@tanyakanrl Lu mikir dah fungsi lu apa. Kalo mati, kan lu mati untuk negara, lu di sumpah untuk negara. Nih baca. Klo lu gamau bertanggung jawab atas itu, gausah jadi polisi anjg
Beberapa kehilangan gak harus buru buru menemukan.
Yang berduka kamu, yang tau waktunya ya juga kamu,
Sehari,seminggu,sebulan,setahun, ambil selama apapun yang kamu mau. Karena berduka engga punya tenggat waktu.
karna pada dasarnya gak ada kehilangan yang pernah sama.
“Buat apa sedih, kan dia udah ga ada”
“Apa si gunanya nangisin? Cuma bikin capek”
Kalau ada berduka, saran begini cepat sekali ya muncul. Cepat-cepat mendorong orang lain untuk merasa baik-baik saja.
It's emptiness and deep sadness, then you get to forget for two hours & live in blissful denial and then it hits you again in a rush of grief and anxiety, you're suddenly angry and for the rest of the night you feel pure devastation. Going through all stages of grief on repeat
Akhir-akhir ini sibuk menyesal dan berpikir, “Kalau saya melakukan lebih baik lagi, apakah hasilnya akan berbeda?” Hingga kawan saya menyadarkan, “Jangan lawan Tuhan.” Sesuatu terjadi karena memang sudah seharusnya
Berduka adalah hak. Tidak perlu dipaksa cepat bahagia. Beri waktu. Seperti kata Seneca pada ibunya ketika dirinya akan diasingkan, “Berduka tanpa akhir atas kehilangan seseorang tercinta sesungguhnya tidak punya otak, dan tidak merasakan duka sama sekali berarti tidak punya hati”
Saya pernah baca, duka mengubah kita menjadi satu dari dua hal. Entah kita jadi pendiam, atau jadi orang yang menyebalkan (tanpa kita sadari). Mungkin, akarnya adalah kebingungan perihal masa depan dan ketidakkuasaan untuk mengubah masa lalu. Sebuah fase pahit yang harus dilewati
Proses saya sembuh, bukan hakmu untuk menilai. Begitu pun sebaliknya. Perjalanan yang kau lalui, belum tentu saya mengerti. Kita berduka dengan cara masing-masing, tak perlu saling membanding-banding. Karena terakhir kali saya cek, bersedih tidak ada jangka waktunya
Menjadi dewasa dan harus menghadapi kehilangan. Diam dan telan rasa sakit sendirian. Kultur di negeri ini memang mewajibkan kita menyembunyikan rasa sedih, bukan?