Prabowo Subianto is centralising power, marginalising opposition and spending beyond Indonesia’s means. He could undo 20 years of economic and political progress https://t.co/XiM5hgMhyi
Photo: Reuters
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
"Dungu to the bone"
By Tere Liye
Saya terus-terang muak melihat komen-komen begini. Banget.
Nah, biar kita sama-sama pintar, izinkan saya jelaskan:
1. Per November 2024, ada 375.000 rekening bank dengan saldo 1-2 milyar. Lantas, ada 220.000 rekening bank saldo 2-5 milyar, dan ada 142.000 rekening saldo 5 milyar lebih. Total jenderal, ada 737.000 rekening bank dengan saldo di atas 1 milyar. Data ini valid, dari LPS, langsung lihat saldo setiap rekening.
2. Artinya apa? Di Indonesia itu, dengan penduduk 281 juta, memang ada orang-orang kaya dengan rekening bank di atas 1 milyar. Dan diluar rekening bank ini, setidaknya ada 1,5 juta keluarga (dengan anggota keluarga = 5 juta lebih) dengan aset milyaran (rumah, kebun, bisnis, dll). Keluarga-keluarga yang penghasilannya puluhan juta per bulan.
3. Dus, dengan 5 juta orang ini, OTOMATIS konser-konser, mobil mewah, rumah megah, skincare, healing, jalan-jalan ke LN, memang ada pasarnya. 5 juta itu bahkan nyaris setara penduduk seluruh Singapura. Paham tidak? Inilah pasar yg dikejar oleh mall2 mewah, gerai2 mahal.
4. Tapi, hanya karena Indonesia itu punya 5 juta penduduk kaya, aset milyaran, penghasilan puluhan juta, BUKAN berarti elu tutup mata, ada 24 juta penduduk super miskin dengan pengeluaran Rp 595.000/bulan/kapita. Jika di rumah itu ada 4 orang, maka jika Ayah penghasilannya 2 juta/bulan (dan dia pencari nafkah tunggal), masuk kategori miskin ini.
5. 24 juta ini baru ngomongin kelas paling bawah. Sementara 200 juta lainnya? Masuk kelas rentan miskin, menengah bawah, daaan baru kelas menengah, yg penghasilan 2 juta/bulan/kapita ke atas. Artinya, jika keluarga kalian 4 orang, penghasilan Ayah hanya 7-8 juta, itu jelas kelas menengah bawah.
6. MAKA, kamu lihat dong yang GELAP itu adalah masa depan kelas menengah, menengah bawah, rentan miskin, dan miskin. Jumlahnya 200 juta lebih. Bukan kamu fokus ke 5 juta penduduk pendapatan tinggi. Lah, kalau kamu ngomongin Prabowo, Jokowi, Bahlil, Menteri2, anggota2 DPR, mereka semua jelas ceraaaah banget.
Jadi, ayolah, kalian seleb-seleb, pesohor-pesohor, JIKA kalian tidak bisa bersimpati dikit saja ke perjuangan orang2 kelas menengah ke bawah ini, mbok ya MINGKEM. Bisa? Bukan malah komen nyakitin hati.
(fb)
Video yang dihapus oleh tiktok, ditonton lebih dari 3 juta penonton dalam kurang dari 2 hari...
Sepertinya ada yg kebakaran guys....😇😇
#KaburAjaDulu#KaburAjaDulu
WADUH, BANYAK MANTAN NAPI KORUPTOR NYALEG (CALON LEGISLATIF) DI PEMILU 2024?
Nih, ada bekal buat Pemilu tanggal 14 Februari nanti! MV #Korupsong udah rilis! Jangan lupa diinget-inget ya nama, wajah dan nomor urutnya supaya lebih yakin milih yang mana!
Bisa juga dinyanyiin sambil gitaran biar hafal~
#Pemilu2024 #TemanPemilih #PemiluSerentak2024