Nah demo tuh gini loh pak polisi jakartaaaaaa, tugasnya polisi tuh jaga masa biar demonya damai sama kolektif bukannya malah di usir”
polisi jakarta tes beda sama polisi jojga?
nihh polisi jogja bukan ngejaga
bukan menghalangi pendemo kocak
aku sedihh liat ini… karena aku tau kalo from the very beginning WE NEVER HATED INDONESIA. not even a bit. yang kita benci tuh korupsinya, nepotisme, keserakahan oligarki, dan orang yg dzalim. we love this country so much, and that’s why it hurts to see it getting ruined by them
@KangManto123 gapapa ndut monitor aja, yang penting lo mati dulu deh udah seneng banget kita mah. tapi yang jadi pertanyaannya adalah... kan lo masih di alam kubur ndut... masa lo mau duluan ke atas? siapa lukh curi-curi start? ordal akhirat, ndut? 😭💩
🚨Kalian harus tahu ini ⚠️⚠️⚠️
DAFTAR PERUSAHAAN SHARLY TJOANDA PENGHANCUR PULAU DI MALUKU UTARA
1. PT Karya Wijaya : menghancurkan Pulau Gebe
2. PT Bela Sarana Permai : menghancurkan Pulau Obi, Desa Wooi
3. PT Amazing Tabara : menghancurkan Pulau Obi, Desa Sambiki
4. PT Indonesia Mas Mulia : menghancurkan Pulau Bacan
5. PT Bela Kencana : menghancurkan Pulau Obi, Desa Soligi
Dan masih banyak lagi perusahan cangkangnya yang merusak
Sumber: JATAM
Total kekayaan Sharly Tjoanda hampir 1 Triliun Rupiah, menjadikannya gubernur terkaya se-Indonesia.
Sepertinya Sharly Tjoanda tidak butuh gaji sebagai Gubernur Maluku Utara. Yang dibutuhkannya adalah posisi strategis untuk mengatur regulasi agar bisnis tambang keluarganya semakin lancar.
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir.
Dan dia ngomongnya
bukan sebagai pembela Nadiem.
Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja.
Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah:
Ahok bilang dengan sangat tegas:
pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.
Chromebook itu bukan laptop biasa.
Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.
Harganya jauh lebih terjangkau
dari laptop konvensional.
Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.
Ahok kasih contoh nyata.
Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.
Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.
Itu bukan mimpi.
Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.
"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.
Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."
Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat:
Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:
"Saya pikir ini sengaja."
Logikanya sederhana dan sangat keras.
Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.
Lebih sulit dibohongi.
Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu.
Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa.
Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.
MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama.
Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.
"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus,
kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?"
Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:
Ahok tidak berhenti di situ.
Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas.
Pemerintah melakukan survei.
Rakyat bilang mereka suka makanan gratis.
Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.
Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan.
Tapi Ahok membaliknya:
kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata.
Itu bukan preferensi yang genuine.
Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi.
"Mereka juga pintar.
Dia survei, Pak.
Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi."
Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun:
Ahok tidak membela Nadiem secara personal.
Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah:
Menteri itu tidak pernah menyentuh
anggaran secara langsung.
Menteri membuat kebijakan.
Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya.
Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah:
apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit?
Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri?
PPATK sudah menjawab:
tidak ada.
Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
"Saya pikir ya ini soal profesionalisme.
Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya."
Ahok tidak sedang bicara soal
Chromebook sebagai produk.
Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa:
apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?
MBG memberikan makan hari ini.
Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup.
Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan.
Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.
Guys, ada satu pelajaran dari kisah Maia Estianty yang menurut gue jauh lebih penting dari semua drama yang biasanya jadi headline.
Dan pelajaran itu bukan soal siapa yang menang atau kalah dalam perseteruan dengan mantan.
Bukan soal cincin berlian atau baju seragaman di pernikahan anak.
Pelajarannya adalah ini:
kenapa Maia bisa bangkit dan bangkit dengan sangat baik.
Jawaban paling jujurnya:
karena dia tidak pernah berhenti jadi dirinya sendiri.
Sebelum jadi istri Ahmad Dhani Maia sudah bermusik.
Sudah punya skill.
Sudah punya identitas yang berdiri sendiri di luar status pernikahannya.
Ketika pernikahan itu hancur yang runtuh adalah hubungannya.
Bukan dirinya.
Bukan kemampuannya.
Bukan koneksinya.
Bukan reputasinya sebagai musisi.
Dan itu bukan kebetulan.
Itu adalah hasil dari pilihan sadar atau tidak untuk tidak sepenuhnya mendefinisikan diri lewat status sebagai istri siapa.
Soal uang dan ini perlu dibicarakan dengan jujur tanpa basa-basi:
Ada yang bilang uang bukan segalanya.
Itu benar.
Tapi ada yang lebih berbahaya dari kalimat itu: berpura-pura bahwa uang tidak penting dalam proses bertahan hidup setelah kehidupan hancur.
Ketika dunia seseorang runtuh uang menentukan pilihan apa yang tersedia.
Maia tidak perlu memilih antara bertahan di situasi buruk atau kelaparan.
Dia tidak perlu bergantung pada belas kasihan siapapun untuk membiayai hidupnya.
Dia tidak perlu mengorbankan harga dirinya hanya karena tidak ada opsi finansial lain.
Itulah yang disebut safety net jaring pengaman.
Dan bagi perempuan Indonesia yang rata-rata masih sangat bergantung secara finansial pada pasangan ini bukan kemewahan.
Ini adalah sesuatu yang seharusnya diperjuangkan sejak dini.
Akses ke psikolog terbaik butuh uang.
Akses ke pengacara yang kompeten butuh uang.
Kemampuan untuk menarik diri dari situasi toksik tanpa panik soal besok makan apa butuh uang.
Bukan berarti yang tidak punya uang tidak bisa bangkit.
Tapi kecepatan bangkitnya dan beratnya beban yang harus ditanggung sendirian selama proses itu sangat dipengaruhi oleh kondisi finansial.
Yang membuat Maia berbeda dari sekadar "perempuan kaya yang beruntung":
Kekayaan bisa habis.
Rumah bisa disita.
Aset bisa diperebutkan di pengadilan.
Tapi ada tiga hal yang tidak bisa dicuri dari Maia dan inilah yang sebenarnya menyelamatkannya:
Skill.
Kemampuan bermusik, memproduksi, menciptakan lagu itu ada di dalam kepalanya. Tidak bisa diambil oleh siapapun melalui proses hukum apapun.
Koneksi.
Jaringan yang dibangun selama bertahun-tahun di industri musik itu ada di relasinya dengan orang-orang.
Tidak bisa dihapus dengan satu keputusan cerai.
Identitas.
Maia Estianty adalah nama yang punya bobot sendiri di industri bukan hanya sebagai istri atau mantan istri siapa. Itu adalah personal brand yang dibangun dari kerja nyata selama bertahun-tahun.
Tiga hal ini yang memberikan Maia bargaining power posisi tawar yang tinggi bahkan di titik terburuk hidupnya.
Ini yang paling sering tidak disadari perempuan sampai terlambat:
Banyak perempuan Indonesia yang ketika menikah secara perlahan atau cepat melepaskan karir, koneksi, dan identitas profesionalnya.
Alasannya beragam: fokus ke keluarga, suami tidak mengizinkan, tidak ada waktu, tidak ada dukungan.
Dan itu adalah pilihan yang sah.
Tidak ada yang salah dengan memilih fokus ke keluarga.
Tapi yang berbahaya adalah ketika dalam proses itu seseorang kehilangan kemampuannya untuk berdiri sendiri.
Ketika identitasnya menjadi sepenuhnya terikat pada status pernikahannya.
Ketika kemampuan finansialnya sepenuhnya bergantung pada pasangan.
Karena kalau kemudian pernikahan itu bermasalah dan pernikahan bisa bermasalah pada siapapun, tidak peduli seberapa baik kamu atau seberapa keras kamu berusaha maka tidak ada safety net yang tersisa.
Yang ada hanya dua pilihan:
bertahan di situasi yang mungkin sudah tidak sehat karena tidak ada opsi lain. Atau pergi dengan tidak membawa apa-apa.
Definisi High Value Woman yang sebenarnya dan ini bukan soal flexing:
Banyak konten di media sosial yang mendefinisikan High Value Woman sebagai perempuan yang punya standar tinggi dalam memilih pasangan, yang tidak mau direndahkan, yang tahu harga dirinya.
Semua itu benar.
Tapi ada fondasi yang lebih dalam dari semua itu.
High Value Woman bukan perempuan yang merasa tidak bisa direndahkan.
Tapi perempuan yang secara objektif punya pilihan untuk tidak membiarkan dirinya direndahkan — karena dia punya kemampuan untuk keluar dari situasi itu kalau dia mau.
Maia bisa perg bukan karena dia berani saja.
Tapi karena dia mampu.
Keberanian tanpa kemampuan sering kali tidak cukup ketika realita finansial menghantam.
Pelajaran praktis yang bisa langsung diterapkan bukan hanya inspirasi kosong:
Satu — jangan pernah sepenuhnya melepaskan skill yang kamu miliki hanya karena sudah menikah. Pertahankan.
Kembangkan.
Bahkan kalau tidak aktif dipakai jaga agar tidak berkarat.
Dua — punya penghasilan sendiri, meski kecil, lebih penting dari yang banyak orang sadari.
Bukan untuk pamer.
Tapi untuk memastikan identitas finansialmu tidak sepenuhnya tergantung pada satu sumber yang bisa kapan saja berubah.
Tiga — bangun dan jaga koneksi di luar lingkaran keluarga inti. Teman lama, kolega profesional, komunitas yang relevan.
Koneksi adalah aset yang nilainya sering tidak kelihatan sampai kamu benar-benar membutuhkannya.
Empat — investasi ke skill baru tidak pernah salah.
Maia belajar bisnis skincare ketika industri musik berubah.
emampuan untuk beradaptasi dan belajar hal baru adalah salah satu aset paling berharga yang bisa dimiliki siapapun.
Lima — dan ini yang paling penting jangan tunggu situasi darurat untuk mulai memikirkan kemandirian finansial.
Safety net yang dibangun sebelum badai datang jauh lebih kuat dari yang dibangun di tengah badai.
Tapi ada satu hal yang perlu ditambahkan supaya ini tidak jadi narasi yang terlalu sempurna:
Maia berhasil dan itu nyata.
Tapi Maia juga memulai dari posisi yang jauh lebih beruntung dari rata-rata perempuan Indonesia. Dia sudah punya platform, jaringan, dan skill yang diakui industri.
Bagi perempuan yang tidak punya starting point seperti itu perjalanannya jauh lebih berat.
Dan itu bukan kegagalan mereka.
Itu adalah realita sistem yang memang belum cukup mendukung kemandirian perempuan secara struktural.
Jadi kalau ada yang mau mengambil pelajaran dari Maia ambillah spiritnya:
jangan berhenti berdaya, jangan lepaskan identitas dirimu, jangan bergantung sepenuhnya pada satu sumber.
Tapi jangan lupa bahwa tidak semua orang bisa menempuh jalan yang sama.
Dan itu bukan alasan untuk menyerah tapi alasan untuk lebih keras mencari jalannya sendiri.
Maia Estianty bukan hanya perempuan yang berhasil move on dari mantan yang terkenal.
Dia adalah contoh nyata dari apa yang terjadi ketika seorang perempuan tidak pernah berhenti berinvestasi pada dirinya sendiri bahkan di tengah kehidupan rumah tangga yang penuh sorotan.
Mandiri finansial bukan soal tidak butuh siapapun. Bukan soal tidak mau dibantu. Bukan soal anti ketergantungan.
Ini soal memastikan bahwa setiap pilihan yang kamu buat dalam hidup termasuk pilihan untuk tetap bertahan atau untuk pergi adalah pilihan yang benar-benar bebas.
Bukan pilihan yang dipaksakan oleh ketiadaan opsi.
Dia bertahan karena ingin.
Dan pergi karena mampu.
Itu adalah kalimat yang menurut gue paling menggambarkan definisi sejati dari kebebasan.
cc: bagasitaswara
Guys, ada berita hari ini yang menurut gua adalah salah satu hal paling mengejutkan yang bisa terjadi dalam tata kelola keuangan negara.
Pemerintah sudah membuka 35.476 lowongan kerja untuk manajer Koperasi Desa Merah Putih. Pendaftaran sudah dibuka sejak 15 April dan ditutup 24 April 2026 besok.
Tapi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa orang yang bertanggung jawab atas kas negara mengaku tidak tahu dari mana uang untuk menggaji puluhan ribu pegawai itu akan datang.
Kata-katanya sangat eksplisit.
Koperasi saya enggak tahu.
Yang lain saya enggak paham.
Berhenti sebentar dan pahami itu.
35.000 orang lebih akan direkrut sebagai pegawai BUMN. Gajinya belum ditentukan secara detail Zulhas hanya bilang menyesuaikan tingkat kelulusan.
Sumber anggarannya tidak jelas Menkeu hanya tahu cicilan Rp40 triliun per tahun untuk koperasi tapi tidak tahu apakah itu sudah termasuk gaji pegawai atau belum.
Dan proses rekrutmen sudah berjalan penuh tanpa ada kejelasan fiskal yang konkret.
Ini bukan pertama kali pola seperti ini terjadi.
MBG diluncurkan 6 Januari 2025 sementara anggarannya masih diblokir dan belum bisa dicairkan. Mitra direkrut, dapur dibangun, makanan dikirim semua pakai uang sendiri dulu sambil menunggu reimbers yang entah kapan.
Baru belakangan sistem dibenahi.
Motor listrik Rp1,2 triliun untuk BGN muncul di anggaran tanpa penjelasan yang memadai tentang relevansinya dengan program makan bergizi.
Proyek IT Rp1,2 triliun yang klarifikasinya hanya narasi tanpa data yang bisa diverifikasi publik.
Dan sekarang 35.000 pegawai BUMN direkrut dengan sumber gaji yang bahkan Menkeu sendiri tidak tahu.
Polanya sangat konsisten dan sangat mengkhawatirkan.
Program diluncurkan dulu, rekrutmen dibuka dulu, pengumuman dibuat dulu sementara pertanyaan paling fundamental tentang dari mana uangnya dijawab dengan nanti saya pastikan.
Yang membuat ini lebih serius adalah konteksnya sekarang.
Tiga Dirjen di Kemenkeu baru saja dicopot bersamaan kemarin. Ada isu APBN yang hanya mampu bertahan tiga bulan ke depan yang belum dikonfirmasi atau dibantah dengan data konkret.
Ruang fiskal sudah sangat tertekan dengan MBG yang menyedot hampir Rp1 triliun per hari, perang Iran yang membuat harga energi melonjak, dan penerimaan pajak yang tertekan.
Di tengah semua tekanan fiskal itu pemerintah membuka 35.000 lowongan baru tanpa kejelasan anggarannya.
Ada juga pertanyaan teknis yang sangat serius soal rekrutmen ini yang perlu dijawab.
Pertama — status pegawainya adalah karyawan BUMN.
Koperasi Desa adalah entitas yang secara hukum berbeda dari BUMN. Lalu mengapa rekrutmennya melalui Panselnas dan statusnya BUMN?
Ini adalah pertanyaan legal yang sangat mendasar.
Kedua — 30.000 dari 35.476 posisi berada di bawah PT Agrinas Pangan Nusantara.
Ini adalah perusahaan yang baru dibentuk.
Apakah PT ini sudah memiliki struktur corporate governance yang memadai untuk mengelola 30.000 pegawai sekaligus?
Ketiga — rekrutmen menutup usia maksimal 25 tahun. Artinya ini menyasar fresh graduate dan diploma baru lulus.
Dengan gaji yang belum jelas, ditempatkan di koperasi desa yang baru dibentuk, dengan status yang tidak jelas antara BUMN atau bukan ini adalah kondisi kerja yang sangat tidak ideal dan berpotensi mengorbankan puluhan ribu anak muda.
ketika Menteri Keuangan sendiri bilang tidak tahu sumber anggaran untuk program yang sudah berjalan dan sedang direkrut puluhan ribu pegawainya, itu bukan sekadar masalah komunikasi antar kementerian.
Itu adalah bukti bahwa program-program besar ini diluncurkan tanpa perencanaan fiskal yang matang dan terkoordinasi.
Dan yang paling menggelisahkan adalah ini sudah terjadi berulang kali dengan pola yang sama.
Luncurkan dulu, urus anggarannya belakangan.
Dan yang selalu menanggung konsekuensinya adalah uang pajak rakyat yang terus mengalir tanpa kepastian akan ke mana dan untuk apa tepatnya.
Kun Faya Kun‚ you will bloom again‚ you will heal. You will be smiling again with your whole heart. Keep Sab'r because after all patience‚ there is something beautiful for you.