Ada Menteri Ketenagakerjaan,
Ada Wamen Ketenagakerjaan,
dan hari ini,
Ada lagi Penasehat KhuSUs Presiden bidang Ketenagakerjaan yg ngakunya setingkat Menteri.
Kalau setingkat Menteri berarti mendapatkan Fasilitas Setingkan Menteri dan Wamen?
Pengawalan, ajudan, aspri, tetot-tetot dll?
Konsep Efisiensi yang ga Efisien!
Seorang perempuan baru saja ditunjuk memimpin lembaga yang ngurus gizi 280 juta rakyat Indonesia.
Latar belakangnya?
Bukan dokter. Bukan ahli gizi. Bukan epidemiolog.
Tapi beliau adalah orang yang pertama kali membisikkan hoaks Ratna Sarumpaet ke telinga Prabowo.
Selamat datang di era Nanik S. Deyang, Kepala BGN
Di bidang astronomi, jarak yg sangat jauh diukur dgn satuan “tahun cahaya”
Di Indonesia ada satuan baru dlm perhitungan harga/biaya yg sangat mahal, yaitu “hari MBG”
* Anggaran beasiswa LPDP: 5 hari MBG
* Subsidi BPJS Kes: 40 hari MBG
* Biaya pembangunan Whoosh: 94 hari MBG
😁
Guys lebaran 2016 ada kejadian yang sampai sekarang gw rasa belum pernah benar-benar dipertanggungjawabkan secara serius.
Namanya tragedi Brexit.
Bukan Brexit Inggris.
Tapi Brebes Exit pintu keluar tol Brebes Timur.
Ceritanya begini.
Pemerintah baru saja resmikan ruas tol Pejagan-Brebes Timur.
Bangga banget.
Dipamer-pamerin.
Jokowi gunting pita.
Janji waktu tempuh Jakarta ke Jawa Tengah bakal jauh lebih cepat.
Jutaan pemudik percaya.
Masuk tol semua.
Tapi ada satu masalah yang tidak ada yang pikirin sebelumnya.
Tolnya belum tersambung sampai mana-mana. Ujungnya buntu di Brebes Timur.
Dan begitu jutaan kendaraan keluar dari tol kecepatan tinggi mereka langsung ketemu jalan arteri pantura yang sempit, pasar tumpah, dan persimpangan biasa.
Bottleneck.
Kemacetan total.
Puluhan kilometer.
Tidak bergerak lebih dari 24 jam.
Di dalam mobil suhu Brebes saat itu 33 sampai 35 derajat Celsius. AC menyala terus supaya tidak kepanasan.
Tapi mesin menyala terus bikin gas karbon monoksida dari ribuan knalpot numpuk di satu titik dan merembes masuk ke kabin.
Tidak matikan AC juga tidak aman di panas segitu heat stroke bisa mematikan terutama lansia dan anak-anak.
BBM habis.
SPBU kosong.
Air mineral dijual pedagang dadakan dengan harga berlipat-lipat.
Ambulans tidak bisa masuk karena bahu jalan juga penuh kendaraan yang nekat menyalip.
Hasilnya 12 sampai 17 orang meninggal.
Bukan karena kecelakaan.
Tapi karena keracunan karbon monoksida.
Heat stroke.
Dehidrasi akut.
Kelelahan ekstrem.
Serangan jantung.
Mati karena macet.
Dan ini yang paling bikin gw marah dari semua yang gw baca.
Tidak ada satu pun pejabat yang dimintai pertanggungjawaban secara serius.
Tidak ada audit kebijakan yang dibuka ke publik. Tidak ada penetapan ini sebagai kegagalan sistemik.
Yang ada kalimat klise soal volume kendaraan di luar prediksi. Evaluasi dilakukan setelah kejadian.
Sistem one way, contraflow, e-tol semua itu baru dibenerin setelah orang sudah mati.
Bukan sebelum.
Dan ini polanya selalu sama di Indonesia.
Infrastruktur dibangun untuk dipamerkan.
Diresmikan sebelum siap.
Dipotret untuk kampanye.
Dan ketika ada yang mati di atasnya itu masuk statistik mudik tahunan. Bukan kegagalan kebijakan.
Tol dibangun tanpa mikirin ujungnya kemana. Gerbang tol tidak siap menampung volume.
Tidak ada protokol darurat.
Tidak ada koordinasi antar lembaga.
Polisi di setiap daerah sibuk mastiin kemacetan tidak terjadi di wilayahnya masing-masing akibatnya semua menumpuk di satu titik dan meledak di Brebes.
Kamar Film nyimpulin dengan satu kalimat yang gw rasa paling jujur.
Selama keberhasilan negara diukur dari berapa kilometer tol yang dibangun bukan dari berapa nyawa yang terlindungi tragedi seperti ini akan selalu mungkin terulan
Kita bukan kekurangan jalan.
Kita kekurangan pemimpin yang menghitung nyawa lebih penting dari foto gunting pita.
Kalo ngeliat bagaimana ZAKAT MAAL dibandingin PAJAK, makin menyadarkan betapa luar biasanya Islam.
Pajak mengambil uang rakyatnya dari penghasilan di atas batas tertentu (PTKP), nggak peduli seberapa banyak kebutuhan orang tersebut.
Zakat Maal mengambil uang rakyatnya dari harta (liquid) yang sudah mengendap SETAHUN (haul), dan harus melewati batas tertentu (nishab)! Dari perspektif sendiri, ini sistem yang luar biasa adil. Kenapa?
Secara logika, jika kekayaan sudah melewati batas tertentu, berarti orang tersebut sudah cukup aman seandainya sebagiannya harus diberikan ke orang lain. Ditambah lagi kekayaan tersebut sudah mengendap lewat dari setahun, artinya memang itu uang dingin yang tidak terpakai.
Bandingkan dengan pajak. Bisa saja ada orang dengan penghasilan sedikit di atas PTKP, tapi sebenernya dia butuh SEMUA uang tersebut utk hidup (apapun kebutuhannya). Pantaskah orang seperti ini diwajibkan membayar pajak?
Akhirul kata, hanya ingin berbagi hadits saja.
“Sesungguhnya pelaku/pemungut pajak (diadzab) di neraka” [HR Ahmad 4/109, Abu Dawud kitab Al-Imarah : 7]
Hai kak, Kami dari Pusat Monitoring Telekomunikasi Kementerian Komunikasi dan Digital RI (Kementerian Komdigi), aduan tersebut sudah menjadi bagian dari tiketing kami dan diteruskan ke ISP terkait untuk di tindak lanjuti. Semoga layanan kembali normal dan dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Rekap foto Jet sang anak mantu, yg ketangkep di temlen:
~anak mantu posting jendela dan ekor pesawat.
~netijen ngecek, jendela yg difoto bukan pesawat biasa, tp jet pribadi.
~netijen lanjut nelusuri pemilik jet, ketemu nama satu perusahaan.
~perusahaan pemilik jet ternyata satu grup dg perusahaan sponsor salah satu klub bola.
~netijen jg menemukan pemilik jet terkait dg perusahaan marketplace yg dah buka kantor di Solo.
~netijen jg nemu, perusahaan tersebut terkait dg sebuah bank yg di akta pendirinya ada nama bapaknya presiden terpilih.
Dari foto jendela terbongkar jalinan kolusi tingkat dewa.
Netijen dahsyat.