Gue kemarin baca novel Crazy Rich Asians. Ada ucapan dari Eleanor Young yang nyantol di kepala:
Bahwa momentum itu lebih menentukan jadi/tidaknya sebuah hubungan ke pernikahan. Dari sekadar besaran rasa cinta itu sendiri.
Misal, pas sekolah / kuliah suka banget banget sama seseorang. Tp lu ga siap mental, pikiran, ekonomi, dsb. Pokoknya ga ready aja. Segimanapun berdua saling suka, kalau momentumnya ga pas, ya bisa aja bubar. Misal, pacaran tp jadi posesif atau suka berantem krn blm siap utk difficult conversation.
Tp kalo udh nemu momentumnya, misal udah stabil kerjaannya, udah lebih dewasa, dsb, maka lu bs aja nikah sama seseorang yang cinta-nya "just ok", ga harus menggebu2 kayak pas first love jaman muda dulu.
Jangankan 5 tahun. Sejak lahir, Saya sudah hidup di tengah moncong senjata. Enarotali Paniai pusat perang antara OPM dan Militer Indonesia. Disitu saya rasakan batas tipis antara hidup dan mati, baik dan jahat, bagaimana orang jerit, ratap dan rinti, haus dan lapar, adil dan tidak adil. Mana sakit dan senang. Itulah esensi dasar HAM universal yang dimaknai umat manusia termasuk saya.
Disitulah saya mengerti nilai fundamental tentang Hak Asasi Manusia. Perjalanan hidup yang membentuk karakter dan integritas saya selama puluhan tahun sebagai pembela orang2 tertindas, pengungkap suara bagi mereka yang tak bersuara telah teruji dengan mengarungi badai dan gelombang, cacian, makian dan hinaan.
Saya telah tunjukkan integritas saya sebagai penjaga kaum lemah (de oppreso liber). Dari seorang Korban HAM hingga menjadi orang nomor 1 di bidang HAM di RI. Saya bekerja mencatat sejarah, menyelami sejarah dan menentukan sejarah HAM di Republik ini.
Sepengetahuan saya seorang Guru Besar memiliki tingkat pemahaman yang tinggi tentang esensi kehidupan, berfikir dalam bahasa sastra yang tinggi, pemahaman filosofis yg tinggi tetapi rupanya anda hanya Guru yang โdibesar-besarkanโ.
Referensi:
Magnis-Suseno, Franz (2016) Etika Politik. Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sardiman, A. M. (1992). Konsep Kekuasaan dalam Tradisi Budaya Jawa. Cakrawala Pendidikan, 83291.
Krisis sosial politik selalu bersuber pada satu hal:
Kemerosotan akhlak dan budi penguasa.
Penguasa yang mengejawantahkan kekuasaannya menggunakan tindakan represif, amarah, dan mengesampingkan etika, perlahan akan kehilangan legitimasi dari rakyat.
Kekuasaan Jawa rasanya masih relevan untuk diterapkan dewasa ini โ terlepas dari legitimasi adiduniawinya.
Penguasa harus menciptakan keselarasan sempurna: tidak adanya keresahan rakyat, dan kelestarian alam.
Setiap revolusi industri selalu melahirkan kelas yang terpinggirkanโkaum proletar. AI pun menciptakan kelas baru:
Hewan Ternak.
Algoritma akan membuat mereka berhenti berpikir, tidak memiliki perspektif otentik, tidak tahu caranya berempati, seperti hewan ternak