📘 Call for Book Chapters | Springer
Edited Volume
Algorithmic Trust and Governance in Asia
We invite chapter contributions examining how AI-driven decision-making is governed across healthcare, education, and finance in Asia.
The volume explores fairness, transparency, accountability, trust, and human oversight, grounded in Asia’s diverse cultural, legal, and regulatory contexts.
👥 Who can contribute?
Academics, policymakers, practitioners, technologists, and experts in:
AI ethics, law, information systems, public policy, healthcare, education, and finance.
��� Submission details
• Full chapter (≤8,000 words)
• Due: 31 March 2026
• APA 7th | British English
• Conceptual, empirical, comparative & doctrinal chapters welcome
See the details for submission.
Tahun lalu, saya diminta menjadi analis oleh seorang bankir dari salah satu bank di Australia yang berencana berekspansi ke Papua Nugini. Ia ingin memahami strategi digital banking yang tepat untuk kawasan Asia dan Pasifik Selatan. Strategi ini akan dia gunakan untuk banknya di Papua Nugini. Saya melakukan analisis singkat untuk dia.
Salah satu tantangan utama di Papua Nugini adalah rendahnya penetrasi perbankan: sekitar 75 persen masyarakat belum memiliki akses layanan bank. Di tengah kondisi ini, mereka menargetkan strategi leapfrogging melalui digital banking. Tapi saya tekankan, teknologi tidak harus canggih untuk berhasil.
Ada pelajaran dari banyak tempat: M-Pesa di Afrika, Bandhan Bank di India, bKash di Bangladesh, Sampath Bank di Sri Lanka, HesabPay di Afghanistan. Fitur-fitur mereka bahkan bisa diakses lewat ponsel jadul. Mereka merancang antarmuka yang sangat sederhana, sesuai kebutuhan masyarakat, namun di balik layar didukung sistem yang kuat dan aman.
Dan yang lebih menarik, mereka membuktikan bahwa inklusi keuangan bukan lagi hanya kewajiban sosial, tetapi peluang bisnis yang sangat menguntungkan. Capitec di Afrika Selatan, dengan model single account dan biaya rendah, melayani 22 juta nasabah dan menghasilkan lebih dari USD 500 juta setahun. bKash kini punya lebih dari 80 juta pengguna dan menjadi unicorn. BSP di Papua Nugini, yang melayani masyarakat kepulauan dengan kartu biometrik dan jaringan agen desa, menguasai 65 persen pangsa pasar.
Kuncinya? Bukan hanya teknologi, tetapi bagaimana teknologi dipadukan dengan desain yang memahami konteks lokal. Tulisan kami ini meringkasnya dalam lima pilar, eKYC berbasis biometrik; distribusi multi-kanal yang menggabungkan agen, USSD, dan aplikasi; integrasi dengan ekosistem yang sudah ada seperti telco atau platform ride-hailing; arsitektur produk yang sederhana; dan pendekatan berbasis komunitas yang membangun kepercayaan.
Analisis tersebut kemudian saya kemas ulang dan kembangkan bersama beberapa kolega yang melihat langsung praktik digital banking di berbagai negara. Hasilnya adalah tulisan ini, sebuah peta praktis dan pembelajaran,yang kami harap bisa jadi bahan refleksi berharga bagi mahasiswa di kelas.
Teknologi yang efektif bukan tentang kerumitan, melainkan kemudahan penggunaan. Dan kemudahan inilah yang menjadi jembatan paling cepat menuju inklusi keuangan. Bahkan di tempat yang tampaknya "mustahil" sekalipun.
Langkah tegas dari kampus-kampus top di Korea Selatan.
"This isn’t just personal misconduct. School violence is a breach of social trust,” the university said in a statement. “We believe universities have a responsibility to uphold community values.”
“School violence used to be regarded as a personal conflict,” said a high school teacher in Seoul. “Now it is treated as a violation of basic rights and society is demanding long-term accountability."
“School-bullying victims say their experiences affected them for a lifetime,” said high school teacher Kim. “School bullies should know their behaviour in school may follow them into adulthood, and admissions officers are watching.”
Publikasi ini sebenarnya berangkat dari rasa ingin tahu saja. Didukung pula oleh teman-teman yang juga sepemikiran.
Banyak perdebatan ketika GenAI bisa diakses mahasiswa sejak akhir 2022.
Ini mengusik saya dan teman-teman untuk mengumpulkan data dari AS, India, dan Singapura. Kami membaginya menjadi beberapa tulisan.
Dari data-data eksperimen itu kami melihat bahwa hubungan mahasiswa dan AI tidak bersifat otomatis, tapi saling melengkapi. Tulisan di bawah ini salah satu dari beberapa tulisan yang kami terbitkan dengan data-data tersebut.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal boleh atau tidak, tetapi bagaimana dan kapan teknologi ini digunakan dengan tepat.
Perbandingan dengan kalkulator sering muncul, tetapi tidak sepenuhnya tepat. Kalkulator hanya menghitung angka, sedangkan AI dapat menulis, berargumen, bahkan meniru gaya seseorang.
Risiko terhadap orisinalitas, bias, dan plagiarisme jauh lebih besar. Karena itu, penggunaan GenAI harus disertai literasi yang memadai: memahami cara kerjanya, menilai hasilnya secara kritis, dan menggunakannya secara etis.
Bagi mahasiswa, AI bisa membantu terutama yang bukan penutur asli bahasa Inggris atau yang kesulitan memahami konsep rumit. Tapi manfaat itu hanya muncul bila disertai kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab etis.
Di dunia kerja, kemampuan menggunakan AI kini menjadi nilai tambah, terutama di bidang teknologi, pemasaran, dan analisis data. Tapi pekerjaan yang fokus pada empati dan interaksi manusia, seperti kesehatan dan pendidikan, tetap bergantung pada keahlian manusia.
Pendidikan tidak seharusnya menolak teknologi, tapi mengajarkan cara berpikir bersama teknologi. Mahasiswa perlu tahu kapan AI memperkaya pembelajaran dan kapan penggunaannya justru membuat mereka kehilangan daya pikir mandiri.
Beberapa universitas kini meminta mahasiswa mencatat penggunaan AI di tugas mereka, mirip dengan mencantumkan referensi.
Bentuk asesmen pun mulai bergeser, dari esai menuju refleksi pribadi, diskusi, atau proyek kolaboratif. Namun tantangan tetap ada karena AI kini mampu menulis refleksi atau membuat skrip presentasi. Autentisitas karya akademik masih menjadi isu utama.
Masalah lain adalah kesenjangan akses. Tidak semua mahasiswa memiliki sumber daya untuk menggunakan versi AI yang lebih baik (yang berbayar). Selain itu, ada risiko ketergantungan berlebihan, ketika mahasiswa melewatkan proses berpikir sendiri.
Fokus pendidikan sebenarnya perlu diarahkan pada penguatan literasi digital yang kritis, agar mahasiswa mampu memahami cara kerja AI, mengenali bias, menjaga integritas akademik, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Tugas universitas bukan menutup akses terhadap teknologi, tetapi menyiapkan generasi yang berpikir kritis, etis, dan mandiri di era digital.
Kejadian ini benar-2 menjadi pelajaran bagi saya yg mengajar data science. Intuisi sebenarnya sdh memberikan clue, tapi perasaan bisa salah. Data seharusnya yg membantu keputusan.
Saya pun kemudian melakukan scrapping semua data @suhuhendrakwan di Google Review kemudian menganalisisnya dengan NLP dan dibantu dengan 4 LLM. Dan hasilnya benar-benar mencengangkan. Saya simpan hasil analisisnya di Github.
https://t.co/vIuUmbKQDn
Ini pengalaman yg paling tidak menyenangkan ketika sy terapi akupunktur, sy benar-2 kena zonk dng Hendra Kwan (HK) @suhuhendrakwan
Awalnya sy datang ke sini krn tertarik reviewnya yg bagus di Google, tapi belakangan sy jadi malah curiga.
Saya datang ke sini untuk menghilangkan rasa tak nyaman di kaki. Kali pertama datang, oke saja. Belum ada perubahan berarti.
Kali kedua sy datang, sy ditreatment dulu oleh HK, kemudian dia meminta saya untuk ditreatment di kasur. Setelah menunggu beberapa lama, saya diminta berbaring di kasur oleh istrinya HK @suhuhendrakwan ini.
Saat diminta berbaring di kasur, saya sudah merasakan aura yang tidak nyaman. Istri HK ini yang mentreatment.
Nada bicara istri HK ini SANGAT tidak ramah berbeda dengan suaminya yang ramah.
Saya tanya, telentang atau tengkurap? Dengan nada yang ANGKUH dan tidak ramah, dia bilang, kemaren keluhannya di mana, kanan atau kiri?.
Berikutnya saya tengkurap, setelah itu dia buka celana saya saja tidak ada izin.
Kemudian istrinya HK tiba-2 bilang ke istri saya, ini dibuka celananya, saya gak mau ribet.
Pelayanan seperti apa ini! Seumur hidup baru ini sy mendapatkan pelayanan akupunktur seperti ini.
Setelah itu, dia mulai mentreatment saya, dengan beberapa jarum. Saya mulai kesakitan. Dengan NADA yang sangat tidak ramah, dia bilang, dilemaskan Pak.
Saya bilang, Mbak, saya ini lagi kesakitan, pelan-2. Sebagai terapis akunpunktur seharusnya dia bisa memahami kesakitan pasien, tidak perlu terburu-2.
Istri HK ini paham tindakan akupunktur atau tidak?
Ketika saya mengeluh, tiba-2 istri HK ini bilang, ya sudah, saya tidak mau tusuk jarum, biar suami saya saja. Istri HK ini meninggalkan saya yang sedang tertusuk jarum, perilaku dia ini memang brengsek. Dia meninggalkan saya begitu saja.
Saya kemudian meminta istri saya mencabut jarum-2 akupunktur tersebut dan komplain. Tanpa ada kesantunan, istri HK ini langsung pergi meninggalkan kami.
Untuk Bapak Ibu yang datang ke HK @suhuhendrakwan ini, semoga tidak mengalami pelayanan yang sama seperti saya. Cara pelayanannya istrinya HK ini barbar.
@suhuhendrakwan In hindsight, ini juga keteledoran saya, seharusnya saya jeli dan detail melihat di mana HK @suhuhendrakwan ini belajar akupuntur, apakah dia dan istrinya ini punya surat izin praktik akupunktur?
6/ Tidak semua luka bisa sembuh dengan waktu. Alih-alih menyuruh korban untuk memaafkan, lebih baik kita fokus pada menghentikan perilaku yang menyakiti sejak awal. Bullying bukan ujian hidup yang harus dilalui. Ia adalah kekerasan, dan setiap bentuk kekerasan pantas untuk ditolak.
Dan bagi yang selama ini merasa “tidak apa-apa” melakukan atau menyaksikan bullying, saatnya berhenti menutup mata. Bagi korban, peristiwa itu mungkin bukan sekadar masa lalu. Ia bisa menjadi luka yang menentukan masa depan.
#HentikanBullying #LukaBullyingNyata
1/ Bullying bukan sekadar kenakalan remaja atau bagian dari “proses pendewasaan” seperti yang sering dianggap sebagian orang. Ia adalah bentuk kekerasan yang meninggalkan luka, tidak selalu terlihat di permukaan, tetapi membekas jauh ke dalam hidup seseorang. Luka itu bisa bertahan bertahun-tahun, membentuk cara korban memandang diri sendiri dan dunia di sekitarnya.
#HentikanBullying #LukaBullyingNyata #BeraniBicara.
5/ Menganggap bullying sebagai hal biasa berarti mengabaikan kerusakan yang ditimbulkannya. Orang yang dibully tidak sedang “terlalu sensitif”. Mereka sedang memikul beban yang tidak seharusnya mereka tanggung. Setiap ejekan yang disebut “cuma bercanda” bisa menghancurkan rasa aman seseorang.
Setiap tindakan merendahkan bisa mengikis harga diri pelan-pelan.
Sudah saatnya berhenti menormalisasi bullying. Jangan lagi menganggapnya wajar hanya karena kita pernah mengalaminya dan “baik-baik saja”. Tidak semua orang punya kekuatan yang sama.
#HentikanBullying #LukaBullyingNyata
7/ Ke depan, empati dan etika digital sebaiknya diposisikan sebagai bagian penting dalam pendidikan tinggi. Pendekatan dukungan psikologis perlu bergeser dari pasif menjadi aktif melalui skrining dini, pelatihan pertolongan pertama kesehatan mental, dan keberadaan pendamping sebaya. Kode etik kampus pun perlu diperbarui agar perundungan siber diperlakukan setara dengan pelanggaran berat lainnya.
Tanpa perubahan langkah ke arah itu, tragedi seperti yang menimpa Timothy berisiko terus berulang, mungkin hanya berbeda nama dan tanggal saja.
1/ Membaca utas dan berita tentang kematian Timothy, mahasiswa Universitas Udayana, membangkitkan simpati sekaligus emosi saya. Bukan hanya karena peristiwanya yang tragis, tetapi karena tragedi ini menyingkap dua persoalan yang selama ini mungkin terabaikan, krisis kesehatan mental dan krisis empati di lingkungan kampus.
6/ Tradisi “pendidikan mental,” senioritas, dan kekerasan simbolik yang masih bertahan di banyak kampus memperburuk situasi. Ini tradisi jelek yang harus dihilangkan. Perbedaan kerap menjadi alasan untuk merendahkan, bukan kesempatan untuk memahami.
Bahkan mahasiswa tanpa kebutuhan khusus pun bisa menjadi korban. Lebih dari 20 tahun lalu, saya sendiri pernah mengalami perundungan saat orientasi mahasiswa baru, praktik yang dilakukan oleh senior dan kadang bahkan dibiarkan oleh dosen, tanpa rasa bersalah.