Minum zinc pagi hari. Vitamin D3 sore hari. Magnesium malam hari.
Coba lakukan selama 30 hari dan ceritain balik hasilnya. Kebanyakan orang nggak pernah nyoba ketiganya bareng karena nggak ada yang bilang bahwa timing nya itu yang paling penting.
Percakapan sama suami setelah bulan lalu kita emang banyak banget pengeluaran:
👨🏻: uangnya udah abis yah?
🧕🏻: kenapa emang?
👨🏻: gpp. Aku takut kamu kekurangan aja.
🧕🏻: *tunjukin saldo rekening*
👨🏻: oh? Kok bisa??
🧕🏻: ya… nabung?
👨🏻: iya tapi kan kemarin aku udah ambil uang tabungan. Alhamdullilah kalau kamu masih pegang uang
🧕🏻: semisal ternyata saldonya Rp 0,- kamu akan tanya gak uangnya kemana?
👨🏻: engga. kalau abis ya berarti aku kurang keras kerjanya.
🧕🏻: terus?
👨🏻: ya… paling kamu aku ajak duduk bareng. terus kita nangis nangisan dulu. huhuhu rejekinya lagi seret. huhuhu.
🧕🏻: HAHAHAHAHAHHAHAHA
Suamiku ini emang tipe yang sangat drama. Lebih ekspresif dibanding aku. Jadi dia selalu melow dalam kondisi apapun😂😂
cc:threadpritiisa
Sbg perempuan mandiri, sejujurnya aku juga baru paham pas udh agak 'mature', kalo laki (konteks: pasangan) melakukan sesuatu utk kita tuh terima aja. Ga perlu diganti. Kita nerima kebaikannya dgn terima kasih & senyum manis aja dia udh happy bgt, merasa berguna, berasa jagoan. 💪🏻
Di Interstellar (science fiction - 2014),
1 jam di Planet Miller = 7 tahun di Bumi
Di kasus koma di Perancis (reality - 2025),
7 tahun di mimpi = 3 minggu di dunia
Hormat bgt sama Einstein sudah bisa nemuin Teori Relativitas di tahun 1905. 🫡
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Siapa yg sering diomelin temen krn jalannya kecepetan???
Klo itu kamu, ga usah jiper! Faktanya, ada studi yg bilang klo jalan cepet justru bisa ngurangi risiko sakit jantung & strok sampe puluhan persen!
Iya, jalan cepet!
Orang yg jalannya cepet pasti doyan jalan kaki kan? 😆
dr. Gia membagikan cara sederhana untuk membantu meredakan perasaan berat saat sedih atau tertekan, yaitu dengan meletakkan telapak tangan di dada sebelah kiri lalu menekannya perlahan sambil merasakan detak jantung.
Salah satu aspek jadi dewasa adalah menyadari bahwa lo tetap harus show up dan function optimally.
Gak peduli seberat apa yang lagi lo alami dan rasain. Karena dunia emang gak peduli sama masalah pribadi lo.
Lo tetap harus hadir di meeting meskipun hati lo lagi hancur lebur. Lo tetap harus berangkat kerja meskipun seminggu lalu salah satu anggota keluarga lo baru aja meninggal. Lo tetap harus jawab email dan presentasi dengan suara tegas meskipun semalam lo nangis sampe pagi. Ya udah, mau gimana lagi.
Dunia nggak peduli soal itu semua. Dunia cuma peduli satu hal: apakah lo berhasil memenuhi tanggung jawab lo atau enggak.
Dunia gak akan berhenti berputar cuma karena lo lagi gak baik-baik aja. Bahkan pas lo lagi sakit, lagi patah hati, atau lagi kehilangan segalanya, roda kehidupan tetep jalan🥲
Man to Girl
Jiwanya cowo itu berantakan loh sebenarnya.
Saat ia dituntut sukses ekonomi dan karirnya, ia jg harus siap dihadapkan kehilangan krn dianggap selalu gapernah ada waktu untuk pasangannya yang ingin selalu bertemu.
Biasanya saking capenya cowo lebih milih istirahat buat tempur esok hari tapi ia tak mau jika istirahatnya harus bertaruh sama hubungannya yang lambat laun semakin pudar dan berpotensi ditinggalkan karna dianggap tidak pernah mengerti dan ada buat pasangannya
TAHU GAK?
Doraemon sudah bareng Nobita selama 80 tahun. Sebelum meninggal, Nobita bilang ke Doraemon, "Setelah aku pergi, kamu harus balik ke tempat asalmu."
Doraemon setuju.
Setelah Nobita meninggal, Doraemon pakai mesin waktu buat balik 80 tahun ke masa lalu dan bilang ke Nobita kecil:
"Halo Nobita, namaku Doraemon. Gak peduli berapa kali aku dikasih kesempatan, aku tetap mau ketemu sama kamu lagi. Karena tempatku memang ada di sampingmu
Throwback pidato Pep di ruang ganti setelah mereka tersingkir di babak 8 besar Carabao Cup dari Southampton pada 2023.
🗣️'Akademi sudah siap' (untuk menggantikan kalian).
City pada akhirnya bangkit dan meraih treble winners di akhir musim. 🔥
Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.
deep talk pas pacaran:
- saling berterima kasih karna sudah sama2 memperjuangkan sejauh ini
- ngomongin rencana masa depan
- ngomongin mimpi masing2
- ngomongin persiapan rencana pernikahan
- saling meyakinkan diri kita bisa menikah dan jalanin semua dari 0 bareng2
- ngomongin keuangan dan tabungan bersama
- ngomongin pemikiran2 random yg sama2 cm bisa diomongin sama pasangan enggak ke orang lain, karna kita sama2 enggak suka nge-judge
- lagi deeptalk tiba2 suka kemana2 enggak penting ngomongin film, makanan, hobi, update temen2 😆
- paling konyol lagi deeptalk terus tiba2 ribut gara2 random topik saya minta dia temenin nonton film raditya dika dia enggak mau awokwkwk
deep talk setelah nikah:
- saling berterimakasih atas perjuangan masing2
- ngomongin anak2 dan dunianya
- ngomongin luka masa lalu (inner child) kami kadang suka ke trigger ngeliat anak, karna masa kecil kami tidak semudah dia, tapi kita saling memvalidasi dan menjadikan inner child itu rasa syukur buat anak
- ngomongin hubungan pribadi berdua (tanpa bawa2 anak)
- ngomongin keresahan masing2
- ngomongin keuangan
- ngomongin love language masing2
- ngomongin bisnis masing2
- ngomongin segs
- ngomongin rencana2 kedepan dan liburan
- ngomongin agama
- ngomongin update/cerita keluarga masing2
- dan msh suka tiba2 ngobrol topik enggak penting jg 😆
kalau kata raditya dika kecantikan dan ketampanan semua akan memudar, pada akhirnya yg tersisa di hubungan itu ya ngobrol. makanya penting punya pasangan 1 frekeuensi, bisa cerita tanpa di judge dan sama2 nyaman
kamu kalau deeptalk sama pasangan ngomongin apa???
Sejarah mobil saya:
- 2001 menikah, punya motor saja
- 2008 beli Xenia BARU
- 2012 Xenia dijual beli Freed BARU
- 2014 Freed dijual, beli Pajero BARU
- 2017 Pajero dijual, beli Pajero model baru BARU
- 2019 Pajero dijual. Kembali cuma punya motor saja.
- 2020 beli CRV BEKAS (tahun 2010)
Dari yang awalnya selalu beli mobil baru, tahun 2020 sampai 2025, saya beli selalu bekas. Kecuali untuk usaha saya beli pickup L300 BARU.
Tujuh tahun awal menikah, saya tak punya mobil sendiri. Kalau perlu mobil untuk antar anak ke dokter, pinjam mobil kakak saya. Iya, 7 tahun!
Di sisi lain saya juga sempat mengalami bisa beli Pajero baru, tapi kemudian kembali tak punya mobil sama sekali.
Di "tahap 2" ini saya tidak punya mobil selama 7 bulan. Ke mana-mana naik motor lagi. Seru, ya?
Sebagai wiraswasta, perekonomian itu naik turun. Pendapatan itu tidak ada yang bisa dipastikan. Namanya juga rakyat jelata.
Gue kemarin baca novel Crazy Rich Asians. Ada ucapan dari Eleanor Young yang nyantol di kepala:
Bahwa momentum itu lebih menentukan jadi/tidaknya sebuah hubungan ke pernikahan. Dari sekadar besaran rasa cinta itu sendiri.
Misal, pas sekolah / kuliah suka banget banget sama seseorang. Tp lu ga siap mental, pikiran, ekonomi, dsb. Pokoknya ga ready aja. Segimanapun berdua saling suka, kalau momentumnya ga pas, ya bisa aja bubar. Misal, pacaran tp jadi posesif atau suka berantem krn blm siap utk difficult conversation.
Tp kalo udh nemu momentumnya, misal udah stabil kerjaannya, udah lebih dewasa, dsb, maka lu bs aja nikah sama seseorang yang cinta-nya "just ok", ga harus menggebu2 kayak pas first love jaman muda dulu.
Unpopular opinion:
Pilih pasangan yang bisa hidup tanpa kamu. Karena artinya mereka memilih kamu dengan sadar, bukannya terpaksa atau butuh sesuatu.
Bisa hidup tanpa kamu,
tapi tetep milih bareng kamu.
Punya opsi yang lain,
tapi tetep milih kamu juga.
Yes bener, jaringannya lebih kecil.
Setelah 6 tahun membangun jaringan sensor kualitas udara Nafas, kami harus mengambil keputusan yang sangat berat.
Kami harus mengecilkan jaringan kami.
Bukan karena datanya tidak penting. Tapi karena pendanaan untuk jaringan ini tidak cukup. Kami sudah berusaha keras. Cari funding, cari sponsor, cari cara supaya jaringan ini bisa terus jalan. Tapi kenyataannya, membangun infrastruktur publik seperti ini butuh dukungan yang jauh lebih besar dari yang bisa kami tanggung sendiri.
Karena itu, kami mengubah jaringan sensor Nafas menjadi sebuah Yayasan - @yayasannafas . Artinya jaringan ini sekarang milik publik. Dan kalian bisa ikut menjaganya.
Ada 3 cara kalian bisa bantu:
1. Donasi langsung lewat Kitabisa (link di tweet berikutnya)
2. Sponsori satu sensor. Bisa patungan bareng komunitas kalian.
3. Ajak perusahaan kalian untuk sponsori kampanye kualitas udara.
Kalau kalian tertarik sponsori sensor atau kampanye, DM saya langsung - bisa disetup untuk sensor2 tertentu.
Kami sudah kasih yang terbaik selama 6 tahun ini. Sekarang kami butuh bantuan keluarga digital kami.
Kalau kalian nggak bisa donasi, bantu share ke orang yang mungkin bisa.
Itu sudah sangat berarti. 🙏