Ulang tahun Indonesia kali ini dibuka dengan pertanyaan. Bagaimana kita memaknai kemerdekaan? Di bidang apa kita hari ini belum sungguh-sungguh merdeka?
Dalam dua hal yang paling fundamental, pendidikan dan kepastian hukum, kita masih menyimpan banyak pekerjaan rumah.
Berbagai gagasan bangsa, tapi seringkali tidak mampu terinstitusionalisasikan. Sebagian akarnya, saya kira, ada pada kecenderungan kita berdebat soal ideologi, alih-alih memastikan tata kelola yang baik.
ย
Kita selalu ingin diidentifikasi berpihak pada rakyat. Tapi keberpihakan itu sering berhenti pada simbol, belum menjadi tatanan ekonomi yang benar-benar dibangun.ย
Ketika tata kelola dikesampingkan, yang terjadi hanyalah pengelolaan gejala: yang miskin diberi bantuan, yang menengah menyempit, dan penciptaan nilai tak kunjung tumbuh.
Akar lainnya ada pada kepastian hukum. Modal, di mana pun, hanya tinggal di tempat yang aturan dan penegakannya bisa dipercaya.
Singapura menarik investasi asing sekitar USD 19.338 per kapita.
Indonesia hanya sekitar USD 116.
ย
Persoalannya bukan geografi atau kekayaan alam, melainkan jaminan hukum. Dan ketika modal tak masuk membangun pabrik, informalisasi menjadi niscaya. Manufaktur, tangga menuju kelas menengah, tak pernah benar-benar tumbuh.
Di dunia yang makin multipolar, kita punya banyak pilihan. Tapi banyaknya pilihan tidak otomatis melahirkan kemandirian.
Di sinilah kita butuh deksteritas geopolitik, kemampuan berayun layaknya swing nation.
Merapat ke Tiongkok untuk teknologi,
ke Barat untuk kapital ekonomi,
tanpa terjebak berpindah dari satu orbit ketergantungan ke orbit yang baru.
Tapi optionality itu hanya berarti kalau bisa kita terjemahkan menjadi produktivitas. Dari sekadar mengekstraksi komoditas, menuju penciptaan pengetahuan dan nilai.
ย
Dan itu berpangkal pada kualitas berpikir sebuah bangsa, yang dibentuk oleh pendidikan dan guru.
ย
Singapura merekrut guru dari 20% lulusan terbaik.
Di Indonesia, median gaji guru masih jauh dari layak.
Padahal 90% pembentukan otak anak terjadi sebelum usia 9 tahun. Jika imajinasi tak dipicu di usia emas itu, masa depan kognitif seorang anak jauh lebih sulit diubah.
Merdeka, pada akhirnya, juga berarti pemerataan public goods.
Terima kasih kepada @megainstitute untuk diskusinya.
@hilmarfarid
Flight dari Adelaide-Bali, lanjut travel ke Banguwangi & bus ke Yogyakarta ditempuh lebih dari 24 jam. Niat bulat & punya tujuan yang jelas. Dengan tegas saya bilang โMemang benar saya harus diperjuangkan se ugal-ugalan iniโ. Terima kasih, pria tampan & pemberani๐ซถ๐ป
PERNYATAAN SIKAP KAGAMA BERGERAK
Keputusan terminasi akun dan email alumni UGM yang minim transparansi menunjukkan degradasi kualitas dan integritas dalam pengelolaan institusi. Dialog serta evaluasi kebijakan harus dilakukan guna menjaga marwah UGM sebagai institusi pendidikan.