for those who believe, no proof is necessary, for those who don't believe, no proof is possible (Stuart Chase) passion, patience, perseverance, persistence
Teman-teman, saya ingin menjelaskan menstruasi kepada para laki-laki.
Sebagian laki-laki mengira menstruasi hanyalah beberapa hari rasa tidak nyaman, sedikit perubahan mood, lalu selesai.
Padahal, jarang sekali yang benar-benar menghitungnya.
Seorang perempuan berada dalam masa subur itu kurang lebih selama 40 tahun.
Menstruasi datang sekitar setiap 28 hari.
Artinya, dalam hidupnya, seorang perempuan mengalami sekitar 521 kali menstruasi.
Setiap menstruasi berlangsung kurang lebih 5 hari.
Jika dijumlahkan, itu sekitar 2.607 hari.
Hampir 7 tahun hidupnya dilalui dalam keadaan berdarah.
Dan bukan kiasan, dia benar-benar berdarah.
Rata-rata darah yang dikeluarkan sekitar 80 mililiter.
Jika dijumlahkan sepanjang hidup, jumlah darah terbuang mencapai sekitar 42 liter.
Rata-rata tubuh kita berisi sekitar 5 liter darah.
Empat puluh dua dibagi lima.
Artinya, sepanjang hidupnya, seorang perempuan mengeluarkan darah setara lebih dari 8x seluruh darah dalam tubuhnya sendiri,
Delapan volume darah tubuh keluar dari satu perempuan.
Dan ada bagian yang lebih jarang dibicarakan.
Ia memulai semua ini sejak usia 11 tahun.
Sebelas tahun.
Usia ketika sebagian besar dari kita masih belajar memahami tubuh sendiri.
Ia menyembunyikan pembalut di balik lengan saat berjalan ke toilet.
Berdoa agar darahnya tidak tembus ke rok.
Mencari alasan kepada guru olahraga.
Berbisik kepada teman-temannya.
Malu luar biasa jika ada anak laki-laki yang tahu trus menertawakan.
Lalu kebiasaan itu terbawa bertahun-tahun.
Menyembunyikan.
Menutupi.
Berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Di sekolah.
Di tempat kerja.
Saat bepergian.
Di ruang rapat.
Di tengah kesibukan.
Di setiap ruangan yang ia masuki.
Ia bisa sedang nyeri, lelah, tidak nyaman, bahkan cemas darahnya tembus. Namun tetap tersenyum.
Tetap bekerja.
Tetap terlihat baik-baik saja.
Tujuh tahun perdarahan.
Empat puluh tahun belajar menyembunyikannya.
Lalu sebagian laki-laki masih menyebutnya, “Ah, cuma moody sebulan sekali.”
Bahkan bikin kepanjangan baru dari PMS, "Prepare to Meet Satan."
Teman-teman,
tugas kita bukan memperbaiki semuanya.
memang tidak akan bisa.
Tugas kita adalah menjadi lebih dewasa dalam memahaminya.
Belikan pembalut tanpa merasa aneh.
Tanyakan apa yang ia butuhkan tanpa menghakimi.
Jangan memasang wajah jijik.
Jangan menjadikan menstruasi sebagai bahan candaan murahan.
Jangan bertanya, “Lagi datang bulan ya?” dengan nada yang ngenyek merendahkan.
Jangan membuat perempuan merasa tubuhnya adalah sesuatu yang harus disembunyikan.
Ia sudah belajar menyembunyikannya sejak usia belasan tahun.
Maka jadilah orang yang membuatnya merasa aman.
Yang membuatnya merasa nyaman
Yang membuatnya tidak perlu lagi bersembunyi.
@ulil_f4@WidasSatyo Menurut saya yang sontoloyo yang mau bangun ulang pakai dana APBN. Sangat tidak rasional keputusan itu. Hanya menimbulkan rasa tidak adil dan marah
Sebagai antropolog, saya tak berusaha menjawab apa santet itu ada atau tidak. Saya lebih akan menelusuri kenapa dia dipercaya dalam konteksnya atau, bahkan lebih spesifik, situasinya. Dalam situasi yang tepat, dia dipercaya, bahkan oleh mereka yang mengaku tidak percaya.
@mardiasih Geregeten yo mbak Kalis. Ga pernah ada di posisi perempuan yang harus jungkir balik memastikan seluruh keluarga senantiasa "baik-baik" saja sementara dirinya sendiri tidak ada yang memaklumi
BERSATUNYA PENUMPANG SATU GERBONG KERETA SENJA UTAMA MENJADI KELUARGA
malam itu, Selasa, 9 November 2010, aku naik kereta api, pulang dari Jakarta ke Solo.
tiketnya dibayarin kakak, dapet kereta bisnis Senja Utama, berangkat malem dari Pasar Senen.
ga ada feeling apa².
@mardiasih Sakit rasanya melihat tuduhan bertubi2 kepada boomer, padahal sebagian dari kami juga sudah berupaya melawan, tapi tetap kalah, dan sekarang jadi tertuduh
@mardiasih Saya boomer, dan saya sedih sekali membaca pernyataan ini, karena saya samasekali tidak kaya, dan berkutat dengan uang pensiun untuk bertahan hidup, setelah 35th bekerja sebagai pengajar ASN di salah satu PTN. Bisa kah disebut "sebagian boomer" saja?