Siempre intento ser lo más imparcial posible con mi cuenta, pero esta vez necesito hablar como hincha.
Créanme, los seguidores de otros clubes no lo dimensionan para nada, pero es inmensamente deprimente ser fan del AC Milan en la actualidad y no desde hace 1-2 años, hablo de una década al menos, o más.
Imagínate crecer viendo a un equipo con jugadores de elite que se volvieron legendarios con el tiempo. Crecer viendo a tu equipo compitiendo cada año POR TODO como firme candidato. Crecer viendo equipos que en el sentido literal de la palabra eran temidos por toda Europa, casi cada año... Pasar de todo eso, a este presente en 2026.
Si les soy sincero, no sé cómo describirlo, no imagino al Real Madrid, al Bayern o al Barcelona ganando apenas 2-3 titulos en 10-15 años... Y lo de hoy solo es otro capitulo de una historia que parece destinada al fracaso. Lo del rossonero es el downgrade más grande de la historia del fútbol, sin lugar a dudas.
¡NO EXISTE UN SOLO CASO SIMILAR!
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
GERHANA, PURNAMA DAN AKURASI AWAL RAMADHAN
Hari ini, 3 Maret 2026, kita akan menyaksikan gerhana bulan total seperti yang diumumkan BMKG melalui siaran pers kemarin.
https://t.co/B5Wiel7fdb
Gerhana bulan hanya terjadi saat bulan purnama, yang secara astronomis menandai pertengahan bulan lunar (sekitar hari ke-14 atau 15).
https://t.co/wziqcubX7i
Ini membuktikan akurasi penentuan awal Ramadhan oleh @muhammadiyah, yang menetapkan 1 Ramadhan 1447 H pada 18 Februari 2026—membuat hari ini tepat jatuh pada 14 Ramadhan, pas dengan momen purnama.
https://t.co/eHnw7vorkC
Sementara versi pemerintah yang mulai 19 Februari 2026 menjadikan hari ini baru 13 Ramadhan
https://t.co/KlLKq41Pq6
—padahal purnama tak pernah jatuh di hari ke-13 bulan Hijriah, karena siklus bulan lunar rata-rata 29,5 hari memastikan purnama di pertengahan.
Terima kasih @infoBMKG
atas info gerhananya, dan @muhammadiyah atas hisab astronomi yang presisi! #GerhanaBulan #Ramadhan1447H
Semalam, khatib tarawih ceramah yg bikin gue overthinking..
Gimana kalau selama ini kita tuh cuma lagi pakai headset VR canggih? Dan realita yang kita lihat sekarang hanya sekadar "Simulasi"? 🤯
Dan saat kita mati, VR-nya dilepas, lalu kita terbangun dan menyadari... "Oh, ini toh kehidupan yang SESUNGGUHNYA"
"Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, seandainya mereka mengetahui" QS Al Ankabut 64
QS Al Ankabut itu nyebut jelas banget bahwa kehidupan dunia itu cuma GAME, kayak kita itu ada di dalam game RPG (Role-Playing Game) atau Virtual Reality.
Kita seolah-olah adalah player yang lagi login ke dalam game bernama "Dunia". Kita diturunkan ke server ini dengan satu Main Quest yang jelas: Beribadah, jadi manusia yang bermanfaat, dan ngumpulin bekal buat Endgame.
Tapi, instead nyelesain Main Quest, kebanyakan dari kita malah habis-habisan ngerjain Side Questnya. Side Quest-nya emang didesain super menggiurkan. Numpuk harta sampai triliunan, ngejar validasi sosial, gila jabatan, pamer kemewahan.
Kita habis-habisan grinding sampai lupa sama Main Quest-nya. Padahal waktu main (umur) kita di game ini ada limit-nya.
Terus suka kesel kan ngelihat orang jahat, licik, penindas, tapi hidupnya kelihatan "menang" dan enak banget di dunia?
Nah, sadar nggak sih, bisa jadi mereka itu cuma NPC (Non-Player Character) atau obstacle yang emang di-setting buat jadi ujian rintangan buat kita para Player?
Kemenangan orang-orang jahat itu semu. Mereka cuma "kelihatannya" aja menang, tapi ya itu simulasi aja.
Saat timer kita habis (mati), headset VR ini bakal dicopot paksa. Di momen kita "terbangun" di dimensi yang sesungguhnya, semua harta, mobil mewah, dan score duniawi tadi nilainya hangus jadi NOL BESAR.
Sekaya apapun di game, yang dihitung ya pencapaian kita di Main Quest kan? Sia-sia banget kalau waktu yang dikasih malah habis buat ngejar hal-hal fana yang nggak bisa dibawa log out.
Jadi tamparan keras sih buat diri sendiri pas lagi tarawih semalam. Kadang kita terlalu serius mikirin Side Quest sampai lupa kalau ini cuma mampir bentar.
Fokus ke Main Quest, Players. Jangan sampai pas VR-nya dilepas, kita cuma bisa nyesel karena salah prioritas.
Semoga di sisa waktu Ramadhan yang masih singkat ini bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
@etihad My flight got canceled 3 times, the email suggest to do action on Manage Booking page, but I can't find my flight there. Already contact all of @EtihadHelp contact center for the last 5 days but none of them replied. Possibility to be stranded at Corniche, what should I do now?
Communication from the UAE government to residents has been reliable thus far. It has not tried to hide news of hits or injuries, tmk.
Clarity in communication—like its decision to cover flights & hotels for stranded passengers—contribute to a sense that it’s trying its best.
Safest Places on Earth During World War 3
1. 🇫🇯 Fiji
2. 🇹🇻 Tuvalu
3. 🇳🇿 New Zealand
4. 🇮🇩 Indonesia
5. 🇮🇸 Iceland
6. 🇦🇷 Argentina
7. 🇨🇱 Chile
8. 🇨🇭 Switzerland
9. 🇧🇹 Bhutan
10. 🇦🇶 Antarctica
11. 🇿🇦 South Africa
12. 🇬🇱 Greenland
Source: Daily Mail
The Embassy of Indonesia in Abu Dhabi has issued an advisory warning to Indonesians in the UAE amid heightened regional tensions following Iran’s attack.
(https://t.co/XnNrceMnF1)
🚨 BREAKING: Uni Emirat Arab mengatakan puing-puing rudal Iran berjatuhan di daerah pemukiman di Abu Dhabi, dan serangan itu melanggar kedaulatan serta Uni Emirat Arab BERHAK untuk merespons. 😳
You wanted one, you got one.
A petition for Milanisti to sign to boycott current ownership of Milan.
No showing up to matches, no purchasing of merchandise from the club.
There is no guarantee of anything but too many of you have asked so I made it. RT and share below
https://t.co/dp80ssGbf2