HR: We lost another senior employee today.
CEO: What happened?
HR: He resigned after receiving an external offer.
CEO: That makes no sense. We could have matched it.
HR: That is the issue. We were willing to pay a stranger 70% more for the same role, but would not give our existing employee even a 20% raise.
CEO: External hiring is different. That is market pricing.
HR: He noticed that too.
CEO: We appreciated his loyalty. He had been here for years.
HR: Yes. And during those years, he consistently exceeded expectations while being told to βwait for the next review cycle.β
CEO: But budgets are complicated for internal employees.
HR: Apparently not for external candidates. The new hire budget was approved in three days. His raise request sat for eight months.
CEO: We had to stay competitive in the hiring market.
HR: He was part of that same market. The only difference is that another company valued him before we did.
CEO: So he left over salary?
HR: Not just salary. He left because he realized loyalty was being rewarded less than leaving.
CEO: That is unfortunate.
HR: Yes. Companies will sometimes trust a candidate after a 45-minute interview more than an employee who already proved themselves for five years.
CEO: So what are you saying?
HR: If companies only recognize employee value after a resignation letter appears, then eventually employees will stop waiting to be appreciated internally.
Sometimes the fastest way for an employee to get market value is to stop being your employee.
Di Filipina BBM akan tembus Rp 31.000, rakyatnya mulai meraung panik.
Di Indonesia, yang suka diejek "in this economy" harga BBM masih bisa terkendali.
Siapa bilang pemerintah itu buruk?
Sadarlah, pemerintah satu-satunya yang menolong hidupmu sekarang.
Saya menyesal memulai pagi dengan menonton wawancara Prabowo
Banyak pertanyaan pinter dan kritis yg keluar dari para jurnalis senior
paling berani dari Najwa Shihab
Saya gak mau bahas jawabannya
soalnya masih puasa
1 syawal masih besok buat saya
Selamat mokel buat yg udah lebaran hari ini
ini demo sampe malem, sampe manjat pager. kok boleh?? kok ga ditabrak & dilindes pake rantis?? kok ga ditembakin gas air mata?? kok ga digebukin & ditendang tendang sama polisi??? kok ga adil??
Bajingan dan biadab kamu @Kemlu_RI. Yg terjadi Iran diserang dg serangan udara lebih dulu. Tidak ada statement mengutuk kepada si penyerang, seakan serangan tersebut lazim dan "dibenarkan".
Pemerintahan apa kalian ini.
Bukan manusia kalian. Kalau sudah pro dg zionis, jgn malu2.
Jujur, aku kagum betul sama ini negara.
Ada rakyat mengkritisi program pemerintah dengan cara-cara baik dan memberikan saran baik, enggak didengar. Malah dicibir habis-habisan dalam setiap pidato presiden.
Giliran ada Ketua BEM salah satu Universitas di Indonesia mengkritisi dengan menyurati PBB dan menggalakkan istilah "Maling Berkedok Gizi" dalam panggung-panggung organisasi, eh malah mendapat teror sana sini sampai orang tuanya ketakutan.
Dan, yang bikin makin takjub, Istana malah merespon: makanya kalau kritik pakai etika.
Woi, itu rakyat lu kena terror karena kritis menyuarakan aspirasinya.
Malah ditanggepin begitu.
Jadi ya enggak heran kenapa orang kritis di negeri ini selalu diterror kepala babi, bangkai ayam, di lempar telur busuk, dan di lempar bom molotov, orang negaranya saja tidak bereaksi apa-apa terhadap pelaku terror pada mereka yang keras bersuara.
Katanya kritik sebagai vitamin, tapi nyatanya?
Penerimaan dan untuk apa penggunaan pajak kendaraan harus transparan, rakyat berhak tahu.
Kalau pajak kendaraan tidak boleh diaudit/diperiksa dng alasan membuka aib negara, artinya selama ini penggunaanya pajak tidak jelas dan banyak diselewengkan?
Negara kita memang bobrok.