Apa dia..."
Amara menautkan alisnya. Ekspresi penasarannya menyentak logika seorang Maharga. Dan sebuah umpatan lolos, meski hanya dalam hati laki-laki tersebut.
"Dia..." Maharga mengerang dalam hati. Lidahnya tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Berjalan dengan cepat, Maharga menarik lengan Amara hingga wanita itu terhuyung.
Keseimbangan wanita itu cukup bagus.
"Siapa dia?"
Tatapan Amara teramat santai, tidak mengintimidasi seperti Maharga.
Menyalahkan takdir
Tidak akan mengubah nasib.
Sama halnya dengan darah
Sekalipun tidak kau anggap
Dia akan tetap mengalir
Dan membentuk hati yang baru.
"Senang berkenalan dengan anda, Tuan Ardinigara."
Balasan Amara memukau laki-laki matang bermuka singa. Setidaknya, itu sebutan yang cocok untuk laki-laki macam direktur Daysun.
"Wah...! Sebuah kehormatan dikenal oleh wanita cantik seperti anda."
"Cukup cantik untuk seorang pemimpin Graha Media."
Senyum manis disuguhkan Amara untuk pimpinan Daysun yang terkenal sebagai pemain kelas atas di kalangan wanita elite.
Hal pertama yang dilihat wanita itu adalah tatapan maut namun menjijikkan dari Ardinigara, pemilik Daysun Mall. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang lain dari sosok yang duduk di sofa single, tidak jauh dari sofa yang dipilih Amara untuk dirinya.
Ada yang melihat dari sisi positif, dan tidak sedikit petinggi menggunjing dirinya.
Tiba di private room, Amara segera masuk setelah asistennya membukakan pintu kaca.
Sosok Amara memang baru bagi mereka, karena wanita itu baru pertama kali menginjak kaki di gedung kebesaran sang Ayah. Keberadaanya satu minggu setelah pelantikan dirinya sebagai Direktur baru, menimbulkan berbagai macam argumen.
Hentakan mengalun indah saat ayunan langkah Amara melewati beberapa ruangan menuju ke private room tempat para tamu menunggunya.
Senyum mengembang saat berpapasan dengan karyawan yang sudah menjadi bagian perusahaan yang didirikan ayahnya, Malik Anugrah.
Pintu lift terbuka, menampilkan sosok anggun yang memukau dengan langkah kaki jenjang berbalut stiletto merah menyala. Tubuh langsing nan menggoda itu mengenakan blouse tipis di bagian lengan warna hitam dan rok selutut membalut indah pose feminim wanita tersebut.
"Permisi Bu. Direktur Atmaja dan petinggi Daysun sudah ada di tempat."
Senyum tipis terbit, ketika mendengar kabar dari Fandi, sang asisten tentang kedatangan para petinggi di perusahaan ayahnya.
Ingatannya akan abadi, ketika mengulang kenangan yang tidak pernah disalahkan olehnya. Penyebab kenangan yang berujung kesakitan oleh ulah Maharga Atmaja, pemilik Atmaja Group temurun keluarga Atmaja.
Bukan dirinya yang sekarang. Karena Amara yang sekarang tidak lagi polos seperti dulu. Yang diberikan untuknya luka yang tak akan pernah sembuh. Luka yang akan hilang saat matanya sudah tertutup, mungkin. Ia sendiri tidak yakin. Karena goresan itu berjejak darah menyisakan kelam.
Bagi Amara, hidup layak adalah dihargai bukan sesuai martabat, tapi karena sesama makhluk sosial yang hidup di belahan bumi ber-adat, maka harus dipastikan semua mendapat perlakuan sama.
Tapi itu dulu. Sebelum dia menyakiti. Sebelum dia mengusir. Sebelum dia menyebut jalang.
Masa lalunya, sudah kembali.
Entah siapa yang akan merajut luka yang pernah tertunda. Dirinya, atau mantan istrinya?
Di sudut restoran, ada senyum mengerikan dari seorang wanita.
"Kalau dulu, nerakaku menikah denganmu, maka sekarang nerakamu ada di sini."