“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
Ada satu kalimat indah yang bilang begini,
apa yang kita beri belum tentu kembali, tapi apa yang kita beri selalu menunjukkan siapa diri kita.
Dan jujur, kalimat ini menempel di kepala.
Karena ia menggeser pertanyaannya. Dari, “aku dapat apa?” menjadi, “tindakanku ini sebenarnya menggambarkan siapa diriku?”
Kita terbiasa menilai segalanya dari hasil.
Kalau kita memberi waktu, kita berharap ada balasannya. Kalau kita hadir untuk orang lain, kita berharap mereka juga hadir untuk kita. Saat harapan itu tidak terjadi, rasanya mudah sekali mengira kita salah hitung, atau merasa sudah memberi terlalu banyak.
Saat kita memilih sabar di momen yang menguji hati, itu menunjukkan sesuatu.
Saat kita menepati janji, padahal sedang repot dan rasanya tidak nyaman, itu juga menunjukkan sesuatu.
Saat kita peduli pada orang lain, murni karena memang peduli, tanpa agenda tersembunyi, itu pun menunjukkan sesuatu.
Ada usaha yang hilang tanpa tepuk tangan. Ada hubungan yang pudar tanpa penjelasan. Tapi itu tidak membuat kebaikan kita sia-sia. Itu justru membuatnya tulus.
Karena pada akhirnya, kita tidak selalu bisa mengatur apa yang akan kembali kepada kita. Tapi kita selalu bisa memilih apa yang keluar dari diri kita.
@archers774@tanyakanrl Mungkin ini sebagai tanda kasih dari Tuhan sebelum kamu terlanjur dengan dia. Pasti sakit banget, kesal, benci, dan menyedihkan. Tapi nder selepas ini kamu pasti dipertemukan dengan orang yang baik karena kamu layak dapatkan laki laki yang baik. Tetap semangat yaa.