Have you lost your humanity?
Mengatasnamakan moral untuk membenarkan kekerasan hanya akan membuat nilai moral itu kehilangan maknanya. Tidak ada satu pun keyakinan yang menjadi izin untuk menganiaya orang lain. Jika yang dipilih adalah kekerasan, yang sedang dipertontonkan bukan moralitas, melainkan kebencian.
Waktu SMA, pikiranku soal kaum LGBT juga begini. Dulu inget banget pas jam kosong aku sama temen-temen lagi ngobrol. Terus ada yang nanya, "Kalau gay kan bisa saling tusuk, nah kalau lesbi ngapain?" Terus temenku dengan pedenya jawab, "Ya pakai dildo lah." 😭😭😭. Dulu bayanganku tentang LGBT ya di urusan seks doang.
Tapi semenjak kuliah, pandanganku mulai shifted. Aku jadi sadar kalau kaum LGBT ya sama aja kayak manusia pada umumnya, cuma ketertarikannya aja yang berbeda.
"Manusia pada umumnya" itu maksudnya apa? Ya mereka juga kuliah, kerja, ngeluh soal tugas, ngobrolin film, main game, curhat, nongkrong, pusing sama hidup, ketawa-ketawa bareng temen. Aktivitas sehari-harinya ya biasa aja.
Kalau kamu punya temen, biasanya apa yang diobrolin? Ya kehidupan sehari-hari kan? Kerjaan, tugas, hobi, makanan, gosip, rencana liburan.
Nah, kalau suatu hari kamu tahu ternyata temenmu LGBT, apa kamu langsung nanya, "Eh, kemarin pasti ngewe lewat pantat ya?" Kan enggak juga. Itu sama anehnya kayak kalau ketemu temen hetero terus langsung nanya, "Eh, semalam habis ngewe ya?" kan gak gitu ga sih?
Kadang kita tanpa sadar mereduksi satu kelompok orang cuma dari kehidupan seksualnya, padahal identitas mereka jauh lebih luas dari itu. Mereka ya manusia biasa yang kebetulan punya ketertarikan yang berbeda doang. Dah itu aje
kapan ya org Indo ni kek beneran mikirin urusan dia sendiri gt loh, mau org boti kek, baskara pro lgbt, santri lesbi, tukang bakso suka ketoprak, tukang siomay straight, kucing homo, jenlisa real atau apalah kek terserah individu itu gak sih😭
If Wes Anderson ever filmed in western China, it might look something like this.
At Ge Mo Monastery, a Tibetan Buddhist monastery on the high plateau of western Sichuan:
crimson robes passing beneath enormous golden walls,
windows repeating in quiet symmetry,
color and geometry everywhere you look.