Dulu jaman SBY, tiap ada bencana, dia pidato, "Saya prihatin."
Sampai jadi meme, ada juga yang bikin website dengan tombol, kalau dipencet ada rekaman SBY bilang, "Saya prihatin."
Itu menyindir karena yang dilakukan adalah bare minimum doang. Mengucapkan prihatin tanda simpati.
Sekarang?
Ada banyak orang keracunan bahkan kehilangan nyawa.
Gak bilang apa-apa. Nothing, none.
Bare minimum aja enggak.
Bahkan kita jadi merindukan, "Pertama-tama, saya prihatin."
kan katanya rakyat diminta percaya sama pemerintah. nah, ini beberapa permintaan rakyat. kalo bisa diwujudkan, harusnya mah kepercayaan dari rakyat mudah didapat.
You literally cannot make this shit up: polisi abis nabrak terus kabur. Polisi. Yang seharusnya menjadi pengayom. Pelindung. Kabur. Be angry. Be very, very angry.
Nah ini. Indonesia is well-known as the biggest invisible country in the world. Mbok ya dipikir pake logika: apa tujuan antek asing ‘nyusup’ di Indonesia? Secara ekonomi ga signifikan di mata dunia. Natural resources? Kita ga segitunya kaya, top 10 global aja ga masuk.
Ya Allaaaaaaahhhhh kejam bangeeeettt.... Sehat-sehat ya kalian semua bumil-bumilkuuu.... Aku ngetik ngene iki karo mbrambangi. Aku lairan pervaginam wae luoro uampun. Lha kok yang sesar mung dikei as mef...
Sing bakoh ya kalian wanita-wanita hebat.. love you semuaaaa 😭😭😭
Kami cuma mau ...
1) Mau anak kami sembuh dari batuk, makanya minum obat, beli di toko, kan udah ada BPOM yang ngawasin, udah aman lah ya. Tapi kena gagal ginjal, mesti cuci darah terus seumur hidup. Ada yang tinggal nama.
2) Mau ngilangin stres abis belajar bareng temen, jajan di Indomaret, duduk santai di kursi. Pegang pintu kesetrum gara-gara grounding listrik gak bener. Pulang tinggal nama.
3) Mau pulang kerja, abis lembur, pulang telat tengah malam, Alhamdulillah target tercapai. Di jalanan ketemu begal, geng motor, atau klitih tergantung daerah. Mereka bawa senjata tajam. Tinggal nama.
4) Mau liat klub sepakbola lokal, bareng anak buat ngajarin mereka sportivitas, sambil ngilangin stres. Di stadion ada keributan, aparat gak bisa deeskalasi, semprot gas air mata, semua orang kesulitan cari pintu keluar. Pulang tinggal nama.
5) Mau beli martabak tengah malem karena laper. Ketemu polisi mabuk bawa senjata api. Ketembak. Tinggal nama. Udah gitu dibilang tawuran pula.
6) Mau jalan-jalan darmawisata bareng guru dan sekolah, sewa bis, aman lah ya mestinya udah memenuhi segala syarat makanya perusahaannya bisa nyewain. Ternyata bisnya gak dimaintenance dengan baik. Rem blong. Pulang tinggal nama.
7) Mau berangkat kerja naik motor. Di depan elu ada truk tangki. Bocor. Kena kulit. Aman lah ya mestinya, paling juga bawa air atau cairan gak aneh-aneh. Tapi kok panas, melebuh, dan terbakar? Ternyata bawa zat kimia berbahaya tuh tangki. Kok bisa?
8) Mau jalan kaki di trotoar pas ujan. Ada selokan yang gak ketutup. Kejeblos. Hanyut.
9) Mau kerja di pabrik. Ambil kerja berbahaya di tempat smelter nikel. Pabrik kaya gini harusnya diawasin bener lah ya biar ada mitigasi. Yakin Insya Allah aman. Pabriknya meledak. Pulang tinggal nama.
10) Mau berangkat kerja. Di depan ada truk bawa barang. Banyak jembatan timbang di sana sini, mestinya gak akan over dimensi dan overload lah ya. Gak akan lolos tuh dari jembatan timbang. Truknya rem blong karena ODOL, ambruk, ketimpa. Tinggal nama.
11) Mau belajar lebih tinggi, jadi dokter spesialis. Di kampus kena bully. Depresi. Udah gak kuat lagi. Pulang tinggal nama.
***
Lebih parahnya lagi, keluarga para korban gak pernah dapat keadilan. Closure. Penutupan.
Jangankan menangkap dan menghukum siapa yang bertanggung jawab.
Bahkan sekadar penjelasan juga tidak.
Minta maaf apalagi.
Abai.
Diam.
Rakyat dikasih BPJS, pejabat dapat inhealth dan jasindo,
Rakyat dikasih sekolah zonasi, pejabat sekolah favorit sampai LN,
Rakyat dikasih transum yg seadanya, pejabat dapat mobil dinas dikawal ninu ninu
Masih ada penjajah, cuma beda warna kulitnya aja