KALIAN HARUS TAHU INI, WAK
DPR SAHKAN APBN 2027
RP4.106,26 TRILIUN
Empat ribu triliun.
Pertama kali anggaran negara
menembus angka itu.
Uang sebanyak itu
dibagi ke mana?
Untuk porsi PENJAJAH (pusat)
Rp3.371,26 triliun.
Transfer ke daerah ( jajahan)
Rp735 triliun.
Itu porsi sisa.
Total
Rp4.106,26 triliun.
Pendapatan ditarget
Rp3.435,1 triliun.
Defisit
Rp671,16 triliun.
Setara 2,4 persen PDB.
Artinya negara
akan utang lagi.
Utang lagi.
Utang lagi.
Sampai kapan?
Sampai bubar.
Hitung kasarnya
dari setiap Rp100 belanja,
sekitar Rp82 duduk di pusat.
Rp18 dikirim ke daerah.
Daerah yang nyetor SDA.
Daerah yang antre BBM.
Daerah yang kena kabut.
Daerah yang sekolahnya daring
karena asap dan banjir.
Dapat seperlima.
Penjajah dapat hampir semuanya
lalu bilang ini belanja nasional.
Kalau duit diperas dari pulau
tapi dipakai menggemukkan penjajah anggaran,
itu bukan pemerataan.
Itu keran yang sama
dengan nama yang lebih megah.
Rp735 triliun untuk daerah
bukan rezeki.
Itu pertanyaan
cukupkah?
Adilkah?
Sampai ke rakyatkah?
Kalau ini bukan penjajahan fiskal,
kasih nama lain
yang lebih sopan.
Rakyat daerah
sudah terlalu lama
disuruh puas
dengan sisa.
MASINIS KA 4B
ARGO BROMO ANGGREK
JADI TERSANGKA
KECELAKAAN BEKASI TIMUR
Cepat.
Ada nama.
Ada status.
Ada pasal.
Sementara
KMP Mutiara Sentosa
dan KM Virgo Transport
Terbakar dan
tenggelam
bersama penumpangnya.
Tersangkanya?
Tidak kelihatan.
Nahkoda KM Virgo Transport
dikabarkan lari.
Meninggalkan penumpang
Menyelamatkan hidupnya sendiri.
Lalu hidupnya
berjalan lagi
bersama keluarga.
Masinis di rel
langsung dijemput hukum.
Nahkoda di laut
seolah hanya jadi berita semalam.
Satu nyawa di kereta
dicari pelakunya.
Ratusan nyawa di kapal
disuruh sabar
menunggu evaluasi.
Miris.
Negara ini gesit
kalau yang di depan mata
mudah dijadikan tersangka.
Lamban
kalau yang tenggelam
membawa nama pengelola,
izin kapal,
dan pejabat yang menandatangani
kelayakan.
Hukum yang pilih-pilih
bukan hukum.
Itu undian.
Yang capek bukan penganggurannya Tapiiii :
Yang capek itu:
ngelamar sana-sini,
dipanggil interview,
datang jauh-jauh,
nunggu kabar berhari-hari…
Ternyata, HR-nya cuma lagi ngejar KPI.
Kandidat dianggap angka,
lamaran dianggap data,
interview dianggap pencapaian.
Padahal di balik satu lamaran,
ada waktu, tenaga, ongkos,
dan harapan seseorang buat bisa bekerja.
Asli job-market indo sekarang lagi susah banget
Temen kantorku ada yg mau cari kerjaan baru
- Dia aktif apply loker dari 2025
- Sampai Sept 2026, blum ada perusahaan yg nerima
- padahal dia 4 tahun pengalaman kerja
Buat teman yg mau resign, please pastikan ada back-up plan.
Buat teman" yg lagi cari kerjaan tetap semangat karna job market kita sangat jelek 😔
Kehidupan sehari-hari warga Kalimantan
1. Antri gas
2. Antri air
3. Antri bbm
4. Menghirup asap
5. Matlis berjamaah
Sepertinya nasib Kalimantan gak jauh beda dengan Sumatera.
Di usia 45 tahun, Rahman udah bertahun-tahun berjuang buat cari pekerjaan yang stabil. Tapi bukannya menyerah, dia terus mencari kesempatan.
Sebelumnya dia pernah kerja di SPBU, tapi kemudian berhenti setelah mengalami kecelakaan. Setelah itu, Rahman tetap berusaha mencari pekerjaan.
Bahkan untuk datang ke Job Fair 2026 di GOR Cengkareng, Jakarta Barat, dia rela naik transportasi umum dan berjalan kaki.
Kadang, harapan memang sesederhana keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika perjalanan yang ditempuh sudah begitu panjang. 🤍
fase paling ga enak:
1. nganggur
2. setiap bngun tidur rasanya ga berguna bgt
3. nganggur dalam keadaan tinggal serumah sama mama
4. nganggur disaat kondisi ekonomi mama sedang tidak baik' aja
5. bangun pagi dalam keadaan masih nganggur
🚨UNPOPULAR OPINION
- HRD bukan temanmu
- Kerjaan bukan hidupmu
- Atasan bukan bestiemu
- Rekan kerja bukan keluargamu
Kerja secukupnya dan tetap punya hidup di luar kerjaan guys
SETIDAK BERHARGA ITU KAH 241 NYAWA BAGIMU WAHAI KAPTEN❓❓😢😢
Di saat 241 penumpang KM Virgo Transport 8 tidur pulas dalam pelayaran dari Surabaya ke Banjarmasin, di saat kapal berputar tiga kali dan miring di tengah Laut Jawa pada Minggu dini hari 13 September 2026 pukul 02.00 WIB, sang Nakhoda yang seharusnya menjadi orang terakhir yang meninggalkan kapal, justru menjadi orang PERTAMA yang kabur.
Namanya Haris Yulianto.
Menurut kesaksian korban selamat, Hilarius, tidak ada alarm. Tidak ada evakuasi. Tidak ada teriakan "pakai pelampung". Yang ada hanya bel panjang yang berbunyi sekali lalu padam, lampu mati, dan gelap total.
"Teriak minta pelampungnya, pokoknya tidak ada respon," kata Hilarius.
Di dalam kegelapan dan kepanikan itu, di saat seorang ibu hamil 6 bulan memeluk bayi 17 bulannya sambil berteriak minta tolong, di saat suami istri hanya berpegangan pada satu pelampung oranye, apa yang dilakukan sang Kapten?
Ia menurunkan sekoci. Diam-diam. Bersama Markonisnya. Dan kabur.
Dua orang. Dua nyawa diselamatkan dengan sekoci. Sementara 241 nyawa lainnya dibiarkan berebut maut di laut.
Rinto, penumpang lain, menguatkan, "Sekoci itu kaptennya dulu naik. Ada satu orang yang lihat, kapten dan ABK duluan nurunin sekoci."
Haris Yulianto, tahukah kau arti kata NAKHODA?
Nakhoda itu bukan sopir. Nakhoda itu adalah bapak dari semua penumpang di atas kapal. Dalam hukum laut di seluruh dunia, kapten adalah orang TERAKHIR yang boleh meninggalkan kapal. Kapten harus memastikan semua penumpang selamat dulu, baru dia boleh selamat.
Kau membalik hukum itu. Kau menjadikan dirimu penumpang pertama yang selamat, dan menjadikan 241 orang yang membayar tiket kepadamu sebagai tumbal.
Kau selamat tiba di Banjarmasin. Kau dapat perawatan medis. Kau sekarang diperiksa Kementerian Perhubungan.
Lalu bagaimana dengan Nurul Rian Hidayat, ABK-mu yang pulang dalam peti biru ke Teja Timur? Bagaimana dengan Arin 17 bulan yang menunggu ayahnya? Bagaimana dengan ratusan penumpang yang sampai hari ini masih hilang di Laut Jawa dan belum ditemukan jasadnya?
Sekocimu selamat, Haris. Tapi kemanusiaanmu tenggelam lebih dalam dari kapalmu sendiri.