Joe Rogan & Tony Hinchcliffe discuss Ye's recent series of pop-up stadium shows 👀
“You have to see what Kanye’s doing right now — it’s a historical moment in all of art … it’s the f**king greatest production I’ve ever seen of anything”
Tony Hinchcliffe says Ye’s stadium shows are the greatest live production he’s ever seen and shares that he turned one of his friends into a diehard Ye fan after bringing him to the show.
“It’s a historical moment in all of art. It’s unbelievable.”
Lagi ramai narasi kebijakan fiskal dan moneter Indonesia "tabrakan".
BI naikin rate 100 bps dalam 2 bulan sambil nyerap likuiditas via SRBI.
Di saat yang sama Kemenkeu melebarkan defisit dan menempatkan dana pemerintah Rp400 triliun di Himbara.
Satu ngerem, satu ngegas.
Kalau kombinasinya begini, rupiah arahnya ke mana?
Based on framework klasiknya Mundell-Fleming.
Dampak policy mix ke kurs tergantung seberapa bebas modal asing keluar-masuk.
• Di negara high capital mobility: kurs digerakkan capital flow. Rate naik → asing masuk ngejar yield → currency menguat.
• Di negara low capital mobility: kurs lebih digerakkan neraca dagang. Fiskal ekspansif → impor naik → trade deficit melebar → currency melemah.
Indonesia di tengah2.
Capital account terbuka, tapi asing terus menyusut di dua pasar sekaligus: di SBN porsinya tinggal ~13% dari ~40% satu dekade lalu, di equity dari ~65% ke 42%.
Untuk mix moneter ketat × fiskal ekspansif, jawaban teorinya: indeterminate.
Rate tinggi menarik inflow, ekspansi fiskal bikin investor minta risk premium.
Dua gaya tarik-menarik.
Rupiah akan menguat atau melemah tergantung gaya mana yang lebih kuat.
Ada satu istilah, namanya differential.
Differential itu selisih suku bunga acuan BI dan the Fed (BI Rate dikurangi Fed Funds Rate).
Kenapa ini yang dilihat investor global?
Mereka selalu punya pilihan parkir di aset dollar, currency paling aman di dunia.
Buat mau pindah ke aset rupiah (yang lebih berisiko) harus ada bayaran ekstra.
Differential itulah bayarannya.
BI 5,75% dan Fed 3,63% artinya differential ~2,1pp: pegang SBN dapat ekstra ~2,1% per tahun dibanding instrumen dollar.
Pertanyaannya: cukup nggak differential tersebut untuk compensate risiko rupiah yang ditanggung?
Cara ngukurnya bisa dilihat langsung dari perilaku asing di SBN secara historis.
• Era differential tebal 2010–2016, rata2 6,5pp: asing masuk hampir tanpa henti, porsinya naik dari belasan persen ke hampir 40%.
• 2017–2019 differential menipis ke ~3,4pp, tapi asing bertahan di 38–40%. Posisi yang sudah terbangun itu sticky/lengket.
• Setelah 2020 porsinya longsor. Diawali efek banjir penerbitan SBN era COVID, lalu asing benar2 keluar di 2022 saat differential terkompresi ke 0,4–2pp. Sekarang porsinya cuma 12,75%, terendah dalam dua dekade.
Posisi sekarang, differential 2,1pp hari ini masih jauh dari pembanding historisnya.
Era yang membangun porsi asing 40% itu differential rata-rata 5,5pp, dan dipertahankan satu dekade.
Respons asing terhadap hike kemarin juga masih tipis: 12,6% → 12,75% di Q2.
Rupiah masih di ~17.900.
Artinya concern fiskal masih jadi overhang di mata investor global, dan yield yang ditawarkan belum menutupnya.
Tentu bukan PR yang bisa diselesaikan BI sendirian.
Hike hanya memperbaiki sisi kompensasi.
Sisi risikonya: arah defisit, kualitas belanja, kejelasan pembiayaan, hanya bisa dibereskan dari fiskalnya sendiri.
Era asing 40% dulu dibangun dengan keduanya: differential lebar dan fiskal yang disiplin.
❌Tanpa fisioterapis
❌Tanpa masseur
❌Tanpa latihan dan aklimatisasi krn kedatangan mepet
❌Hanya didampingi satu pelatih
❌Keberangkatan sampai akhir Juni tdk jelas.
❌TIDAK DISUPPORT PEMERINTAH
Lalu dgn banyak keterbatasan bisa mendapatkan emas di World Climbing Series itu menunjukkan kualitas seorang Desak Made Rita.
Seorang yg terkenal di lingkungan Pelatnas sangat berkomitmen, fokus, pekerja keras, punya mental tahan banting.
Rita adl pahlawan bangsa.
Tp ironisnya ia bertarung dgn birokrasi yang ruwet, bertarung dgn ketidakjelasan prioritas anggaran, bertarung dgn politikus2 yg memanfaatkan namanya hanya ketika dia menang.
"Kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur SPPG. Kami mau melapor ke TNI, tentara punya dapur SPPG. Kami mau melapor ke DPR RI, anggota DPR banyak yang punya dapur SPPG," kata Iman Zanatul Haeri, seorang guru, di hadapan Mahkamah Konstitusi.
Apakah secara historis reversal dari bottom harus didukung foreign net inflow?
IHSG naik 7,6% Selasa dan 2,7% Rabu.
Asing? Masih net sell Rp 2,45 T dan Rp 3,13 T.
Banyak yang menyimpulkan Asing masih buang barang atau ini rally ini palsu.
Sounds logical.
Tapi premisnya layak diuji dengan data.
Apakah flow Asing/Domestik ini relevan dalam menentukan ini reversal atau bukan?
Saya backtest 4 crash terbesar IHSG: GFC 2008, Taper Tantrum 2013, koreksi 2015, dan COVID 2020.
Tiga dari empat reversal dimulai saat asing masih net sell.
Di 2013 dan 2015, kumulatif flow bahkan masih negatif di bulan keenam, padahal index sudah naik 15–16%.
Inflow besar baru datang di bulan ke-5 sampai ke-12, setelah recovery terbentuk.
COVID paling ekstrem: IHSG naik 56% dalam 12 bulan, dan sepanjang itu asing tetap kumulatif net sell sekitar Rp 27 T.
Asing baru berbalik net buy bulanan pertama kali November 2020, saat index sudah jauh di atas bottom.
Apakah ini berarti 8 Juni sudah pasti THE bottom?
Tidak ada yang bisa menjamin itu, termasuk saya.
Yang bisa dikatakan dengan jujur: rebound dua hari ini terjadi di atas turnover yang naik (Rp 21,7 T → 28,0 T → 31,7 T), breadth-nya lebar, dan absennya foreign inflow bukan alasan valid untuk mendiskreditkan rally, karena secara historis memang tidak pernah jadi prasyarat.
Satu catatan lagi yang jarang dibahas. Label "asing" di data bursa itu flag pada order broker, bukan beneficial ownership.
Dengan makin umumnya struktur nominee dan jasa "masking" kepemilikan.
Garis pemisah antara "real" foreign vs domestic makin kabur.
Watch the tape, not the nationality flag on it.
Joe Rogan reacts to Kim Dotcom’s tweet alleging that Peter Thiel and Alex Karp conduct mass surveillance of world leaders, including Trump, Vance, and Musk 🫣
februari lalu celios udah ngitung berapa duit negara yg berakhir jd sampah makanan MBG.
tapi ga ada yg peduli 😅
dlm seminggu kalau dihitung bisa ada 100 juta+ porsi MBG yg dibuang, dan itu nilainya setara Rp 1.27 triliun.
Rp 1.27 triliun seminggu cuma jadi sampah.
padahal dengan uang sebanyak itu, kita bisa membangun ratusan puskesmas atau memperbaiki sekolah-sekolah reyot di pelosok negeri, daripada jadi sampah 😹
Instead of watching an hour of Netflix, watch this 2 hour hour Stanford lecture will teach you more about how LLMs like ChatGPT and Claude are built than most people working at top AI companies learn in their entire careers.
Kunker katanya ditambahin pakai dana pribadi, giliran kurban pakai apbn. Jumlah rombongan katanya dikurangi, tapi frekuensi kunjungan naik berkali-kali lipat. Well.. logikanya cerdas banget. Tapi kita ga bs apa-apa kan? Jadi yaudah, kerja aja yg rajin biar ga telat bayar pajak ya. Mereka butuh duit banyak.