Saya hanya ingin menjelaskan, keputusan ibu korban untuk tidak damai dan melanjutkan proses hukum, itu bukan soal demi anaknya semata. Tapi ini demi anak-anak lainnya. Kedua anak tersebut berbahaya jika terus dibiarkan bebas.
‼️SEJARAH BESAR BAGI OLAHRAGA INDONESIA‼️
Untuk pertama kali dalam sejarah, lagu Indonesia Raya berkumandang di World Climbing Series nomor lead.
Climber muda berusia 20 tahun asal Kediri, Putra Tri Ramadani a.k.a Srondeng meraih emas di World Climbing Series 2026 Praha, Rep Ceko, dini hari tadi.
Srondeng juga menjadi orang Asia Tenggara pertama dlm sejarah yg meraih emas World Climbing Series nomor lead.
Dahsyat, Srondeng!!!!
Selamat!!!!
Kita tersipu, bahagia, dan ngakak dengan lagu Bahlil si Bolu Ketan. Dia dan rezim lebih ngakak krn kita lupa pulau Gag, tambang, nikel dan lain-lain. Semudah itu kita.
Seorang pengejar kesempurnaan yang tanpa kompromi. Ia dikenal sangat terobsesi dengan detail dan takut sekali pada kepuasan diri.
Pernah saat bermain melawan Sporting Lisbon, meski City unggul 4-0 di babak pertama, ia masuk ke ruang ganti dgn marah2 krn pemainnya melakukan beberapa kesalahan teknis. Baginya, saat tim mulai merasa sempurna, maka mereka sudah mulai kalah.
Tak hanya pemain, ia juga menuntut energi yg tinggi bahkan dr staf pendukung. Ia pernah menegur staf karena tdk merayakan gol dgn antusias saat laga persahabatan pramusim.
Tapi, ia juga pemimpin yang hangat dan sangat peduli pada orang di sekitarnya. Pada hari pertamanya di Man City, Pep menghafal semua nama dan wajah setiap staf, mulai dari resepsionis hingga petugas fasilitas.
Pernah ia menangis saat meminta tim memberikan penghormatan bagi staf yang berjuang melawan kanker. Ia juga sangat suportif ketika keluarga staf atau pemain mengalami masalah pribadi. Misalnya saat anak seorang staf lahir prematur.
Ia juga pernah menelepon istri seorang staf untuk meminta izin agar suaminya boleh ikutan berpesta merayakan gelar juara Premier League.
Ia lebih dari seorang mesin taktik yang dingin. Kesuksesan2 besarnya adalah perpaduan antara kecerdasan taktis yang luar biasa obsesif dan kemampuan hebatnya dlm membangun hubungan antarmanusia.
Selamat menjalani masa jeda, Pep Guardiola!
deddy corbuzer benci sama orang orang
yang jualan kelas
karna mereka merusak anak/orang muda
apalagi yang bilnag umur 19 tahun udah dapat 1 miliar
umur 10 tahun punya 1 miliar
dia malah heran dan bertanya tanya
kalo di umur segitu punya uang miliaran
ngapain lagi jualan kelas
jadi stop buat oknum oknum yang jualan kelas
kalo lu beneran kaya
coba tunjukin SPT lu
baru dia percaya katanya deddy
Gregoria Mariska Tunjung resmi mundur dari Pelatnas PP PBSI.
Salah satu tunggal putri Indonesia yg paling skillful, paling imajinatif, pemilik permainan paling indah di tur dunia.
Terima kasih atas semuanya, Jorji.
Setelah melahirkan nama2 legenda kelas dunia sprt Teddy Riner, Tony Parker, Tony Yoka, INSEP ternyata sukses melahirkan pemain2 badminton kelas dunia.
Hari ini, sejak Piala Thomas kali pertama digelar 77 thn yg lalu, tim Prancis lolos ke final Thomas Cup 2026!
Grup D vs Indonesia🇮🇩 4-1
QF vs Jepang🇯🇵, 3-0
SF vs India🇮🇳, 3-0
Sistem yang baik, fasilitas yg baik, orang2 yg kompeten, akan menghasilkan atlet2 yg baik pula.
📸: INSEP
Mengapa filosofi pendidikan “sesuai industri” itu problematis?
Saya agak gelisah baca wacana menutup prodi yang dianggap “tidak relevan dengan industri”, yang disampaikan Sekjen Kemendikti, Prof Bakri Munir Sukoco.
Bukan karena saya anti industri.
Tapi… industri yang mana?
Yang hari ini?
Atau yang bahkan belum ada 10 tahun lagi?
Masalahnya sederhana: industri sendiri sering belum tahu arah masa depannya.
Laporan World Economic Forum dan McKinsey & Company berulang kali bilang hal yang sama: banyak pekerjaan masa depan belum eksis hari ini.
Jadi kalau kampus sibuk “menyesuaikan diri” dengan kebutuhan sekarang, kita mungkin sedang menyiapkan lulusan… untuk dunia yang sudah lewat.
Dan biasanya, yang pertama dikorbankan itu selalu sama:
Filsafat.
Sejarah.
Sastra.
Yang dianggap tidak praktis.
Padahal banyak pemimpin, pembuat kebijakan, bahkan inovator yang lahir dari sana.
Sekarang bahkan keguruan dan kedokteran ikut disorot oleh Sekjen Kemendikti. Keduanya dibutuhkan masyarakat tapi katanya terlalu “market-driven”, harus jadi “market-driving”.
Tapi jujur saja kedua istilah ini masih dalam logika yang sama: pasar sebagai penentu. Bedanya hanya soal siapa yang lebih pandai meramal pasar.
Padahal masalah utamanya bukan di situ.
Masalah pendidikan di Indonesia itu ada di tata kelola.
Prodi dibuka karena tren. Karena peminat. Karena pemasukan. Bukan karena visi pendidikan.
Kalau akarnya di situ, menutup prodi dari atas itu cuma seperti memotong daun, tanpa menyentuh akar.
Yang kita butuhkan bukan sekadar menutup prodi, tapi membenahi cara kita menilai dan membiayai pendidikan. Quality control dan akreditasi tetap penting, tapi ukurannya harus nyata: kualitas belajar, daya pikir lulusan, dan dampaknya bagi masyarakat, bukan sekadar dokumentasi.
Yang dibutuhkan adalah pendanaan berbasis kualitas, kurikulum yang lentur, dan keberanian menjaga ilmu yang tidak selalu “laku”.
Karena saat industri jadi satu-satunya ukuran, dunia kampus menjelma hanya melatih tenaga kerja bukan melahirkan manusia yang mampu berpikir, menilai, dan membentuk zamannya sendiri.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Statement on the passing of an Indonesian peacekeeper injured last month:
UNIFIL deplores the passing today of Corporal Rico Pramudia, who was critically injured following a projectile explosion in his base in Adchit Al Qusayr on the night of 29 March.
Buat para people pleaser, saya menemukan kutipan yang bagus banget dari Quora.
"Jangan terlalu menimbang rasa sungkan.
Hingga ubi yang kau tanam di ladangmu sendiri enggan kau nikmati demi menjaga perasaan seekor babi."
🚨 TERKINI : Sejumlah pejabat tinggi Italia telah menolak mentah-mentah saran dari utusan khusus Donald Trump, Paolo Zampolli (dia orang Italia btw), yang menginginkan Italia menggantikan Iran di Piala Dunia 2026.
Mereka berpendapat tiket ke Piala Dunia harusnya didapatkan dengan perjuangan di lapangan bukan dari lobi-lobi memalukan seperti ini.
📝 @USATODAY
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Makanya berkali kali saya bilang. Merokok itu pilihan. Diluar kampanye anti rokok dll, merokok adl pengenalan diri. Kenali badanmu sendiri, kuat atau tidak. Jangan paksakan.
Buat apa mendebat data. Toh sdh disebut itu 'dilema'. Pilihan sulit antara stop industri rokok atau tidak. Yg suruh mendebat harusnya pemrentah. Mereka yg punya kuasa dan UU utk menutup industri rokok, atau tetap menjalankan. Sekali lagi anda sebut sendiri: Dilema.
Padal tinggal tutup saja. Selesai. Efek²nya yaa nanti dipikir belakangan lah kalau ada petani nganggur, kriminalitas naik, rokok ilegal yg menggerus pemasukan negara, dll. Ah..gampang itu.
DILEMA.
Sudah tuntutan gagal paham soal saham, kami ngga punya uang sebesar yang dituduhkan, masih saja kami dituntut 15 tahun penjara dan bayar Rp 16,9M.
Kalau ngga bayar, total hukuman jadi 22,5 tahun!
Ini kacau. Kami benar-benar dipermainkan.
Tolong, bantu kami. Bebaskan Ibam.