Dulu waktu masih SD..ada temen sekelas pinternya di atas rata rata...selalu rangking 1 dan selalu dijadikan contoh membandingkan ke murid murid yang kurang pinter oleh guru..
Apakah sekarang temen saya sudah jadi CEO?
#celahawan
Pancasila: Suluk Ruhani Sebuah Bangsa
Di bawah rindang sukun yang sepi, atau mungkin di kedalaman hening yang paling menepi, sebuah benih ditemukan.
Bukan diciptakan, melainkan digali perlahan dari rahim bumi Nusantara yang sudah lama berdzikir.
Sebelum menjelma lima, ia senantiasa bermula dari Yang Satu. Titik mula yang tak terbagi, tempat segala arah kiblat bermuara. Sang Kekasih yang Maha Esa, yang napas-Nya menghidupi ribuan pulau tanpa pernah membedakan debur ombaknya.
Lalu cahaya yang satu itu memecah, membiaskan lima kelopak pada prisma kemanusiaan kita.
Kelopak kedua mekar sebagai cermin. Sebab para penempuh jalan tahu, mengenali Tuhan tak akan sampai bila tak memanusiakan ciptaan-Nya; menyentuh luka sesama dengan adab, bukan dengan pedang keangkuhan.
Kelopak ketiga adalah fana—leburnya 'aku' dan 'engkau' ke dalam samudra 'kita'. Sebuah tarekat persatuan yang menanggalkan jubah-jubah kesombongan kelompok, demi satu tubuh bangsa yang utuh.
Kelopak keempat berwujud musyawarah. Ia adalah ruang sunyi di mana hikmah dan kebijaksanaan menundukkan bisingnya ego. Di sana, kebenaran tidak dihitung dari siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling peka mendengar.
Dan kelopak kelima, keadilan, adalah timbangan semesta yang dititipkan ke tangan manusia. Agar tak ada lagi hamba yang menengadah lapar di atas tanah Tuhan yang gembur ini.
Satu Juni bukan sekadar tinta sejarah di atas perkamen tua. Pancasila adalah suluk—perjalanan panjang ruhani sebuah bangsa. Ia ketukan pelan di pintu dada kita setiap pagi, mengingatkan satu hal sederhana
: sudahkah kita melihat wajah Yang Esa pada senyum dan tangis saudara kita sendiri?
by : @macchiato__01