsa mereka keluar kalo nabinya dipereteli 😀😀😀
Buzzer, termul, berteriak, berkotek, menyalak berisik:
P21. P21. P21.
Bahkan sebagian sudah menggelar pesta.
Seolah itu akhir.
Seolah itu vonis sebelum pengadilan berbicara.
Tapi di dalam diamku…
aku tahu, ini bukan akhir. Ini justru permulaan dari ujian yang sesungguhnya.
Aku masih diberi kewajiban Wajib Lapor ke. POLDA.
Sudah 7 bulan mwnjadi Tahanan Kota.
Setiap minggu di sela-sela kesibukanmu bersiap Ujian S3.
Aku hadir tak pernah mangkir.
Kuhikmati,
Setiap langkah kakiku ke kantor polisi untuk wajib lapor,
bukan sekadar prosedur.
Langkah ini adalah pengingat
bahwa kebenaran sering kali harus berjalan sendirian,
di tengah riuhnya tuduhan dan kebisingan opini.
Aku tidak lari.
Aku tidak bersembunyi.
Aku datang. Berkali-kali. Puluhan kali. Dengan kepala tegak.
Karena yang aku bawa bukan sekadar argumen,
tapi keyakinan.
Mereka mungkin punya kekuasaan untuk menetapkan status.
Tapi aku punya sesuatu yang tidak bisa mereka sentuh:
ketenangan hati yang tahu,
bahwa aku tidak berdiri di atas kebohongan.
P21?
Silakan.
Jika itu jalan menuju pengadilan,
maka biarlah pengadilan menjadi tempat di mana semuanya dibuka
tanpa framing, tanpa manipulasi, tanpa narasi yang dipelintir.
Aku tidak takut pada proses.
Aku hanya takut jika kebenaran dibungkam.
Dan selama aku masih bisa melangkah,
masih bisa berbicara,
masih bisa berpikir…
maka aku akan tetap berdiri.
Bukan karena aku ingin melawan,
tapi karena aku tidak bisa memilih untuk diam melihat kebathilan.
Pihak Jokowi tidak memperhitungkan bahwa dokter Tifa itu Dokter.
Dokter itu Ahli Penyakit Manusia Termasuk penyakit pada mata.
Kacamata yang dipakai seseorang itu bukan gaya-gayaan. Kacamata itu manifestasi mata yang bersangkutan mengalami gangguan refraksi akibat adanya kerusakan pada lensa matanya, atau kemampuan memandang objek. Jika gangguan memandang jauh disebut myop, gangguan memandang dekat namanya hyper metrop, gangguan jauh dan dekat namanya presbyop.
Jika seseorang di masa dewasa muda memakai kacamata maka besar kemungkinan gangguan refraksinya tipe myop, artinya apa? Artinya dia akan secara konsisten menggunakan kacamata karena persoalan gangguan memandang jauh ini sangat membutuhkan koreksi, ketika kuliah, berjalan, naik kendaraan, dan sebagainya.
Jika melihat bentuk lensa kacamata yang dipakai mahasiswa bernama Joko Widodo di foto ijazah, maka bisa diperkirakan Myopnya cukup tinggi.
Artinya tidak mungkin selama kuliah pakai kacamata lalu tiba tiba jadi tidak pakai.
Apalagi alasannya pecah dan tidak mampu membeli.
Berkaitan dengan kacamata ini, jika sidang, saya dengan senang hati sudah mempersiapkan daftar pertanyaan terkait dengan Gangguan Refraksi, Riwayat pemakaian, Dokter mata atau Refraksionis yang memeriksa, Optik tempat membeli kacamata, termasuk
Saya akan membawa DUA ORANG Saksi Ahli
Satu
Dokter Spesialis Mata Sub spesialis Refraksi, yang bukan cuma Dokternya memeriksa tetapi nanti Joko Widodo harus dilakukan Pemeriksaan dengan sekitar 11 Peralatan Ophtalmology yang ada di Rumah Sakit Mata yang meliputi:
Keratometer autorefractor
Phoropter
Lensmeter
Tonometer
Slit lamp bio microscope
Spec ular microscope
Cornwall tomography
Fundus camera
Optical Coherence Tomography
OCT Angiography
Ophtalmoscope
Humprey Visual Field Analyzer
OCT Optic Nerve
Optical Biometry
Dua
Jika kemudian Joko Widodo ngeles dengan mengatakan bahwa matanya bebas Myop karena sudah Operasi Lasik, maka saya akan hadirkan Dokter Spesialis Mata sub spesialis Cornea Refractive Surgery
Dan beliau akan memeriksa dengan alat-alat canggih seperti pachymetry, aberrometry, autorefractor keratometer, dan sebagainya yang memungkinkan untuk menilai jejas operasi di masa lalu.
Jadi, bagaimana?
Mau lanjut sidang?
Alat-alat canggih untuk memeriksa Mata Joko Widodo akan disiapkan.
Dan alat-alat canggih itu tidak bisa disuruh bohong.
Penulis buku JOKOWI UNDERCOVER Bambang Tri, dipenjarakan Jokowi dua kali, Masing-masing 5 dan 6 tahun, total 11 tahun penjara.
Penulis buku JOKOWI's WHITE PAPER, Roy Suryo dan dr Tifa, dilaporkan Jokowi, dengan ancaman pasal 8 dan 12 tahun.
Sekarang 1 Ilmuwan lagi, Bonatua Silalahi, menulis buku hasil penelitian nya menjadi buku dengan judul lebih parah: IJAZAH JOKOWI TIDAK ADA!
Batak satu ini ampun deh, bikin judul buku straight to point, ngga ada manis-manisnya,. Langsung gubrak kata orang Betawi: "Lo kaga ade ijazah nye, Jek"
Lagi nunggu sambil hitung semut merah yang berbaris di dinding, kapan Jokowi bikin Laporan Polisi buat Bonatua.
Nanti jika Bonatua dipolisikan,. Maka. pasti ada lagi Peneliti yang bakal menerbitkan bukunya.
Yang sudah antri terbitkan buku tentang kepalsuan Ijazah Jokowi, kalau tidak salah adalah Rizal Fadillah, Profesor Tono Saksono, Topi Merah. Dan banyak lagi yang lain.
Percayalah 1 Tifa dan Roy berusaha ditumbangkan, akan muncul. 1000 Tifa dan Roy berikutnya.
"Anda bisa menipu semua orang untuk sementara waktu, dan sebagian orang untuk selamanya.
Namun, anda tidak bisa menipu semua orang untuk selamanya"
(Abraham Lincoln)
Jika ada persidangan atas Laporan Polisi anda kepada saya, pak Jokowi, anda harus datang. Tidak bisa mangkir.
Kemarin-kemarin anda bisa mangkir. Tetapi untuk Laporan Polisi yang anda buat dengan nama saya, persidangan akan membuat anda HARUS HADIR sebagai saksi pelapor.
Dan, atas 709 dokumen yang disita oleh POLDA dan disiapkan menjadi barang bukti, saya sudah siapkan lebih dari 2.000++ pertanyaan yang harus anda jawab secara langsung, tidak bisa diwakilkan.
Dan persidangan WAJIB terbuka, sehingga 280 juta rakyat akan mendengarkan jawaban anda atas 2.000++ pertanyaan saya atas 709 dokumen itu.
Dan saya pastikan, butuh sekitar 4 tahun sidang bahkan lebih untuk menyelesaikan 2.000 pertanyaan itu.
Belum lagi pertanyaan saya terhadap 130 saksi yang meringankan anda.
Saya sebagai tersangka, berhak untuk bertanya kepada mereka di persidangan nanti, dan mereka WAJIB menjawab semua pertanyaan saya.
Setiap saksi akan saya tanya tiga hari tiga malam sampai saya puas.
Saya sudah menduga siapa saja mereka: orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai teman kuliah, teman KKN, teman SD, SMP, SMA, Guru-guru, Dosen-dosen, saya sudah membuat daftar siapa saja mereka, sudah saya buat profil mereka, sudah saya investigasi mereka, dan dengan ilmu Neuroscience saya sudah bisa mengidentifikasi jawaban dan penjelasan apa yang dicangkokkan di otak mereka.
Saya pastikan saya akan bikin mereka terkencing-kencing dengan ribuan cecaran pertanyaan saya, selama berhari-hari, selama bertahun-tahun.
Dan pada satu titik di antara hari-hari sidang itu, KEBENARAN yang semurni-murninya, sejelas-jelasnya, seterang benderangnya, tentang Ijazah anda, juga masa lalu anda, juga siapa sebenarnya anda, akan terbuka.
Jika anda tidak mencabut Laporan Polisi anda, mari kita siapkan kesehatan fisik, kesehatan mental, kesehatan otak, dan kesehatan jiwa, untuk menjalankan persidangan, yang akan saya buat sangat panjang dan sangat lama, sangat rumit, sangat complicated, sangat menghabiskan dana negara, dan sangat membuat siapapun Lansia dengan penyakit Autoimun berat, tak akan sanggup menghadapinya.
Anda menuduh saya dengan pasal bukan main-main. Pasal dengan ancaman hukuman 6 tahun, 8 tahun, 12 tahun.
Artinya anda ingin menghancurleburkan, menghabisi hidup saya, itulah kekejaman dan kejahatan yang luarbiasa dilakukan oleh mantan Presiden kepada rakyatnya yang bertanya atas sebuah Dokumen Publik: Ijazah Presiden.
Karena itu, dengan segenap kekuatan batin, kekuatan jiwa, kekuatan otak dan kecerdasan saya, akan saya hadapi anda di pengadilan, jika memang anda ingin pengadilan terjadi.
Ingat, Laporan Polisi anda yang buat, maka, anda pak Jokowi, HARUS HADIR!
Penghinaan paling sadis, paling brutal, paling biadab dari Fufufafa alias Gibran, tanpa tedeng aling-aling, straight to the head, kepada Presiden Prabowo Subianto.
Alih-alih ditakedown, pelaku bukan saja dibiarkan. Malah diberi jabatan Wapres.
Innalillahi wa Inna ilaihi rojiuun.
Saya baru dapat postingan Fufufafa yang ini.
Sejahat dan sebrutal ini penghinaan Fufufafa kepada Presiden @prabowo dan putranya mas Didiet.
Kita sudah tahu siapa pemilik akun Fufufafa ini, tidak usah tedeng aling-aling.
Kenapa dibiarkan oleh negara?
Seandainya ada sidang Ijazah Jokowi
Tentang IP ini tentu jadi salah satu bagian yang bakal saya cecar kepada pak Jokowi di ruang sidang, jika memang ada sidang
Bukan hanya soal keganjilan 3 nilai IPK yang berbeda yang diklaim sebagai nilai milik Joko Widodo
IPK pertama dengan nilai IPK <2,00 adalah nilai yang dinyatakan Joko Widodo sendiri di tanggal 29 Juni 2013.
IPK kedua dengan nilai IPK 3,05 dinyatakan oleh Bareskrim tanggal 22 Mei 2025
iPK ketiga dengan nilai IPK >2,5 dinyatakan oleh Rektor UGM tanggal 28 November 2025
Maka dengan senang hati saya akan menyiapkan 200an pertanyaan seputar IPK ini, jika memang ada ruang sidang kasus Ijazah.
Pelapor, saya pastikan hadir. Jika tidak, dia tidak lebih dari seorang Penipu.
Jumat, 1 Mei 2026,
Di hari libur Hari Buruh Internasional, saya, dr. Tifa, tetap melangkah ke POLDA Metro Jaya untuk menunaikan kewajiban lapor yang ke-23 kali.
Kesibukan menyelesaikan tahap akhir S3, membuat saya hanya bisa Wajib Lapor di akhir Minggu atau hari libur.
Ini bukan sekadar rutinitas. Ini adalah catatan tentang bagaimana hukum di negeri ini, dijalankan dengan sangat menyedihkan.
Melalui Penyidik Kamneg Unit 5, saya mendapatkan informasi bahwa berkas perkara yang kira-kira setinggi 5 meter telah dikembalikan dari Polda ke Kejaksaan. Sebelumnya, berkas tersebut dikirim ke Kejaksaan pada 13 Januari 2026.
Namun berdasarkan ketentuan hukum acara pidana, ketika berkas dikembalikan oleh Kejaksaan, penyidik wajib melengkapi dan mengirimkannya kembali dalam waktu maksimal 14 hari.
Faktanya, pengiriman ulang baru dilakukan pada 17 April 2026.
Artinya:
Terjadi keterlambatan yang signifikan
Berpotensi melanggar ketentuan prosedural
Dan menimbulkan pertanyaan serius tentang akuntabilitas penegakan hukum
Lebih dari itu, proses ini telah berdampak nyata:
Status hukum yang menggantung berbulan-bulan
Menjadi Tahanan Kota dengan Wajib Lapor berbulan-bula.
Pencekalan ke luar negeri
Menghasilkan
Tertundanya ibadah Haji dan Umroh dan tugas-tugas keilmuwan profesional
Tekanan psikologis yang tidak ringan
Yang lebih memprihatinkan, situasi ini telah memperkeruh ruang publik: Masyarakat dipertentangkan, pecah belah adu domba oleh para Termul dan Buzzer, energi bangsa terkuras dalam konflik yang tidak produktif.
Dalam negara hukum, kekuasaan seharusnya tunduk pada aturan, bukan sebaliknya.
Saya tidak berbicara tentang siapa benar atau salah secara personal. Saya berbicara tentang prinsip:
Bahwa hukum tidak boleh dipaksakan.
Bahwa prosedur tidak boleh dilanggar.
Bahwa warga negara berhak atas kepastian dan keadilan.
Saya katakan hari ini
Jika Ijazahnya terbukti asli, maka Jokowi sangat jahat, membiarkan anak bangsa bertikai bertahun-tahun. Menghabiskan, dana negara bermiliar rupiah, energi rakyat yang terkuras.
Jika Ijazahnya terbukti palsu, sungguh saya kehilangan kata-kata untuk menyebut dia.
Otak Tidak Dirancang untuk “Perang 365 Hari”
1.
Ketika seseorang berada dalam konflik terus-menerus, tekanan hukum, tekanan sosial, serangan psikologis oleh para termul, otak masuk ke mode survival.
Ada 3 sistem utama yang bekerja:
a. Amygdala (alarm emosi)
Mendeteksi ancaman (real atau psikologis). Amygdala menjadi hiperaktif dalam konflik panjang
Membuat kondisi selalu “siaga”, curiga, dan tegang
Dalam kondisi 365 hari konflik: Amygdala menjadi overdrive, menghasilkan kelelahan emosional
b. HPA Axis (Hypothalamus–Pituitary–Adrenal)
Ini sistem stres utama tubuh. Sistem ini menghasilkan kortisol (hormon stres), yang berguna untuk pertarungan jangka pendek
Tetapi berbahaya secara jangka panjang.
Jika berlangsung lama: dalam kondisi Kortisol tinggi terus
Sistem imun turun
Energi mental habis
c. Prefrontal Cortex (logika & kontrol diri) adalah Pusat yang mengatur keputusan rasional dan pusat pengendalian emosi.
Dalam stres berkepanjangan:
Fungsinya menurun, maka orang akan ebih emosional, lebih mudah menyerah, sulit berpikir jernih.
2.
Fenomena: “Learned Helplessness” (Ketidakberdayaan yang Dipelajari)
Ini konsep penting dalam neuroscience & psikologi.
Ketika seseorang sudah berjuang lama, sudah mencoba berbagai cara, tetapi hasilnya tidak berubah
Otak mulai menyimpulkan:
“Apa pun yang saya lakukan, tidak ada gunanya.”
Ini bukan kelemahan mental. Ini adalah adaptasi otak untuk menghemat energi.
Akibatnya:
Motivasi turun drastis
Emosi menjadi datar atau meledak-ledak
Muncul keinginan untuk “mengakhiri konflik dengan cara apa pun”
3.
Pada kasus Rismon, seperti yang disampaikan mantan Pengacaranya, Khozinudin yang bercerita di sosmed bahwa Rismon sudah berulangkali menangis dan mengeluh cape, yang akhirnya membawanya pada keputusan meminta restorative justice dan meminta Jalan Damai?
Secara neuroscience:
Menangis adalah mekanisme pelepasan stres, mengaktifkan parasympathetic system (sistem tenang)
Dengan menangis tubuh mencoba “reset”
Keputusan seperti meminta restorative justice, bisa dilihat sebagai:
“Switch dari mode fight → surrender/escape”
Otak memilih:
Menghentikan penderitaan
Mengurangi beban energi
Menghindari kerusakan lebih lanjut
4.
Pertarungan ini bukan Sekadar Psikologis Ini Fisik
Yang sering tidak disadari:
Konflik panjang = kelelahan biologis
Gejalanya bisa:
Lelah ekstrem walau tidak kerja fisik
Sulit tidur / tidur tidak nyenyak
Brain fog (sulit fokus)
Emosi tidak stabil
Bahkan depresi ringan hingga berat
Karena: Otak dan tubuh sudah “overheat” terlalu lama.
5.
Sistem saraf manusia punya batas.
Bahkan tentara di medan perang pun:
Mengalami burnout
PTSD
Collapse mental setelah periode tertentu
Konflik hukum/sosial yang panjang bisa setara secara neurologis dengan medan perang psikologis.
6. Refleksi Lebih Dalam (yang Jarang Dibahas)
Ada satu hal penting:
Dalam konflik panjang, yang sebenarnya terjadi bukan hanya “pertarungan eksternal”
tetapi juga:
“perang antara mempertahankan identitas vs mempertahankan kelangsungan diri”
Pada titik tertentu, otak memilih:
hidup lebih penting daripada menang
7. Kesimpulan Neuroscience
Yang terjadi pada pertarungan jangka panjang adalah:
Neurobiological burnout akibat prolonged stress conflict
Dengan komponen:
Amygdala overactivation
Kortisol kronis
Prefrontal cortex melemah
Learned helplessness
Emotional collapse → surrender decision:
----
Setelah 365 hari Pertarungan TROY vs JOKOWI
Siapa yang untung?
Yang untung adalah Pengacara Jokowi, bayaran mahal, argo muter terus, modal konpres, bicara santun di media (dan selalu minta kisi-kisi pertanyaan kepada host)
Kedua adalah Para Termul Buzzer, pesanan serangan ke Troy tiada henti. Bombardir dari segala lini dengan bayaran mingguan.
Media-media yang panen berita ijazah terus 24 jam sepanjang 365 hari.
Pak Jokowi bagaimana?
Penyakit Autoimun makin parah dan berat. Nyeri berkepanjangan.
Organ-organ makin failure.
Jadi,
Mau dilanjut atau STOP ini?
365 hari
TROY VS JOKOWI
Yang kami hadapi bukan sekadar konflik biasa. Selain melawan mantan Presiden yang menguasai banyak duit, konflik ini memiliki pola psikologis yang sangat spesifik:
Kombinasi antara kekuasaan, penyangkalan, dan kebutuhan untuk tetap terlihat benar di mata publik.
Bertarung dengan orang yang sadar salah itu masih ada titik masuk: logika, rasa malu, atau hukum.
Tetapi bertarung dengan orang yang tidak merasa salah, justru menganggap dirinya benar, bahkan merasa berhak menghukum orang lain, seperti yang sudah dia lakukan terhadap Bambang Tri dan Gus Nur,
Hasilnya adalah level pertarungan yang paling melelahkan secara mental dan eksistensial.
Dan ketika lawan kami ini Jokowi, maka perhitungannya bukan hanya tentang individu, tetapi tentang:
Sistem kekuasaan
Jaringan kepentingan
dan narasi publik yang dibentuk secara masif: memfitnah, membully, membunuh karakter, dan mencaci-maki.
Itulah mengapa ini terasa seperti pertarungan 365 hari tanpa henti.
Karena yang kami lawan bukan hanya orang, tapi struktur realitas yang dia bangun di sekitar dirinya.
Hikmah 365 hari yang kami temukan adalah:
Pertarungan paling berat bukan melawan orang kuat.
Tapi melawan orang yang menipu, berbuat jahat, tidak merasa salah
dan masih percaya diri meyakini dia pernah kuliah di tempat yang bahkan dia tidak tahu seperti apa tempat itu sesungguhnya,
Dan tetap ingin menang, bahkan bukan sekedar itu, dia tetap ingin menghukum orang lain.
Selama 365 hari ini, itulah pertarunganku.
Aku tidak sedang melawan kekuasaan.
Aku sedang melawan kebebalan yang merasa dirinya adalah kebenaran.
Seseorang yang menipu, tidak merasa bersalah.
Seseorang yang berbuat jahat, tapi merasa jadi korban.
Dan yang paling berbahaya,
dia ingin menang, sambil menghukum orang yang mengungkapnya.
365 hari, semoga Allah melindungi dan menjaga kami.
Budi Arie sebut Isu Ijazah Jokowi tidak substantif alias tidak penting
Kalau memang tidak substantif, ngapain Jokowie laporkan saya dkk ke POLDA tanggal 30 April 2025 setahun lalu.
Nah malah jadi makin terang-benderang, kan Ijazahnya abal-abal, 709 dokumen dengan riwayat pendidikannya morat-marit, malah lalu sejarah keluarganya pun jadi ikut diubek-ubek.
Saya mengingatkan Pak Jokowi sama dengan saya mengingatkan Rismon si Omon-Omon:
Kalau punya Ijazah palsu itu diem, sssttt jangan berisik! jangan sok petetang-petenteng, Jangan sok lopar-lapor malah akhirnya urusan makin blangsak ngga keruan.
Saya memang punya kepentingan meneliti Ijazah Jokowi untuk menegakkan kebenaran, bukan untuk menghina ataupun merendahkan.
Kalau punya Ijazah asli, ya tinggal ditunjukkan saja, beres.
Ngapain pakai lapor polisi segala. Nah kan jadinya ambyar.
Jadi kelihatan skripsi palsunya, transkrip palsunya, koran KR palsu, KKN palsu, Registrasi palsu, foto-foto palsu dll dkk malah jadi keumbar-umbar.
Hal sama terjadi pada Si Omon.
Koar sama gertak sini, teriak-teriak, lha malah kebongkar Ijazah palsu bahkan surat kematian palsu.
Soal surat kematian palsu itu betul-betul ngga habis pikir.
Moon Mon.
Saya tidak heran jika nanti muncul
Ijazah Jokowi lengkap dengan watermark, emboss, bahkan lintasan stempel di atas jas hitam.
Gampang bikin itu.
Apalagi blanko ijazah tahun 1985 sudah disiapkan sehingga bakal lolos Uji Carbon Dating.
Target mereka adalah:
dr Tifa dan Roy Suryo dipenjara
Untuk memberi efek jera kepada orang lain agar jangan usik lagi soal Ijazah bodong Jokowi.
Apalagi soal pendidikan Gibran. Maka yang terjadi bukan Gibran End Game. Tapi Rismon End Game.
Perang Rismon selesai. Balik habitatnya, kumpul sesama Ternak.
Catatan untuk kejadian Rismon:
Jadi orang baik di Indonesia itu lelah, banyak risiko, dan penuh ancaman.
Apalagi jika kebaikan itu ternyata cuma usaha menutupi kejahatan memalsukan ijazah Yamaguchi.
Peter Gontha: Kalau ijazah Jokowi asli, jahat sekali...
Karena telah membiarkan rakyat di bawah gontok2an, saling hujat, saling tuding, saling lapor, bahkan ada yg dipenjara
Sbg seorang negarawan, harusnys diperlihatkan
Kalau palsu sih dimaklumi, sambung Peter Gontha lagi..!
Hati2 diseruduk termul lho..!!
Mas Roy, @KRMTRoySuryo2
Tinggal kita berdua sekarang berdiri di garis ini.
Bukan karena yang lain tidak peduli, tapi karena tidak semua kuat menahan beban yang sama.
Ancaman semakin nyata.
Tekanan datang dari segala arah.
Menghimpit hingga terasa habis nafas.
Kadang bukan hanya tentang apa yang kita hadapi di luar, tapi juga pergulatan di dalam diri, lelah, ragu, bahkan rasa sepi yang tak terjelaskan.
Tapi kita tahu satu hal yang tidak boleh runtuh:
kebenaran itu sendiri.
Perjalanan ini tidak pernah mudah.
Dan mungkin memang bukan untuk semua orang.
Hanya untuk mereka yang bersedia tetap berdiri, bahkan ketika banyak orang memilih berpaling dan meninggalkan medan ini.
Kalau hari ini terasa semakin berat, itu bukan tanda kita harus berhenti.
Itu tanda bahwa apa yang kita buka, semakin dekat ke inti.
Mas Roy,
kalau suatu saat langkah terasa goyah, ingatlah,
kita tidak pernah benar-benar berdua.
Ada sejarah yang mencatat,
ada nurani yang menyaksikan,
dan Gusti Allah boten nate sare.
Selama niat ini lurus,
selama kita tidak menjual kebenaran,
maka kita tidak sedang dibuat kalah,
kita sedang ditempa.
Dan bila harus berjalan sampai ujung,
maka biarlah kita dikenal bukan karena kemenangan,
tetapi karena kita tidak pernah mundur.
Karena pada akhirnya,
kebenaran tidak butuh banyak orang.
Ia hanya butuh sedikit tetapi yang tidak menyerah.
Dan semoga yang sedikit itu kita.
PERNYATAAN DR TIFA
Saya tegaskan bahwa saat ini saya tidak termasuk dalam barisan pihak yang menginginkan pemakzulan Presiden Prabowo Subianto.
Oleh karena itu, apabila terdapat gerakan, pernyataan, atau aktivitas apa pun yang menggunakan nama maupun foto saya untuk tujuan tersebut, maka hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan tanpa izin saya.
Sikap saya dalam perjuangan ini jelas dan tidak pernah berubah: MENEGAKKAN KEBENARAN.
Itulah landasan saya dalam upaya mengungkap fakta terkait ijazah Joko Widodo serta menelusuri riwayat pendidikan Gibran Rakabuming Raka.
Namun perjuangan saya bukan perjuangan politik, dan sekali lagi saya tegaskan, tidak berada dalam agenda pemakzulan Presiden Prabowo Subianto.
Saya berdiri sebagai peneliti dan aktivis, bukan politisi, bukan oposisi, dan tidak menjadi bagian dari manuver kekuasaan mana pun.
Apa yang saya lakukan adalah bagian dari komitmen moral dan intelektual:
tegak dalam gerakan Amar Makruf Nahi Munkar.
Karena bagi saya, kebenaran tidak tunduk pada kekuasaan,
dan keadilan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan.
Rismon pas masih sahabatan sama kita, wajahnya ada ganteng-gantengnya ya.
Begitu temen sama Andi Azwan, Farhat Abbas, dll
Ngnghkhkzhzawrts....krik krik