@DedynurPalakka Kecerdasan warga negri ini sudah cacat lulusan S1,S2 dan S3 ribuan dinegri ini tapi kita bangga dengan anak ingusan yang tidak tamat SMA
Pernyataan dr Tifa
Bismillahirrahmanirrahiim.
Beberapa hari ini saya memilih menarik diri sejenak dari berbagai urusan.
Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, saya ingin memusatkan diri pada ibadah: sholat, tadarus, membaca kitab-kitab hikmah, dan lebih banyak berdiam di rumah.
Dalam keheningan itu, saya tetap mengikuti perkembangan yang terjadi di luar. Termasuk kabar tentang Rismon Hasiholan Sianipar yang mengajukan Restorative Justice kepada Jokowi di Solo. Saya mencermatinya sesekali, dari jarak yang tenang.
Terus terang, saya menyesalkan langkah tersebut.
Saya tidak berada pada posisi yang sama dengannya. Dan InsyaAllah, atas izin Allah serta dukungan yang terus mengalir dari banyak pihak, saya tidak akan pernah memilih jalan rendah seperti yang dipilih Rismon.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Tetapi hidup sering menempatkan manusia pada tekanan yang tidak terlihat oleh orang lain. Tekanan itu bisa berupa ancaman yang kasar, tetapi sering kali justru lebih kuat dalam bentuk yang jauh lebih halus: bujukan, iming-iming, kompromi, yang menimbulkan ketakutan yang perlahan menggerogoti keberanian dan akal sehat.
Berbagai isu yang beredar tentang dirinya, mulai dari soal ijazah S2 dan S3 dari Jepang hingga kabar mengenai surat keterangan kematian yang konon dibuat oleh istrinya, tentu bukan perkara ringan bagi siapa pun.
Saya memahami bahwa tidak semua orang mampu memikul beban semacam itu sendirian.
Karena saya sendiri sedang menghadapi persoalan dengan orang yang sama, mantan Presiden Jokowi, saya cukup mengenal karakter Rismon. Selama ini saya mengenalnya sebagai sosok yang berani, blak-blakan, dan bernyali, serta cermat dalam analisis.
Dalam banyak kesempatan, saya melihat ia memang memiliki kepakaran yang nyata di bidangnya. Soal tidak punya ijazah itu perkara lain. Karena kepakaran seseorang tidak melulu diukur dari ijazah. (Di sini sebagai mantan kawan saya berbisik: "Why, Mon, kenapa kau musti palsuin ijazah, sih?")
Langkah yang Rismon ambil saat ini, setidaknya dalam penilaian saya, terasa asing. Tidak mencerminkan kemandirian sikap yang biasanya kita tunjukkan.
Saking liar dan mandirinya, kadang saya dan mas Roy suka kewalahan dan geleng-geleng kepala melihat segala manuvernya sambil berkata: " Piye to adikmu kuwi?*
"Lha embuh!* Jawab saya.
Setahun ini kami bertiga memang sudah seperti saudara dekat. Seia sekata dan senasib sepenanggungan.
Hanya kami sedih karena kepada kami pun dia tidak terbuka. Padahal dalam ilmu yang dia tekuni, dia betul-betul hebat.
Namun kekecewaan terbesar saya justru bukan kepada Rismon.
Kekecewaan terbesar saya tertuju kepada mantan Presiden Jokowi dan lingkar kekuasaannya.
Demi menepis tuduhan tentang ijazah yang dipersoalkan publik, cara-cara yang digunakan sungguh kejam, keji, dan sangat menyakitkan: menghancurkan reputasi orang, menekan hingga kehilangan ruang bernapas.
Hal yang sama pernah menimpa Bambang Tri. Juga Gus Nur.
Dan kini sejarah itu seperti berulang.
Pada Rismon, dibuat hancur harga diri melata begitu rendah tak berdaya.
Kekuasaan seharusnya melindungi rakyat. Bukan alat untuk membungkam mereka yang bersuara.
Tetapi sejarah selalu mengajarkan satu hal: kekuasaan yang digunakan untuk membungkam kebenaran pada akhirnya justru memperbesar gema kebenaran itu sendiri.
Namun saya tidak ingin larut dalam kemarahan.
Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri, menjaga hati tetap jernih, dan menyerahkan segala sesuatu kepada Yang Maha Mengetahui.
Saya memilih jalan yang berbeda.
Dengan dukungan banyak orang, dan dengan sepenuhnya berserah kepada Allah, saya akan tetap melanjutkan perjuangan ini.
Perjuangan untuk kebenaran memang sering kali sunyi.
Kadang juga menyakitkan.
Tetapi kebenaran memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh kekuasaan:
ia tidak pernah benar-benar bisa dimatikan.
Selama masih ada satu orang saja yang berani berdiri, kebenaran akan tetap hidup.
Dan saya memilih untuk tetap berdiri.
Salam,
Tifa
@reviewmoods Kalau mau mudah contoh aja Mulyono gak perlu capek2 kuliah tinggal bikin aja ijazah kalau ada yg komplain sewa aja pengacara lalu suruh ternak belain sampai mati.😁😆
Sejak Mulyono menjabat, aksi demo apalagi yg demo mahasiswa,
Luar biasa jahatnya tangan oknum aparat.
Ringan sekali tangannya menyentuh rakyat.
Seperti banyak video yg sudah kita saksikan
Mahasiswa diperlakukan seperti penjahat yg harus dihajar habis-habisan.
Tidak jarang main keroyokan
Padahal si mahasiswa sudah tidak berdaya.
Mahasiswa bersuara demi bangsa dan negara
Bergerak demi nasib seluruh rakyat Indonesia
Termasuk demi nasib oknum aparat dan keluarganya.
Makanya saya dkk hampir selalu mengawal setiap aksi mahasiswa turun ke jalan,
Tidak tega melihat mereka diperlakukan sewenang-wenang,
Krn hanya dianggap anak nakal dan tidak paham hukum.
Dan saya sudah sering menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa arogannya oknum aparat dalam menghadapi aksi mahasiswa.
Saya kira tahun 2019 sudah paling ganas
Saat mahasiswa protes mulyono, mahasiswa diserang gas air mata, dikejar dan dipukuli secara membabi buta.
Sampai banyak korban luka bahkan ada yg kritis .
Ternyata 😭
Harusnya Pak Prabowo ingat bagaimana rakyat dan juga mahasiswa dulu mati-matian membela beliau, berkali ambil resiko turun ke jalan, malah sampai banyak korban jiwa.
Dikejar oknum aparat, diserang gas airmata, mobil medis saya dipukuli, peralatan medis saya kocar kacir, TS saya difitnah, bahkan terakhir sempat dada saya kena serempet peluru.
Semua sudah kami alami di era mulyono.
Harusnya Pak Prabowo lebih bijak dan legowo menghadapi aksi rakyat, terutama mahasiswa.
Bukan malah lupa dan lebih-lebih dr mulyono.
Ohya, selama kami aksi turun ke jalan di era mulyono, adanya TNI malah jadi pembela kami.
Setiap ada oknum aparat coklat mau menyerang, Bapak-bapak TNI turun menengahi.
Makanya kami lebih tenang jika ada TNI di lapangan aksi.
Kalau sekarang ??
Sebenarnya apa sih yg harus ditakuti dari aksi mahasiswa?
Apa mungkin mereka melakukan kudeta ?
Apa mungkin tetiba mereka memberhentikan presiden dan wakilnya ?
Apa mungkin begitu mereka masuk, lgsg merubah UU ?
Mereka Hanya ingin di DENGAR !!
Paling keras yg bisa dilakukan mahasiswa sebatas merobohkan pagar rumah rakyat, itupun karena pintunya kalian kunci rapat.
Coba kalian buka pintu, terima mereka, dengarkan aspirasinya
Pastinya tidak perlu ada acara paksa memaksa.
Bahkan menerima mereka hanya untuk sekedar meredam, basa basi saja..itu sudah baik.
Tapi itulah, karena mahasiswa & rakyat yg kritik sudah lebih dulu dianggap musuh.
Pemerintah anti kritik.
Maka kalian tidak mau membuka pintu juga hati dan telinga.
Sampai kapan rakyat dan aparat diadu begini ??
Sampai kapan rakyat dianggap hanya objek ??
#IndonesiaGelap