@MurtadhoRoy Kalau ini terjadi zaman PKI masih exist pasti DN Aidit akan merevisi 7 Setan Desa menjadi 8 Setan Desa. Yang ke-8 adalah tokoh masyarakat yang menggunakan agama sebagai alat untuk mengeksploitasi manusia demi melampiaskan hawa nafsunya.
memeluk erat semua perempuan; ibu, istri, anak, kakak, adik. yang seringkali mau teriak minta tolong tapi tahu kalau keliatan ngeluh dikit aja akan dihujat sama sekitar. yang seringkali harus nelen mentah-mentah apa yang dirasain karena terpaksa kuat 💔���
For real, perempuan sering kali nggak punya banyak pilihan dalam hidup, salah satunya tugas menjaga anak identik dengan tugas perempuan. Padahal anak bersama. Banyak perempuan yang kerja bukan karena mandiri, tapi kebutuhan hidup yang nggak cukup dipenuhi oleh suami.
Menghakimi para ibu yang anaknya menjadi korban kekerasan di daycare Jogja adalah bentuk sikap misoginis atau membenci perempuan karena sikap serupa tidak ditujukan kepada para ayah.
Daycare dan KRL—dua tempat yang kelihatannya beda jauh, tapi rasanya punya satu cerita yang sama : “PEREMPUAN masih belum benar-benar aman”
Beberapa hari ini rasanya berat banget. Tiap lihat berita tentang kekerasan di daycare, lalu kecelakaan kereta yang korbannya banyak perempuan di satu gerbong… rasanya nyesek. Dua kejadian ini kelihatannya terpisah, tapi kalau dipikir lagi, sebenarnya ngomongin hal yang sama.
“Tentang keterpaksaan…”
Para ayah/laki2 tidak disalahkan atas kekerasan terhadap anak mereka di daycare jogja adalah bentuk privilese atau perlakuan istimewa yang dinikmati laki-laki.
Fokus perhatiannya mestinya kan ke daycarenya, kenapa kok mereka setega itu… ini kok malah ke orang tuanya, kenapa kok nitipin anaknya. Bodoh boleh aja sih, tapi mbok ya bodoh tu jangan kebangeten. Bodoh kok permanen.
Gw ibu pekerja dan mengurus anak-anak dengan tangan sendiri, tapi gw marah luar biasa membaca case penitipan anak di Jogja.
Lebih marah lagi membaca bagaimana banyak orang justru menyalahkan ibu instead of mempertanyakan sistem yang tidak mendukung ibu bekerja dan kepemilikan day care yang katanya tanpa proses standarisasi/sertifikasi.
Kasus day care kejam ini bukan pertama kali. Tapi kita belum melihat respon kebijakan yang serius dan sistematis.
Padahal ini bukan isu kecil. Ini soal keselamatan anak di usia paling krusial dalam hidupnya.
Day care bukan sekadar tempat “menitipkan”, ini adalah ruang tumbuh.
Artinya, yang mengelola tidak cukup hanya bisa “jagain anak”. Mereka harus paham pedagogi anak usia dini, perkembangan emosi, dan keselamatan dasar.
Kalau tidak, yang terjadi bukan pengasuhan tapi potensi risiko. Di titik ini, negara punya tanggung jawab terbesar.
Pertama, negara harus melakukan standarisasi wajib. Setiap daycare harus memenuhi standar minimum:
1. Tenaga pengasuh terlatih (bukan sekadar “suka anak-anak”)
2. Rasio pengasuh–anak yang jelas
3. Pelatihan keselamatan dan pertolongan pertama
4. SOP pengasuhan, disiplin, dan penanganan kondisi darurat
5. Fasilitas yang aman dan layak
6. Lengkapi dengan teknologi yang memungkinkan orangtua bisa memantau anak.
7. Mekanisme pelaporan dan pengaduan yang transparan
Kedua, pemerintah wajib melakukan sertifikasi dan perizinan yang ketat. Tidak boleh ada daycare yang beroperasi tanpa lisensi resmi dan audit berkala.
Ketiga, pemerintah juga wajib melakukan pengawasan aktif, bukan reaktif. Bukan hanya bergerak setelah ada kasus.
Tapi inspeksi rutin, monitoring, dan penegakan hukum yang jelas.
Lalu siapa yang paling bertanggung jawab? Menurut saya, harusnya lintas sektor.
Kementerian Sosial: perlindungan anak dan pengawasan layanan pengasuhan
Kementerian Pendidikan (PAUD): standar pedagogi dan kurikulum usia dini
Kementerian Kesehatan: aspek kesehatan dan keselamatan anak
Pemerintah daerah: izin operasional dan pengawasan langsung di lapangan
Keselamatan anak bukan tanggung jawab ibu atau orangtua saja. Ini tanggung jawab bersama dimana negara seharusnya memimpin terdepan.
Jangan terjebak kompetisi di dunia akademik krn ilmuwan yg mumpuni adl ilmuwan yg dpt melihat & menghormati dirinya sbg manusia seutuhnya. Riset & publikasi bs dilakukan kapanpun. Namun momen2 kemanusiaan (hamil, melahirkan, etc) tdk dpt dilewatkan & hrs dialami sepenuhnya.
Ustadz Khalid Basalamah dalam kajiannya mengatakan :
Kebahagiaan orang lain tidak akan merugikanmu, kekayaan mereka juga tidak akan mengurangi jatah rezekimu.
Hiduplah dengan hati yang bersih, agar ketika melihat nikmat orang lain, hatimu tidak sakit.
Sebenarnya, anak-anak yang "jago bohong" dari strict parents itu sedang mempraktikkan cara bertahan hidup paling dasar.
Dalam psikologi, ini adalah mekanisme pertahanan diri yang muncul ketika kejujuran tidak lagi menawarkan rasa aman, melainkan ancaman hukuman.
Saat ruang untuk berbuat salah ditutup rapat, otak anak otomatis beralih ke mode survival. Ayo kita bahas:
Terkait kasus rame2 d grup wa.
Hikmah yang diambil, tolong Biasakan jangan bercandaan mesum, karena bercandaan tersebut akan menjadi kebiasaan yg dibawa terus menerus sampe dewasa.
Kalo ngacengan itu dikontrol.
Bukan ngacengan sak nggon2.
Otak kok isine kenta kentu
Gak kerasa udah 7 tahun aja bolak-balik ke psikolog 🥰 alhamdulillah.. Udah membaik 🥰 you can do it, rin 😗 ternyata bisa melampaui sejauh ini.. Makasih dirikuuu 🤗