Bakal susah sih, kak. Soalnya agama disini gak ada yang nerima Igbt. Reaksi penolakan dari masyarakat itu hal yang wajar karena kalian memang bertentangan dengan nilai moral, adat istiadat dan dasar negara pancasila. Daripada mempertanyakan pancasila ga berperan di komunitas kalian, mending introspeksi diri gak sih?
Progresif bukan berarti tidak normal. Allah menciptakan sesuatu di dunia itu berpasangan. Ada lapar ada kenyang. Ada malam ada siang. Ada terang ada gelap. Ada laki ada wanita. Ada Mr P ada Mrs V.
Tinggal ikuti yang normal saja sulit. Kalau gak bisa ikuti cara hidup normal. Just keep Silent. Tdk usah paksa orang normal untuk menghormati pilihan yg tidak normal. Pindah saja ke Israel. Surganya kaum kalian.
Menolak narasi/pemikiran LGBT itu TIDAK SAMA dengan menindas/mempersekusi LGBT.
Dokter Tirta ini masih yang pertama. Lu kalo campurin keduanya, bakal repot. Logika lu jadi berantakan.
Sama dengan halnya menolak penormalan merokok itu tidak sama dengan menindas/persekusi para perokok.
Menolak narasi LGBT itu BOLEH dan menjadi hak warga negara.
Mempersekusi LGBT itu baru TIDAK BOLEH karena ada unsur pidana dan membawa bahaya bagi keselamatan orang.
Nah, kaum lu suka nyampur-nyampurin keduanya. Ditentang narasinya dengan "stay normal" langsung ke-trigger, langsung cancel, langsung nge-block. Langsung ngerasa itu serangan ke identitas, jati diri, sehingga menolak narasi LGBT = menolak orangnya juga, alhasil dianggap jadi bagian dari diskriminasi. Padahal di kehidupan sosial masyarakat ga sesederhana itu realitanya!
Kalo ngaku progresif, harusnya budayakan dialog, bangun argumen yang kuat. Kebiasaan buruk penganut ideologi LGBT ini terlalu kuat budaya nge-block/dni nya pada orang yg sekadar berbeda pandangan, sehingga yg muncul kebenciannya aja, bukan dialog.
menurut gw ya jawabannya baik kok, ga ada menghakimi juga. lgbt tetap mendapatkan hak mereka dalam hidup, dilayani dalam mengurus administrasi negara, tanpa diskriminasi bahkan diperbolehkan untuk bekerja dengan baik. lagian itukan preferensi pak anies juga
Gak juga. Sahabat sy, dokter spesialis juga, sering menyuarakan kegelisahannya tentang bahaya boti ini di FB dan status wa- nya. Hampir setiap hari malah. Tapi tetep saja pasiennya 50 % lebih boti. Mereka tetep pilih beliau, tdk mau pindah k RS lain. Bahkan sampai ada yg organize pasien2 dr kalangan mereka untuk berobat k sahabat sy tsb. Dan sahabat sy tetap melayani mereka dgn profesional. Karena itu ranah pekerjaan. Tp diluar rumah sakit, kami juga punya hak sebagai sesama WNI utk bersuara. Yang merasa gelisah dgn maraknya LGBT.
@Wulllaaann Saya menyimak spt itu. Ada semacam prejudice seolah kita yang normal akan langsung memusuhi.
Padahal selama nggak aneh2, nggak mengganggu, kita juga nggak akan main hakim krn tahu ada hukum yg tidak akan kita langgar begitu saja.
Jadi sebenere boleh kritik government ga ini?
Soale tiap kritik dicounter, seolah2 yg kritik tu “ga nasionalis” bahkan dijawab “nyenyenyenye”
Ditanya “trus solusimu apa!”
Banyak juga yg udah kasi solusi. Ttp aja dibales dengan narasi offensive.
Kak...? Ini MUHAMMADIYAH 🙏😭 menurutku sangat wajar mereka menentang hal ini loh?????? 🙏😭 Universitas berbasis agama islam, di dalam islam kan menentang... jd sangat wajar. 🥲🙏 ga semua hal yg kamu inginkan bisa diterima kak apalagi kalau udh agama.
Nih denger para runners tone deaf.
Toh kalo kebijakan yang dikeluarkan bagus, nanti harga registrasi marathon elu gak semahal itu kocak.
Inget! Pukul ke atas bukan ke samping
tuhan melindungi setiap langkah mereka yang turun ke jalan hari ini. terima kasih sudah memperjuangkan kepentingan semua orang. doa baik selalu. ✊🇮🇩 tinju ke atas.