live on Tiktok/Youtube :Kageya Tekaku🔴 9Pm (GMT +8)
Karaoke
1) Koiiro By mosawo
2) Non Fantasy
3) Fuyunohanashi By Given
4) Odorin ponporin
5) Yorugaakeru By given
6) Kiroro Mirae
7) Drowning By Woodz
8) 100% yuuki
9) Ano yume wo nazotte By yasobi
10) Orange Rock Version
Hello everyone! 🍇 I'm Kageya Tekaku, but you can call me Kaku! I'm still a newbie VTuber, but I'll keep learning and improving. I love singing and play video games😂
Nice to meet you all, and I hope to see you in my future streams! 💜✨
#vtuber#kageyakaku#4sense#vtuberdebut
Kenapa VTuber di luar negeri relatif jarang kena doxing, tapi di Indonesia sering banget?
Bahkan sesama vtuber Indo, kalau full pakai EN di platform ungu lebih aman dari doxing daripada pakai bahasa Indonesia.
Kemarin kak @/aranepurnama shoutout, karena heran banget karena jumlah doxing di Indonesia itu luar biasa.
Ternyata, ada gap budaya yang besar .
Di komunitas VTuber luar negeri ada konsep yang secara tidak langsung dijaga: kayfabe. Istilah ini berasal dari dunia wrestling.
Artinya: semua orang tahu streamernya “cuma karakter”, tapi semuanya sepakat tidak merusak ilusi itu, supaya experience tetap seru.
Contohnya sederhananya:
Semua orang tahu Iron Man itu karakter fiksi.
Tapi kalau lagi nonton film, ga ada yang teriak:
“IRON MAN TUH ROBERT DOWNEY JR!”
Karena kita lagi menikmati ceritanya.
Itulah konsep kayfabe.
Di komunitas VTuber luar negeri, kontrak sosial ini cukup kuat.
• Jangan bahas identitas asli
• Jangan cari-cari info personal
• Jangan bawa kehidupan real ke karakter
Semua orang tahu ada manusia di balik avatar, dan (hampir) semua sepakat tidak menghiraukannya.
Di Indonesia sering kebalik.
Pas avatar muncul komentar pertamanya:
“Ini siapa ya aslinya?”
“Kayaknya gue tau mukanya.”
“Spill dong.”
Rasa penasaran itu manusiawi.
Tapi ketika jadi budaya massal, akhirnya banyak VTuber kena doxing.
Menurut keyakinan saya, ada 4 alasan utama kenapa ini terjadi:
1. Budaya internet kita masih sangat “real-person oriented”.
Kita terbiasa dengan influencer yang menjual kehidupan asli, bahkan sampai bongkar isi rumah, isi tas, isi dompet, isi kepala.
Pokoknya serba diumbar.
Jadinya ketika melihat avatar, refleks sebagian orang adalah: “Ini siapa sih orangnya?” Rasa penasaran dianggap wajar, bahkan kayak permainan detektif.
2. Budaya “spill” dan “investigasi”.
Di internet Indonesia, membongkar identitas kadang dianggap prestasi sosial.
Ada reward: likes, retweet, comment.
Jadi, doxing bukan sekadar rasa ingin tahu, tapi juga cara mencari engagement.
3. Literasi budaya VTuber masih baru.
Di komunitas Jepang atau Barat, aturan tak tertulis seperti “jangan bahas identitas asli” sudah lama beredar.
Di sini, banyak penonton baru yang belum tahu norma tersebut.
4. Internet kita sangat komunitarian.
Orang Indonesia terbiasa merasa dekat dengan figur publik. Kedekatan ini bagus, tapi efek sampingnya adalah batas personal yang kabur. Jangankan Vtuber, tokoh politik aja dianggap teman sama netizen.
Karakter dianggap “teman”, jadi merasa berhak tahu kehidupan aslinya.
Detail poin 4 ini besok-besok akan aku bahas terpisah, karena sangat berkaitan dengan Parasocial Relationship.
4 faktor itu membuat banyak orang belum tahu kalau ada batas yang sebaiknya dijaga.
Padahal kalau dipikir-pikir, semakin kayfabe dijaga, makin bebas kreatornya berkarya, justru makin seru buat penonton.
Nah, sebagai penonton kita bisa mulai dari hal sederhana:
Kalau nemu orang yang doxing atau “spill identitas”, opsi paling sehat biasanya bukan ikut nimbrung.
Internet punya hukum sederhana:
perhatian = bahan bakar.
Semakin dibahas, semakin besar insentif orang melakukan hal yang sama.
Ayo normalize respon seperti:
“Ngapain sih nyari identitas asli?”
“Biarkan dia jadi (nama karakter) aja.”
“Enjoy aja lah sama kontennya.”
Norma komunitas sering terbentuk dari komentar-komentar kecil seperti ini.
Jangan bosan saling mengingatkan.
Untuk sesama VTuber sendiri, bisa terapkan ini:
• Pisahkan persona dan kehidupan pribadi
• Jangan terlalu banyak memberi petunjuk real life
• Bangun lore/karakter yang kuat
Semakin kuat karakter, semakin fokus audiens ke ceritanya.
Fenomena ini sebenarnya masih dalam tahap evolusi. Komunitas internet selalu membentuk normanya sendiri.
Anime juga pernah dianggap aneh di Indonesia, sekarang jadi mainstream. Hal yang sama bisa saja terjadi pada budaya VTuber ketika komunitasnya makin matang. Semua itu butuh waktu.
Kalau menurutmu gimana?
sumpah harrissssss😭😭😭
gua juga pas nonton kaget banget karena meledak, makin kaget pas dia ketawa kenceng bangettt😭😭😭😭
sumpah dari awal main, mood banget dah game - kuping ini😭😭😭😭
Bangun tidur harus langsung siapsiap 😩 tapi finally in the car now, and I can breathe ww
I’ve seen everything that’s been happening, and I just want to say thank you for all the love and support. It means the world, and I promise I’ll keep working to be better ok?
For now though, please go out there and have fun, enjoy new year 🤏 this time, I’ll have to be spending it with my family so there won’t be any streams until… next year haha. I’m going to miss you all and I’ll try to update as much as I can, see u 🫶