Indonesia’s free meal scheme is under renewed scrutiny after the recently dismissed head of the programme was arrested on corruption charges. The initiative aims to provide a free daily meal to schoolchildren and pregnant women.
Al Jazeera’s @JesWashington reports.
Ini sudah keterlaluan.
PP terbaru Danantara (PP 19/2026 Pasal 31A) buka jalan APBN suntik modal ke holding Danantara lewat pintu belakang.
Dividen BUMN hilang dari APBN,
tapi Danantara boleh minta injeksi dana negara seenaknya.
Negara gak boleh dapat duit dari BUMN, tapi Danantara boleh minta duit negara?
Udah gila bener ini negara. Uang pajak rakyat diputar untuk kepentingan apa?
https://t.co/bBwHo9hQGy
@kalifahfattah @lihapwy @daralucu Betul memang bahwa ada perawi yg tingkat hafalannya kurang sempurna. Tapi karena syadz dan 'illah, maka hadits tsb maqbul dan sah dijadikan hujjah.
Jangan juga mengatakan hadits hasan sebagai hadits lemah, apalagi palsu. Justru itu yg berbahaya. Wallahu'alam
@kalifahfattah @lihapwy @daralucu Pahami arti hadits hasan. Hadits yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi adil, namun tingkat hafalan (dhabt) kurang sempurna dibanding perawi shahih, tetapi tdk ganjil (syadz) dan tdk cacat ('illah). Ini adalah hadits Maqbul (diterima) dan sah dijadikan hujjah/dalil.
@lihapwy @daralucu Betul memang bahwa ada perawi yg tingkat hafalannya kurang sempurna. Tapi karena syadz dan 'illah, maka hadits tsb maqbul dan sah dijadikan hujjah.
Jangan juga mengatakan hadits hasan sebagai hadits lemah, apalagi palsu. Justru itu yg berbahaya. Wallahu'alam.
@lihapwy @daralucu Pahami arti hadits hasan. Hadits yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi adil, namun tingkat hafalan (dhabt) kurang sempurna dibanding perawi shahih, tetapi tdk ganjil (syadz) dan tdk cacat ('illah). Ini adalah hadits Maqbul (diterima) dan sah dijadikan hujjah/dalil.
@TomWrightAsia Ibam & Nadiem are obviously in different positions. Ibam’s just only consultant, while Nadiem’s the decision maker. Those kind of big projects in Indonesia are always follow by corruption. The problem is, Ibam was stupid enough to agree to joined with Nadiem’s team. Big mistake!
My God.
Please listen to me instead:
It’s important to remember that although scientists estimate the ocean produces at least 50% of the oxygen on Earth (from oceanic plankton — drifting plants, algae, and some bacteria), roughly the SAME AMOUNT IS CONSUMED BY MARINE LIFE.
So unless you are a fish, don't rely too much on it.
We need forests because they are crucial for air quality, regulate the climate by absorbing massive CO2, prevent erosion and landslide, support biodiversity, and provide oxygen that stays in the atmosphere longer because it's not consumed by marine decomposition, UNLIKE much of the ocean's oxygen.
https://t.co/wFqpKpYjHr
@xendless_s Wkt gue kecil, bpk gue pejabat, dpt rumah dinas, mobil dinas, fasilitas lengkap.
Kalo bokap gue mau anter gue sekolah, gue nolak krn kita malu pakai mobil plat merah. Knp? Temen gue tau, itu bukan mobil gue. Pake mobil dinas itu artinya org miskin, gak sanggup beli mobil sendiri.
𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗕𝗔𝗚𝗜 𝗣𝗔𝗥𝗔 𝗣𝗘𝗠𝗜𝗠𝗣𝗜𝗡…
Terima kasih Mas Dr. Sukidi, untuk terus mengingatkan para pemimpin kita; para penjaga dan penentu masa depan bersama.
Saya setuju: “korupsi adalah pembunuh ekonomi bangsa”. Alasannya gak perlu lagi dijelaskan. Semua sudah jelas dan cetho welo-welo, terang benderang.
Yang diperlukan adalah melakukan tindakan membersihkan negeri ini dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
Mohon terus bicara Mas. Jangan pernah lelah mencintai Indonesia…
𝗧𝗨𝗡𝗧𝗨𝗧𝗔𝗡 𝗕𝗘𝗥𝗨𝗟𝗔𝗡𝗚…
Tahun 1974, salah satu tuntuan demonstrasi Malari adalah “Bubarkan Aspri Presiden”; karena dianggap memberi masukan yang salah dan membuat Presiden “terisolasi” dari keadaan sebenarnya.
Apakah keadaan ini juga terjadi pada dewasa ini?? Pembayar Pajak layak bertanya.
Karena rakyat berhak atas tata kelola, tata negara, dan tata etika yang baik dari para Pengurus Negara.
𝗔𝗟𝗘𝗥𝗧𝗔…
Mussolini, Hitler, Pol Plot hingga Idi Amin, adalah sejarah otoritarianisme yang menyebabkan nestapa dan kesengsaraan tidak saja warga negaranya, tetapi warga dunia.
Dr. Sukidi menjelaskan dengan gamblang, bagaimana rejim otoriter membangun dirinya, bekerja, dan menimbulkan kerusakan begitu dahsyat.
Sebelum telanjur, mari kita waspada dan terus saling mengingatkan; untuk mencegahnya.
Indonesia kita milik bersama, bukan segelintir penguasa, bukan pula satu atau dua keluarga.