@worksfess Lulus, dapet kerja dengan gaji diatas UMR, kerjaan enak, lingkungan dan tempat kerja ngga toxic, temen sedivisi helpful dan supportif. Terserah deh dapet tempat kerja di mana, yang penting gaji amat sangat cukup
YA ALLAH, I WISH KETERIMA DI TEMPAT KERJA YANG GREENFLAG DALAM WAKTU DEKAT, JAM KERJA 9-5, CUTI GA DIPERSULIT, SABTU MINGGU LIBUR, GAJI GEDE, KERJAAN SESUAI PASSION, DEKET RUMAH, DAN DAPET ATASAN DAN REKAN YANG BAIK, AAMIIINN.
Normal ngga sih pengen jadi budak korporat di jakarta ? 😭☝🏻, aku pengen bgt ngerasain pulang macet macetan itu, atau ngga melamun di bus sambil perjalanan pulang sambil ngerasa hidup ga adil bgt 😭😭, trus galau sambil liat citylight 😭, MAU BGT PLS
Hari ini pake seragam polo shirt baru dari sekolah.
Salah satu murid gue (kelas 12) nyeletuk “Haha… Miss seragamnya kayak seragam cleaner kita.”
I stopped at my track. Eyebrows raised.
I let silence speaks.
Itu salah satu cara gue untuk koreksi sikap. Tanpa kata-kata, membiarkan keheningan mengajar.
Murid2 gue langsung tau udah ngomong salah.
“Sorry, Miss”
Let’s evaluate first. What’s potentially wrong with your previous sentence?
“I said u looked like the cleaner”
Oh but why? Pak X (the name of the cleaner) works HARD and thorough every single day. He clocks in at 6.30, clocks out at 4.30 without failing. The floor is shining. The desk is shimmering. The job is paying his bills, providing food for his family too, decent, halal, and amazing. What’s wrong with looking like Pak X?
“Yes, Miss. Sorry”
What are u sorry for this time? He’s a hard worker and I aspire to be just that.
“Yes, Miss, okay.”
What potentially be wrong is the unspoken behind your words, nak. I dunno ur intention but it sounded like u looked down at his profession… which is wrong. I don’t feel humiliated bcz nothing is wrong with “keliatan kayak cleaner”, it is the possible tone and the intention that potentially makes it mean… and wrong. You are a kind person, I know u, and you never want to be mean… intentionally ofc.
“Ya Miss, sorry.”
Please be kind. Dismissed.
😤
Ya Allah pengen dapet kerja plisss. Semoga setelah huru hara yudisium ini, hadiah dari Allah dikasih pekerjaan yang baik, lingkungan dan tempat kerja yang ngga toxic, salary up to umr, weekend kerjanya libur, mental health pun tetep aman, temen2nya supportive
buat para jobseeker, gue doain cepet dpt offering letter dari perusahaan green flag, gaji 2 digit, jobdesk jelas no rangkap, lingkungan ga toxic, cuti ga ribet, ada jenjang karier, jauh dari drama nepotisme & korupsi, bisa ibadah, pulang teng go. bonusan halalan ṭayyiban. aamiin
Bener kata bang Pandji. Orang ini dari kecil hidup dari keluarga kaya yg membuat tidak ada org yg berani mendebat dia, semua keinginannya pasti dituruti. Saudara, ART, dan temannya pasti mengiyakan dia. Mungkin cuma orang tuanya yg bisa bilang 'tidak' ke dia (itupun kalo orang tuanya tegas).
Ditambah dia masuk militer yg emg sistemnya 'siap ndan'. Semua hal dilakukan atas perintah atasan, bukan hasil duduk bareng dan saling challenge pendapat seperti di lingkungan kampus.
Udah gitu jadi ketua partai pula. Tau sendiri partai di Indonesia itu fanboy club. Ngga ada ideologi tapi semua arah partainya ditentukan tokoh partai tersebut. Hampir semua bawahannya pasti ABS.
So, selama dia hidup ngga biasa dgn kritikan. Karena dia biasa diiyain segala keinginannya. Sampai pada titik dia jadi presiden. Yg mana presiden adalah jabatan publik. Banyak org yg mengawasi dan mengkritik.
Alhasil pas jadi presiden ya begini. Kaget kalo ternyata dia bisa dikritik orang banyak dan dihajar kanan kiri. Jadi lgsg cap yg kritis itu nyinyir, antek asing, musuh negara, dll.