Dia memang cuek, tidak banyak tuntutan dalam rumah tangga. Tapi karena terlalu cuek akhirnya aku merasa sendiri membangun tangga dihubungan kami. Sendiri.
Yang tinggal dirumah itu hanya aku dan anak-anak. Kepada manusia mana lagi saya berharap perlindungan, jika payung pelindung keluarga kami selalu dengan mudahnya pergi jika diterpa badai pertengkaran kecil.
Katanya jika dia pergi aku tidak akan repot lagi dan kami tidak akan bertengkar lagi. Ku jelaskan, jika suatu saat nanti kita telah memiliki rumah, ditinggali oleh aku, dia dan anak-anak. Lantas kami bertengkar, dia akan kabur entah kemana.
Aku lelah. Kunci kamar dan kunci mobil yang sebelumnya ku tahan agar dia tidak pergi. Akhirnya kuberikan kepadanya. Kenapa aku menahan orang yang ingin pergi ?
Ku pukul diriku, dia menghentikannya, menarik tanganku lalu melepasnya kembali. Sembari berkata jika ia tidak akan pergi malam ini tapi nanti akan pergi.
Ku bujuk dia. Mencoba bermanja. Meminta dia mengambilkanku sepiring nasi dan lauk yang susah payah ku buat ditengah kelaparanku. Tapi, dia diam sembari berkata jika tidak tahu lauknya disimpan dimana. Padahal dia pasti tau, lauk itu ada di dapur atau di atas kulkas.
Kuturunkan egoku. Kupeluk dia sambil minta maaf karena telah emosi. Tapi apa yang ku dapatkan? Pelukan balasan? Kecupan? Permintaan maaf darinya? Tidak. Dia hanya bergeming, tetap ingin pergi.
Ku turunkan ego ku. Ku jelaskan apa permasalahan kami. Apa yang menjadi pertengkaran kami. Aku meminta maaf karena saya salah mengartikan isi telponnya sore sebelum pertengkaran itu terjadi. Tapi, dia tetap ingin kabur. Pergi untuk menghindar menyelesaikan permasalahan kami.
Katanya buat apa minta maaf dan terimakasih dalam sebuah pernikahan khususnya hubungan suami istri. Tapi menurutku dalam semua hubungan, kata maaf dan terimakasih adalah tanda menghargai orang lain.
Kata dia bertahan selama ini itu sudah menunjukkan bahwa dia sayang. Tapi menurutku dia bertahan bukan karena sayang, tapi karena terlanjur menikahiku.