im not defending. tapi kalo yg bawa2 cultural things dll. do you guys know about Didik Nini Thowok? the legend dancer yg suka imitate women. He wears kebaya too & other cultural costumes too…
Sekarang semua mau mencari Zohrannya Indonesia.
Yang dilihat hanya fisiknya doang : muda, Islam, dinamis.
Psdahal Zohran itu menjadi pembeda karena berani merangkul kaum yang dimarginalkan disana : LGBTQ+ dan kaum imigran yang lemah. Menjauh dari billionaire rakus.
Glad2Gl*w
Skintif*c
Timeph*ria
Fac*rinna
Mrk ini satu group. Under the same company, tiap brand pny segmentasi pasar berbeda, pastinya BUKAN BRAND LOKAL ya. It’s from mainland🇨🇳
Ga menutup kemungkinan mrk bakal bikin brand baru dgn identitasnya yg ditutup2in ga transparan itu😬
Astaghfirullaah!
Korban kejahatan seksual bukan sekadar produk cacat pabrik, Pak.
Satu korban saja sudah terlalu banyak!
Susah banget pejabat di rezim ini berempati 😓
Cc @Kemenag_RI
Kalau kalian terpesona dengan ceplas-ceplosnya Menteri baru yang bahkan belum sempat ngapa-ngapain, kalian memang pantas dapat Presiden masuk gorong-gorong dan Gubernur mengatur lalu lintas.
#intinyadeh bakery milik selebgram claim gluten free, dairy free, egg free, vegan, dll. Harga tinggi.
Ada ibu beli utk anaknya yg alergi gluten.
Ternyata anaknya bereaksi, ruam2 di sekujur tubuh, bengkak. Cek lab, cake nya ada gluten.
Diduga dia cuma repackage dr bakery2 lain.
SAR itu tugasnya SETELAH kejadian.
Nah, SEBELUM kejadian, mulai dari perencanaan dan eksekusi yang BIKIN BANGUNANNYA RUBUH itu TANGGUNG JAWABNYA PONPES dan PENGURUSNYA, GOBLOK!
Kenapa? Takut sama Kyai? Lha wong yainya malah mentingin punya mercedes drpd bayar ahli
Satu bulan setelah kematian AFFAN dilindas barrakuda:
- Kapolri, Kapolda, dan Kakor Brimobnya masih sama;
- proses pertanggungjawaban hukum pidananya belum ada;
- proses etiknya belum final, putusan yang ada malah merusak logika;
Ketika negara tak menghargai nyawa, bubar saja!
Anda kenal Ponpes Al Khoziny. Pesantren tua, tapi manajemennya baru.
Senin sore. Pukul tiga. Ratusan santri sedang salat Asar berjemaah di musala. Tempat suci. Tapi tempat itu berubah jadi kuburan beton. Bangunan tiga lantai itu ambruk.
Korban jiwa. Luka parah. Semua karena apa? Bukan takdir. Ini murni dosa konstruksi.
Sejarahnya begini: Bangunan itu aslinya direncanakan hanya satu lantai. Tapi, maunya pengelola lain. Terus ditambah ke lantai dua, lalu ke lantai tiga. Tanpa hitungan. Pondasi yang harusnya menanggung beban satu lantai, dipaksa menanggung tiga kali lipat.
Ini namanya meremehkan fisika.
Puncaknya di hari nahas itu. Saat pengecoran lantai paling atas dilakukan, penopangnya jebol. Tak kuat menahan beban. Begitu satu titik ambrol, sisanya ikut menyerah. Runtuh total.
Apa buktinya kelalaian?
* Tidak Ada IMB. Bupati Sidoarjo sendiri yang bilang. Lembaga pendidikan sekelas ini membangun tanpa izin. Legalitas diabaikan.
* Aktivitas Jalan Terus. Saat beton basah di atas, nyawa santri di bawah dijadikan taruhan. Mereka salat tepat di bawah risiko tertinggi pembangunan. Mana logikanya?
Ini bukan sekadar kecelakaan. Ini adalah tragedi kesembronoan massal.
Para ahli sudah bersuara: Kelalaian kontraktor, dan kelalaian pengelola pesantren. Keduanya sama-sama bertanggung jawab atas kematian yang tak perlu ini. Mereka tahu ini bangunan tua yang dimodifikasi tanpa standar. Tapi mereka memilih diam.
IMB diabaikan. Ilmu teknik diabaikan. Keselamatan diabaikan.
Sidoarjo kini punya monumen duka baru: Reruntuhan yang mengajarkan, bahwa membangun rumah ibadah pun harus pakai akal sehat, bukan cuma niat.
Setelah ini, apa jaminan bahwa pesantren dan sekolah lain tidak akan mengulangi "dosa teknis" yang sama?
Ending Genocide, Enforcing Justice
The world cannot continue to pretend that reasonable solutions will be possible so long as Israel remains under the leadership of Benjamin Netanyahu’s regime. His government has overseen a genocidal campaign that has crossed the threshold of humanity’s most serious crime. Until accountability is enforced and the present path is altered, the prospect of genuine peace will remain obstructed.
At this moment, the most urgent priority is not abstract negotiations, but the immediate cessation of the ongoing genocide in Gaza and the lifting of the inhumane blockade that strangles its people. The United Nations Independent International Commission of Inquiry on the Occupied Palestinian Territory has already determined that Israel is committing genocide in Gaza. There is no moral or legal basis to soften this language. Meanwhile, the International Criminal Court has issued an arrest warrant against PM Netanyahu for war crimes and crimes against humanity. The international community must recognize that words of condemnation alone are no longer sufficient. Justice must follow!
The logical next step is to ensure that these crimes are prosecuted before an international tribunal. Anything less would be an abdication of the duty to uphold international law and human dignity. Some nations in the West have begun to recognize the State of Palestine, an overdue act that tragically required the enormity of genocide to compel action. But this must not be the endpoint. The next decisive move is to secure Palestine’s full membership in the United Nations, affirming the rights of its people in the family of nations.
Only after halting the genocide, securing justice for the victims, and ensuring Palestine’s rightful place in the international order, can we begin to speak of a sensible, durable solution for all. Until then, the credibility of the international system itself hangs in the balance. For it is not only Gaza that is under siege, but also the very principles of justice and humanity on which our common future depends.
Terima kasih sudah mengakui bahwa Anda penjilat.
Penjilat kalau tidak bisa membalas argumen memang hanya bisa menggeser topik.
Silakan cari bukti saya menjilat siapa. Ditunggu.
Cc @prabowo@pertamina