Singkatnya, di perjalanan pulang itu, suasana hati semakin hiruk pikuk, berpacu dengan isi kepala yang memenuhi setiap ruang di sana. memikirkan banyak hal yang optimistis di dlm diriku, ini pasti bisa terjadi
dari sedikit waktu yang udah ku habiskan, tampaknya ungkapan kebingungan atau kekesalan yang sering keluar. kyanya kurang elok dan lengkap kalo ga dibarengi sama sesuatu yang patut disykuri
Selama belajar di kampung orang, nafsu ku selalu berandai2 tentang mimpi2 untuk kampung halaman, untuk teman2 dan tampaknya sedikit kejauhan tetapi ingin sekali rasanya semua suasana gembira di rantau ini bisa kubawa ke rumahku.
hasilnya selain aku bisa nerjemahin benang kusut itu, kdang malah banyak ide yang muncul dan jadi refernsi yg bisa ku pake buat nyelesain masalah yang muncul di kerjaan yang lgi ku kerjain
Sbg orang yg kadang banyak bingungny dari pada kerja, ada satu cara yg baru2 ini mulai ku praktekkan, setiap aku bingung harus memulai pekerjaan dri mana, kutuliskan semua yang ada di kepalaku ke dalam catatan, biasa aku pake buku atau klo ga ku tulis di stickie note.
ini ckup utk aku bisa menerjemahkan proses yg terllu bnyk tdi . selain itu tdi aku jga bilang, kalo aku kya ngbrol sma diri ku sendiri bnr2 ngobrol , semua apa yg ada dikepala baik itu ide, gangguan, suasana sekitar, smua kutulis tanpa aturan kosakata yg menarik
bukan kesadaran yang datang padanya dan bukan pula malu yang membungkusnya, tapi angkuh yang mengangkatnya tinggi lebih tinggi, sehingga semua makhluk bumi bisa melihat kehampaan dan ketiadaan nya
akhir2 ini setelah kejadian banjir akhir tahun kemarin, manusia semakin berani menentang sang pemilik alam semesta, sang maha bijaksana. Dalam kesesatannya, manusia berkata agar alam menunda hujannya agar tak turun dengan deras
agar air yang mengaliri batang sungai tak mendatangi rumah2 mereka. di bilik satunya, manusia2 lain yang sesat juga, merasa beban yang diamanah kan padanya adalah pemberian tuhan, lalu terlena seakan2 dia adalah mawar merah diantara ilalang
dalam masa kosong, tertegun karena riang tak menyambut, lahir lah ketakutan yang tak bisa di hitung dengan kepastian. menjadi manusia dengan ego yang lebih luas dari hamparan samudra dan hati yang lebih keras dari intan permata, apakah kita bisa selamat dri ini semua