PERUBAHAN FUNDAMENTAL PSI
Pada kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 2025 ini, ada dua peristiwa yang mungkin menjadi perbincangan publik. Pertama adalah perubahan logo partai dari bunga mawar merekah menjadi gajah yang menaikkan belalai. Kedua adalah pernyataan dukungan yang sangat eksplisit dari mantan presiden Joko Widodo pada PSI. Pernyataan dukungan penuh itu juga sekaligus adalah pengakuan langsung bahwa Jokowi sudah bergabung dengan atau menjadi bagian dari PSI.
Selain perubahan logo dan bergabungnya Jokowi ke PSI, ada dua peristiwan lain dalam kongres 2025 yang lebih fundamental. Saya lebih tertarik bahas ini.
Pertama adalah pemilihan langsung melalui sistem e-voting. Inisiatif e-voting dengan menerapkan sistem pemilihan langsung yang melibatkan semua anggota adalah eksperimen demokrasi internal partai yang sangat baik di tengah mandegnya demokratisasi umumnya partai di Indonesia. Belum ada partai yang melakukan ini.
Dalam pemilihan langsung ini, hampir 180 ribu anggota partai mendaftar. 84 persen di antaranya menggunakan hak pilihnya. Kaesang Pangarep, incumbent, terpilih kembali dengan dukungan suara sekitar 65 persen. Dua calon lain berbagi suara sekitar 35 persen.
Jika eksperimentasi demokrasi langsung di internal partai ini berhasil dan konsisten, bukan tidak mungkin ini akan menjadi awal bagi perubahan sistem kepartaian secara lebih luas di Indonesia. Semoga.
Selama ini, semua partai terjerat dalam lingkaran kekuasaan elit (biasa disebut oligarki). Sistem pemilihan langsung yang dilakukan secara online memberi kesempatan pada siapa saja untuk bertarung dalam pemilihan ketua umum. Siapa pun yang berhasil mendapatkan simpati anggota akan bisa memenangkan pemilihan.
Selain itu, melibatkan setiap anggota untuk menentukan pemimpinnya secara langsung bisa menumbuhkan partisipasi politik anggota partai. Sejarah demokrasi menunjukkan bahwa warga yang diberi wewenang menentukan pilihan akan berkembang menjadi pemilih yang semakin rasional. Pilihan mereka bisa salah atau tidak ideal, tapi mereka akan terus belajar dari pengalaman dan akhirnya akan memilih yang terbaik dari yang ada. Dari sana, melalui tradisi reward and punishment, partai akan berkembang menjadi lebih baik. Demikianlah pengalaman warga yang hidup dan terlibat dalam sistem demokrasi.
Selain itu, perubahan AD ART terkait komposisi dewan pembina juga menarik. Lima orang yang duduk di dewan pembina terdiri dari dua pengurus DPP (Ketua Umum dan Sekertaris Jenderal), dua dari unsur dewan pendiri, dan satu dari pengurus wilayah. Artinya mayoritas (tiga) dari lima dewan pembina secara tidak langsung ada figur yang berasal dari pilihan demokratis anggota partai. Perubahan komposisi dewan pembina ini mengurangi secara signifikan kekuasaan dewan pendiri yang sebelumnya sangat dominan dalam struktur dewan pendiri yang nota bene tak tergantikan.
Rupanya PSI mendengar dan mengakomodir kritik dan masukan yang selama ini banyak menyoroti kekuasaan dewan pembina yang terlalu dominan bahkan memiliki kekuasaan absolut. Struktur baru ini membuat partai menjadi lebih demokratis di mana anggota memiliki kekuasaan yang lebih besar.
Perubahan sistem pemilihan ketua umum dan struktur dewan pembina, menurut saya, sangat fundamental. Di luar dari kontroversi pilihan atau keputusan politik PSI beberapa waktu terakhir, kali ini PSI berhasil sedikit memberi harapan.
Terlepas dari siapa pun yang terpilih dan duduk di DPP dan dewan pembina PSI, semoga sistem baru ini berjalan konsisten dan mendorong perubahan yang lebih luas bagi sistem kepartaian secara menyeluruh di Indonesia.
Selamat untuk PSI. Pertahankan sistem baik ini. Jangan mundur lagi.
Depok, 20 Juli 2025
SAIDIMAN AHMAD
Ya Raab…
Aku malu.. bukan karena Kau menjauh, tapi karena aku yang terlalu sering bersembunyi dari cahaya-Mu
Datang hanya saat gelap,
menjauh saat terang mulai hangat
Aku malu.. bahkan pada tanah yang nanti akan kupeluk, ia terlalu suci untuk menampung segala lupa yang kupunya
Dialog Antar Agama Model Apologetik-Konfrontatif
Nabi Muhammad mewariskan model dakwah yang tidak gegap gempita, tapi penuh kasih dan kebijaksanaan. Saat utusan Nasrani dari Najran datang ke Madinah, beliau menyambut mereka di masjidnya, berdialog tanpa cercaan, bahkan mempersilakan mereka beribadah di tempat yang sama. Ketika berbeda pandangan dengan kaum Yahudi, beliau tak mengobarkan caci maki, melainkan menjawab dengan logika santun dan akhlak membumi. Dakwah beliau tak sekadar menyentuh pikiran, tapi juga melunakkan hati.
Kini, model ini kerap tergantikan oleh suara yang lebih nyaring, tapi kurang teduh. Di ruang-ruang publik muncul gaya apologetik-konfrontatif: mencomot ayat dari kitab suci agama lain, menyandingkannya dengan Qur’an untuk membuktikan bahwa Islam “paling benar.” Tak ada ruang bagi konteks sejarah atau apresiasi terhadap interpretasi yang diwariskan pemuka agama mereka selama berabad-abad. Yang hadir bukan jembatan, melainkan palu godam. Bukan percakapan, tapi penghakiman. Dan penonton puas bertepuk tangan, apalagi kalau ada yg pindah keyakinan akibat “pembuktian” ini.
Model serupa juga dilakukan sebagian pemeluk agama lain terhadap Islam: ayat Qur’an dicomot dengan keluar dari konteks tafsir dan tradisi, dibenturkan, lalu dijadikan seolah sebagai bukti kesalahan Qur’an. Dan ejekan nyaring terdengar.
Inilah wajah dari scriptural literalism—membaca teks secara harfiah, tanpa menyelami kedalaman makna dan tafsir. Ayat suci pun berubah jadi peluru debat, bukan pelita yang membimbing. Yang dikejar bukan pemahaman, tapi kemenangan. Dan yang sering menang, sayangnya, adalah ego—bukan kebenaran.
Islam bukan sekadar agama yang benar, tapi agama yang mengajarkan cara menyampaikan kebenaran dengan adab. Dalam Qur’an, Tuhan melarang mencela sembahan orang lain, agar mereka tidak membalas dengan celaan terhadap Allah karena ketidaktahuan. Ini bukan sekadar etika sosial, tapi pelajaran ruhani: bahwa kebenaran sejati tak perlu menjatuhkan untuk bisa berdiri tegak.
Mari kembali pada teladan Nabi: berdialog dengan hikmah yang mencerdaskan, kelembutan yang memeluk, dan kejujuran yang tak menyakiti. Karena agama ini tak hanya soal benar dan salah, tapi juga soal cinta dan adab.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
🧵1/
ماذا تخطّط إسرائيل لحزب الله وجنوب لبنان؟
التطهير العرقي لشيعة لبنان…
السلام عليكم إخواني،
ترددت طويلًا قبل أن أكتب هذه الكلمات، لكن ما يجري في جنوب لبنان يصرخ بالحقيقة ويمنعني من الصمت. لم يعد الأمر مجرد حدس أحاول إنكاره، بل واقع مرير يتشكل أمام أعيننا. إسرائيل تخطط لفرض مناطق عازلة تمتد بعمق 15 كيلومترًا على طول الحدود مع فلسطين المحتلة، لكن هذه ليست مجرد خطة عسكرية. إنها مؤامرة مدروسة تهدف إلى اقتلاع الحاضنة الشيعية، عماد المقاومة، من جذورها عبر تطهير عرقي بطيء وممنهج.
دعوني أروي لكم هذه القصة كاملة، لنكشف سويًا خيوط هذا المخطط وكيفيّة مواجهته…
Fatemeh Hoshino (Japan) on when she first read about Karbala.
Sunnis committed the greatest crime against humanity by deliberately hiding Karbala from the world.
Letting the modern man go astray.
Once the world finds out about Karbala, they won’t forgive Sunnis for hiding it.
Surat Yusuf adalah satu-satunya surat dalam Al-Qur'an yang menceritakan kisah seorang Nabi secara lengkap, dan Tuhan menyebutnya dengan احسن القصص "kisah terbaik"
Menolak antroposentrisme bukan berarti menghapus manusia dari daftar pertimbangan etis, tetapi melepaskannya sebagai pusat nilai atau pertimbangan utama dan menjadikannya hanya sebagai salah satu pertimbangan di antara banyak pertimbangan lain
https://t.co/TvKKzbI3Q5
Penerbitan paspor untuk mumi Fir'aun di Mesir (Ramses II) tahun 1974 dengan tujuan memindahkannya ke Perancis untuk dipelajari dan diteliti
-
"Maka pada hari ini kami selamatkan jasadmu supaya menjadi ayat (pelajaran) bagi orang-orang setelahmu"
(QS. Yunus : 92)
☕️🌹